JAGOSATU.COM - Ketua TP PKK Kota Bitung Ny Ellen Honandar Sondakh mengajak masyakat untuk memanfaatkan sampah rumah tangga untuk dijadikan kompos. Hal ini disampaikan saat membuka pelaksanaan pelatihan pembuatan kompos dari sampah rumah tangga oleh TP PKK Kota Bitung kerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup Kota Bitung bertempat di aula Kecamatan Aertembaga, Jumat (06/11/2026).
Pada kegiatan tersebut, masyarakat, khususnya kader PKK tingkat kecamatan dan kelurahan, diberikan pemahaman mengenai pentingnya memilah sampah sejak dari rumah tangga, sekaligus mengolah sampah menjadi sesuatu yang bermanfaat dan memiliki nilai ekonomi.
Ketua TP PKK Kota Bitung Ny Ellen Honandar Sondakh SE mengatakan, materi pelatihan yaitu edukasi menitikberatkan pada pengenalan tiga jenis sampah, yakni sampah organik, anorganik, serta sampah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun).
"Sampah organik yang berasal dari sisa makanan, potongan sayuran, tulang ikan, daun kering, hingga sisa bahan dapur lainnya dapat dipisahkan dan diolah menjadi pupuk kompos untuk menyuburkan tanaman," kata Ellen.
Masyarakat juga didorong memanfaatkan lahan pekarangan maupun wadah tanam seperti polybag untuk mengembangkan tanaman produktif di lingkungan rumah.
"Kegiatan ini merupakan upaya mengurangi persoalan sampah di Kota Bitung sehingga terus diperkuat melalui edukasi dan pemberdayaan masyarakat," ujarnya.
Dalam kesempatan itu, turut disiapkan bantuan bibit tanaman rica (cabai) untuk mendukung praktik pemanfaatan pupuk kompos sekaligus mendorong ketahanan pangan keluarga.
"Selain sampah organik, warga juga diberikan pemahaman mengenai pengelolaan sampah anorganik, seperti botol dan kemasan plastik bekas air mineral. Sampah tersebut tidak seharusnya langsung dibuang, melainkan dikumpulkan, dipilah, dan disimpan agar dapat dijual kembali kepada pengepul," jelas Ellen.
Ditambahkan, sampah plastik yang dikumpulkan secara rutin dapat memberikan tambahan penghasilan bagi masyarakat.
"Untuk sampah B3 seperti baterai bekas dan sisa obat-obatan harus dipisahkan karena mengandung bahan berbahaya yang memerlukan penanganan khusus," tegasnya.
Ellen juga menekankan persoalan sampah merupakan tanggung jawab bersama. Setiap orang diperkirakan menghasilkan sekitar setengah kilogram sampah setiap hari. Jika dikalikan dengan jumlah penduduk Kota Bitung yang mencapai lebih dari 200 ribu jiwa, volume sampah yang dihasilkan setiap hari tentu sangat besar.
"Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah daerah, terutama dalam penyediaan fasilitas pengangkutan dan tempat pembuangan akhir sampah," bebernya.
Bahkan, pengelolaan sampah juga membutuhkan anggaran besar, termasuk biaya kerja sama pembuangan sampah ke daerah lain.
Karena itu, masyarakat diajak mulai mengubah pola pikir dan kebiasaan dalam menangani sampah, terutama dengan mengurangi sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir melalui pengolahan langsung dari rumah tangga.
Untuk mempercepat proses pembuatan kompos, masyarakat disarankan membentuk kelompok kecil bersama tetangga atau lingkungan sekitar. Dengan cara tersebut, pengumpulan bahan organik dan proses pengolahannya dapat dilakukan secara bersama-sama.
"Apabila dikelola dengan baik, pupuk kompos diperkirakan dapat dihasilkan dalam waktu sekitar enam minggu hingga dua bulan," tandasnya
Kegiatan tersebut melibatkan masyarakat umum, sehingga edukasi tidak hanya berhenti pada kader PKK, tetapi dapat diterapkan secara luas di lingkungan keluarga dan masyarakat.(hry)