JAGOSATU.COM - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir menyatakan perlunya inovasi guna mengurangi impor bahan bakar minyak (BBM) seiring dengan pertumbuhan populasi di Indonesia.
Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah melalui kompetisi seperti Shell Eco-marathon Asia-Pasifik dan Timur Tengah 2023.
Hal ini diungkapkan oleh Erick di Sirkuit Internasional Pertamina Mandalika di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), Indonesia.
"Eksperimen menunjukkan bahwa satu liter BBM bisa menempuh jarak 1.800 kilometer.
Namun, sayangnya yang duduk di dalam (pengemudi) harus beratnya hanya 48 kg. Jadi, Pak Gubernur dan saya tidak bisa masuk.
Tapi, siapa tahu nanti kita berdoa, dengan berat badan 80 kg, masih bisa menempuh 1 liter untuk 1.800 km," ungkap Erick pada akhir pekan.
Erick menambahkan bahwa sebenarnya ada banyak inovasi dari anak-anak bangsa, tidak hanya dalam hal kendaraan hemat energi, terutama melalui ajang seperti ini.
Selama beberapa tahun terakhir, banyak inovasi yang telah dihasilkan.
Namun, masalahnya adalah banyak inovasi yang tidak berhasil diindustrialisasi.
"Baru sekarang kita memikirkan tentang industrialisasi.
Mengapa? Kita terjebak sebagai negara yang hanya mengirimkan bahan baku. Kuncinya adalah bagaimana inovasi ini dapat menjadi industrialisasi," tambah Erick, yang juga menjabat sebagai Ketua Umum PSSI.
Dibutuhkan dukungan dari pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk membangun ekosistem industrialisasi.
Mencapai industrialisasi tidak diragukan lagi akan menghadapi banyak tantangan.
Erick mengemukakan contoh tentang hilirisasi sumber daya alam yang didorong oleh pemerintahan Presiden Joko Widodo, namun menghadapi penolakan dari beberapa pihak.
"Semua orang tidak setuju. IMF tidak setuju. Uni Eropa tidak setuju," ujar Erick.
Erick berharap bahwa industrialisasi dapat terjadi di Indonesia melalui inovasi karya anak bangsa.
Oleh karena itu, jika terjadi industrialisasi, maka inovasi harus menjadi suatu hal yang matang.
Norman Koch, Global Manager Shell Eco-marathon, menjelaskan bahwa inovasi yang ada dalam kompetisi ini semuanya berasal dari ide-ide para pelajar.
Apakah inovasi tersebut akan dikembangkan dan diproduksi secara massal tergantung pada inovator tersebut.
"Kami sama sekali tidak mengambil hak kekayaan intelektual.
Mereka yang akan memiliki hak tersebut, dan kami hanya sebagai wadahnya," ujar Norman Koch.
Presiden Direktur dan Country Chair Shell Indonesia, Ingrid Siburian, juga mengungkapkan bahwa Shell Eco-marathon adalah wadah bagi para pelajar atau mahasiswa untuk saling terhubung.
Melalui acara ini, mereka dapat bertemu dengan peserta dari berbagai negara, pemerintah, dan mitra bisnis.
"Setelah itu, kita tidak membahas soal kepemilikan hak kekayaan intelektual. Itu sepenuhnya terserah mereka, karena yang kami sediakan hanyalah wadahnya," kata Ingrid.
Ingrid juga menegaskan bahwa kompetisi ini tidak hanya mendorong inovasi para pelajar di Indonesia, tetapi juga merupakan komitmen Shell dalam mendukung pencapaian Net Zero Emission (NZE) 2060.
Shell sendiri memiliki target yang lebih ambisius pada tahun 2050.(jpg)
Editor : Via Ponamon