Jagosatu.com – Harga minyak dunia melonjak setelah Amerika Serikat (AS) dan China sepakat memperpanjang “gencatan senjata” tarif selama 90 hari.
Kesepakatan ini berarti rencana kenaikan tarif impor antara kedua negara untuk sementara ditunda.
Menurut Reuters, Brent naik ke US$66,89 per barel dan WTI menjadi US$64,18 setelah kabar perpanjangan ini.
Buat yang belum tahu, Brent adalah salah satu patokan harga minyak dunia yang sering digunakan oleh pasar global.
Sementara itu, WTI atau West Texas Intermediate adalah jenis minyak mentah yang jadi acuan harga di AS.
Baca Juga: Tarif Baru AS Capai 100%, Pasar Global Mulai Panas, Tiongkok dan Jepang Paling Parah?
Lonjakan harga ini membuat banyak analis mulai memprediksi biaya bahan bakar akan ikut naik.
Dilansir dari Reuters, perpanjangan gencatan tarif ini memberi sinyal positif bagi hubungan dagang AS–China.
Hubungan dagang kedua negara sempat tegang karena saling menaikkan tarif impor sejak beberapa tahun lalu.
Perang dagang seperti ini biasanya bikin harga barang dan bahan baku naik di seluruh dunia.
Gencatan tarif artinya kedua pihak sepakat berhenti sementara menaikkan tarif agar negosiasi berjalan lancar.
Langkah ini membuat pelaku pasar optimis akan ada kesepakatan dagang yang lebih besar ke depannya.
Optimisme pasar ini yang akhirnya memicu kenaikan harga minyak di bursa internasional.
Menurut para ekonom, harga minyak sangat sensitif terhadap kabar geopolitik dan kebijakan perdagangan.
Jika hubungan dagang membaik, permintaan energi biasanya ikut naik karena aktivitas ekonomi meningkat.
Namun, kenaikan harga minyak juga bisa berdampak pada biaya produksi dan transportasi di banyak negara.
Bagi negara importir minyak seperti Indonesia, hal ini bisa membuat harga BBM berpotensi naik.
Sebaliknya, negara pengekspor minyak bisa mendapat keuntungan lebih dari harga yang tinggi.
Selain itu, stabilitas politik dan ekonomi global juga sangat memengaruhi harga minyak dunia.
Banyak pihak berharap perpanjangan gencatan tarif ini bisa jadi awal dari berakhirnya perang dagang AS–China.
Tapi kalau negosiasi gagal, bukan tidak mungkin tarif akan naik lagi dan pasar kembali bergejolak.
(J)
Editor : ALengkong