Arkeologi Daerah Ekonomi Ekonomi & Bisnis Esport Gaya Hidup Global Headline Hiburan Hukum & Kriminal Kesehatan Lifestyle & Hiburan Nasional Olahraga Pemerintahan Politik Sains & Teknologi Teknologi Wisata Wisata & Kuliner

Merasa Terwakili di Dunia Game? Ini Alasan Banyak Pemain Kini Pilih Karakter yang Mirip Diri Sendiri!

ALengkong • 2025-07-31 19:58:05

The Sims 4 (Foto: EA)
The Sims 4 (Foto: EA)

Jagosatu.com - Dunia game sekarang bukan lagi soal menang atau kalah, tapi juga soal bagaimana pemain bisa merasa "terlihat" dan "terwakili" dalam dunia virtual.

Banyak pemain sekarang memilih avatar atau karakter dalam game yang mencerminkan siapa mereka sebenarnya di dunia nyata.

Beberapa orang memilih karakter yang mirip mereka dari segi warna kulit, bentuk tubuh, bahasa, bahkan orientasi gender.

Hal ini membuat identitas dalam game jadi hal yang sangat penting bagi banyak pemain di seluruh dunia.

Menurut studi dari Cyberpsychology, identifikasi pemain terhadap avatar bisa terbagi menjadi tiga jenis: mirip dengan diri asli, karakter ideal, dan karakter eksplorasi – di mana pemain ingin mencoba identitas yang berbeda dari keseharian mereka.

Fenomena ini disebut avatar identification, yaitu saat pemain merasa terhubung secara emosional dengan karakter virtual yang mereka mainkan.

Misalnya, dalam game The Sims 4, pemain bisa bebas menentukan gaya rambut, bentuk badan, gender, bahkan suara karakternya.

Hal yang sama juga terlihat dalam Cyberpunk 2077 dan Baldur's Gate 3, yang memungkinkan pemain memilih karakter non-biner atau yang tidak mengikuti standar gender konvensional.

Game lokal seperti Wardeka juga mulai ikut mengangkat karakter-karakter yang mencerminkan budaya, keyakinan, dan nilai-nilai lokal Indonesia.

Hal ini menjadi angin segar karena sebelumnya banyak game luar negeri yang hanya menampilkan karakter kulit putih atau budaya barat saja.

Baca Juga: Aksi dan Budaya Bersatu di Wardeka, Game Shooter Karya Anak Bangsa

Menurut laman People.com, pengembang The Sims sengaja menciptakan game agar semua orang di dunia bisa merasa "terwakili".

Efek lain yang muncul dari pemilihan avatar ini disebut Proteus Effect, yaitu saat perilaku pemain dipengaruhi oleh tampilan avatar yang mereka gunakan.

Contohnya, jika seorang pemain menggunakan avatar dengan tampilan kuat dan percaya diri, mereka cenderung merasa lebih berani di dunia nyata.

Di komunitas gamer, banyak juga yang merasa lebih nyaman dan bisa jadi diri sendiri saat bermain sebagai karakter yang mencerminkan identitas mereka.

Menurut diskusi di Reddit, pemain keturunan Afrika-Amerika merasa lebih terhubung saat memainkan karakter Miles Morales daripada Peter Parker.

Game seperti Celeste juga berhasil mewakili pemain transgender lewat tokoh utamanya, Madeline, meskipun cerita game tidak secara eksplisit membahas soal identitas gender.

Kehadiran karakter-karakter seperti ini membuat banyak pemain merasa lebih diterima, dimengerti, dan tidak sendirian.

Namun, tak sedikit juga game yang hanya memasukkan karakter minoritas tanpa latar belakang yang kuat, yang disebut sebagai representasi simbolik atau tokenisme.

Menurut Polygon, karakter Karlach dari Baldur's Gate 3 dianggap sukses karena tidak hanya sekadar hadir, tapi juga memiliki cerita yang menyentuh.

Pengembang Wardeka juga mencoba mengikuti langkah ini dengan merancang karakter yang bukan hanya tampil beda, tapi juga punya cerita yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Hal ini membuktikan bahwa game bisa jadi sarana refleksi, tempat belajar, dan ruang aman untuk mencari jati diri.

Ketika pemain merasa "terlihat" dalam dunia virtual, mereka jadi lebih nyaman, percaya diri, dan terhubung dengan cerita yang mereka mainkan.

Game bukan lagi sekadar pelarian, tapi juga ruang untuk menjadi versi terbaik dari diri sendiri. (KT)

Editor : ALengkong
#wardeka #Karakter Game Inklusif #Identitas dalam Game #Game Representatif #Avatar dan Pemain #Proteus Effect