Arkeologi Daerah Ekonomi Ekonomi & Bisnis Esport Gaya Hidup Global Headline Hiburan Hukum & Kriminal Kesehatan Lifestyle & Hiburan Nasional Olahraga Pemerintahan Politik Sains & Teknologi Teknologi Wisata Wisata & Kuliner

Ketagihan Game Itu Nyata: Otak Kita Dirancang untuk Terjebak?

ALengkong • 2025-08-01 23:06:23

(Foto: rawpixel.com / Roungroat)
(Foto: rawpixel.com / Roungroat)

Jagosatu.com - Banyak orang bilang game cuma hiburan, tapi nyatanya game bisa bikin seseorang ketagihan dan sulit berhenti main.

Game zaman sekarang seperti Mobile Legends, Valorant, sampai yang lokal seperti Wardeka dirancang dengan sangat pintar agar pemain terus kembali bermain.

Hal ini terjadi karena game memanfaatkan kerja otak kita, terutama zat kimia bernama dopamin.

Dopamin adalah zat di otak yang membuat kita merasa senang saat mendapatkan sesuatu yang kita suka.

Menurut The Guardian, dopamin akan dilepaskan setiap kali pemain menang atau dapat hadiah dalam game.

Itu sebabnya kita merasa puas setelah menang dan langsung ingin main lagi biar bisa menang lebih banyak.

Game biasanya memakai sistem bernama compulsion loop, yaitu pola bermain yang terus berulang: harapan → usaha → hadiah.

Setiap kali kamu dapat hadiah dari game, otakmu merasa senang dan ingin mengulang lagi.

Contohnya saat dapat skin langka, naik rank, atau buka peti berisi item langka.

Sistem ini juga dipakai oleh game-game seperti Genshin Impact, FIFA, dan bahkan Wardeka dengan berbagai bonus harian dan event terbatas.

Baca Juga: Wardeka Pecah! Warbiasa Governor League 2025 Buktikan Game Lokal Bisa Gegerkan Indonesia Timur

Menurut The Australian, sistem loot box atau gacha dalam game bisa memicu rasa ketagihan yang mirip dengan judi.

Hal ini bisa membuat pemain merasa harus terus mencoba sampai dapat hadiah yang diinginkan.

Yang lebih parah, kadang pemain rela beli item pakai uang sungguhan hanya untuk dapat item digital.

WHO atau Badan Kesehatan Dunia sudah resmi mengakui Gaming Disorder sebagai gangguan mental sejak 2019.

Gangguan ini terjadi saat orang terus bermain game sampai mengganggu sekolah, tidur, atau hubungan sosial.

Beberapa orang bahkan bisa marah, stres, atau cemas saat tidak bisa bermain.

Sayangnya, banyak game memang dirancang supaya sulit ditinggalkan dan bikin pemain merasa selalu ada yang harus dikejar.

Misalnya lewat misi harian, battle pass, dan update rutin yang bikin pemain harus terus aktif setiap hari.

Tapi tidak semua game buruk, karena ada juga yang bisa mengajarkan kerja sama, berpikir cepat, atau strategi.

Game seperti Minecraft atau bahkan mode strategi di Wardeka bisa mengasah kreativitas dan logika.

Yang penting adalah tahu batas waktu, tahu kapan harus istirahat, dan tidak terlalu larut sampai lupa kewajiban.

Kalau kamu merasa main game sudah mulai ganggu sekolah atau tidur, itu tandanya kamu harus istirahat dulu.

Game boleh jadi hiburan, tapi kita harus tetap jadi pemain yang bijak, bukan pemain yang dikendalikan game.

(KT)

Editor : ALengkong
#wardeka #psikologi #game #gaming disorder #anak muda #Dampak Teknologi