Anjurkan Dokter Anak, Berikut Kiat Mengurangi Paparan BPA pada Perangkat Makan Anak.

Aryanti Sasamu • Dipublikasikan Rabu, 2 Agustus 2023 | 14:07 WIB
Ilustrasi perangkat makan plastik.
Ilustrasi perangkat makan plastik.

JAGOSATU.COM - Dokter Spesialis Anak Neonatologist dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dr. Daulika Yusna, SpA, memberikan kiat untuk mengurangi paparan bahaya kandungan bisphenol A (BPA) pada plastik yang digunakan dalam perangkat makan anak.

Hindari penggunaan plastik polikarbonat yang mengandung BPA. Gantilah dengan produk dari stainless steel atau kaca yang lebih aman, kata Daulika dalam keterangannya yang diterima di Jakarta, pada hari Selasa.

Selain itu, Daulika juga menyarankan untuk menghindari memanaskan atau merebus wadah plastik yang mengandung BPA, karena zat berbahaya ini mudah terlepas saat plastik terpapar panas.

Gunakan produk yang memiliki label 'BPA-Free' atau bebas BPA, seperti botol minum dan botol bayi, lanjut Daulika.

Lebih lanjut, Daulika mengimbau untuk mengurangi atau bahkan menghindari penggunaan produk kemasan galon plastik air minum secara berulang, karena risiko migrasi BPA akan meningkat akibat penggunaan berulang, terpapar sinar matahari, dan pemanasan selama proses pencucian.

Baca Juga: Peringatan Bahaya, Kandungan BPA dalam Plastik Meningkatkan Risiko Gangguan Reproduksi.

Terakhir, ia menegaskan pentingnya patuh terhadap aturan dan regulasi pemerintah terkait penggunaan BPA pada produk tertentu. Beberapa negara telah mengeluarkan larangan terhadap penggunaan BPA dan mengklasifikasikannya sebagai zat berbahaya.

Produk-produk berbahan dasar plastik jika terkena panas atau dicuci berulang kali bisa memicu keluarnya zat kimia berbahaya yang akan mencemari makanan atau minuman anak-anak kita, ungkap Daulika.

BPA adalah senyawa kimia yang sering digunakan dalam produksi plastik polikarbonat. Meskipun memiliki manfaat sebagai pengeras plastik yang membuat kemasan makanan dan minuman menjadi lebih tahan lama dan dapat digunakan berulang kali, BPA juga menjadi masalah serius karena kemampuannya meniru hormon estrogen dalam tubuh.

Dalam dunia kesehatan, BPA dianggap berbahaya karena bersifat sebagai "endocrine disruptor" atau zat yang mengganggu sistem endokrin. Zat ini dapat merusak keseimbangan hormon dalam tubuh, termasuk hormon reproduksi, dan dapat mengancam kesuburan pria dan wanita.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah mengeluarkan temuan lapangan mengenai terlampauinya ambang batas BPA yang berisiko bagi manusia pada kemasan galon berbahan polikarbonat di berbagai kota di Indonesia. Studi di Korea Selatan juga telah menunjukkan korelasi kuat antara tingginya paparan BPA dengan peningkatan kasus infertilitas pada manusia.

Baca Juga: Solusi Harapan bagi Pasien, Pulmonolog Menyatakan Kanker Paru Stadium Dini Dapat Ditangani Melalui Operasi.

Sebuah telaah hasil riset yang diterbitkan di The American Journal of Biochemistry and Biotechnology pada 2021 menunjukkan bahwa BPA dapat mengurangi produksi testosteron selama tahap perkembangan tubuh laki-laki, menyebabkan penyakit prostat, memengaruhi kualitas sperma, dan mengganggu sumsum tulang belakang hipotalamus-hipofisis-testis (hypothalamic-pituitary-testicular axis).

Sementara itu, dalam publikasi yang sama, BPA juga telah dilaporkan terkait dengan infertilitas dan memiliki efek negatif pada berbagai aspek sistem reproduksi wanita.(antara)

 

Editor : Aryanti Sasamu
bahaya plastik kesehatan anak plastik bpa