JAGOSATU.COM - Situs Lantai Segi Enam di Trowulan, Jawa Timur, merupakan saksi bisu dari kejayaan peradaban Majapahit yang kini terungkap dengan temuan-temuan arkeologisnya.
Dalam ekskavasi yang dilakukan, penemuan miniatur rumah kuno dan hamparan lantai segi enam yang unik memberikan gambaran yang jelas tentang arsitektur dan pola hunian pada masa itu.
Baca Juga: Misteri Sejarah Candi Adan-Adan, Jejak Peradaban Kuno Nusantara
, dengan susunan bata merah yang rapat, memberikan gambaran yang menarik tentang sistem paving block yang telah digunakan ratusan tahun lalu.
Selain menjadi penanda kehadiran peradaban Majapahit, situs ini juga mengungkapkan keterampilan teknis yang luar biasa dari nenek moyang kita.
Dengan ditemukannya susunan lantai segi enam dan segi empat, serta struktur bata yang berbeda-beda, kita dapat melihat betapa canggihnya sistem konstruksi yang digunakan pada masa itu.
Denah bangunan berpola geometris dan berbentuk persegi panjang menunjukkan tingkat ketertiban dan kecanggihan pembangunan pada masa lalu.
Keberadaan situs lantai segi enam ini bukan hanya sebagai saksi bisu sejarah, tetapi juga sebagai inspirasi bagi peneliti dan masyarakat untuk lebih menghargai dan memahami warisan budaya yang telah ditinggalkan oleh nenek moyang kita.
Situs ini menjadi titik penting dalam upaya merekonstruksi sejarah peradaban Majapahit dan memberikan wawasan yang berharga tentang perkembangan teknologi dan seni bangunan pada masa lalu.
Dengan menelusuri jejak peradaban kuno di Trowulan, kita tidak hanya belajar tentang masa lalu, tetapi juga menghargai warisan budaya yang kaya dan beragam.
Baca Juga: Keajaiban Misteri Arkeologi Indonesia, Eksplorasi Gunung Padang dan Gua Kontilola Buah
Sebagai bagian dari budaya Nusantara, penting bagi kita untuk meninggalkan perselisihan dan menjalin persaudaraan dalam menghormati dan merawat warisan sejarah bangsa.
Dengan begitu, kita dapat menjadi contoh dalam pengembangan segala aspek kehidupan masyarakat, sambil tetap menghormati dan merayakan warisan budaya yang telah ada sejak ribuan tahun lalu. (***)
Editor : Alfianne Lumantow