Keadaan Memburuk, Prancis Mulai Mengungsikan Warganya dari Niger

Alfianne Lumantow • Dipublikasikan Rabu, 2 Agustus 2023 | 08:32 WIB
Aparat keamanan Niger berusaha membubarkan demonstran pro-junta militer yang berkerumun di luar Kedutaan Besar Prancis di Niamey, ibu kota Niger, pada 30 Juli 2023.
Aparat keamanan Niger berusaha membubarkan demonstran pro-junta militer yang berkerumun di luar Kedutaan Besar Prancis di Niamey, ibu kota Niger, pada 30 Juli 2023.

JAGOSATU.com - Prancis pada hari Selasa tengah mempersiapkan operasi evakuasi untuk ratusan warga Prancis dan Eropa yang berada di Niger, mengingat semakin memburuknya situasi keamanan di negara Afrika Barat tersebut.

Pada hari Senin, negara tetangga Niger yaitu Mali [Name redacted]ina Faso mengeluarkan pernyataan yang menyatakan bahwa campur tangan dari luar untuk mengembalikan pemerintahan yang digulingkan di Niger akan dianggap sebagai tindakan perang.

Kelompok militer junta merebut kekuasaan dari Presiden terpilih secara demokratis, Mohamed Bazoum, serta mengambil alih pemerintahan pada hari Rabu pekan lalu.

Tindakan kudeta ini merupakan insiden ketujuh dalam tiga tahun terakhir di wilayah Afrika Barat dan Tengah yang melibatkan perebutan kekuasaan oleh militer.

ECOWAS, organisasi regional untuk wilayah Afrika Barat, pada Minggu pekan lalu mengancam akan menggunakan tindakan militer guna mengembalikan Presiden Bazoum ke tampuk kekuasaan jika pasukan Niger tidak melakukannya dalam waktu satu pekan.

Namun, sebaliknya, Mali [Name redacted]ina Faso, yang keduanya juga diperintah oleh kelompok militer junta, mengumumkan komitmen mereka untuk membantu menjaga kestabilan Niger.

Situasi yang semakin berisiko ini mendorong beberapa negara Eropa untuk mulai mempertimbangkan evakuasi warganya. Spanyol mengumumkan rencananya untuk mengungsikan sekitar 70 warganya, sementara Italia sedang merencanakan penerbangan repatriasi.

Jerman juga mendesak warganya untuk turut serta dalam penerbangan evakuasi yang disediakan oleh Prancis.

Tindakan kudeta ini telah mengguncang wilayah Sahel, yang saat ini tengah berjuang melawan pemberontakan kelompok militan. Niger sebelumnya dikenal sebagai salah satu mitra Barat yang paling stabil di wilayah tersebut.

Tindakan kudeta ini juga muncul di tengah meningkatnya sentimen anti-Prancis di kawasan tersebut. Sebagian penduduk setempat menyatakan ketidakpuasan terhadap campur tangan Prancis dalam urusan Niger, sambil mendorong untuk menjalin hubungan lebih dekat dengan Rusia.

Pemimpin militer baru di Niger terus melakukan penangkapan terhadap politisi senior negara tersebut, sambil memperingatkan pihak asing agar tidak mencoba untuk memulihkan kekuasaan Presiden Bazoum, yang saat ini masih ditahan di tempat persembunyiannya.

Catherine Colonna, Menteri Luar Negeri Prancis, menjelaskan, "Mengingat situasi kudeta yang sedang terjadi di Niger dan semakin memburuknya situasi tersebut, kami telah memutuskan untuk mengamankan evakuasi warga Prancis yang berkeinginan untuk meninggalkan Niger."

Dia memperkirakan bahwa ratusan warga negara Prancis serta beberapa warga negara Uni Eropa lainnya akan diungsikan melalui penerbangan evakuasi dalam waktu 24 jam.

Informasi dari Flightradar menunjukkan bahwa pesawat militer Prancis telah mendarat di bandara Niamey sekitar pukul 19.07 WIB dan dijadwalkan akan berangkat sekitar pukul 22.10 WIB.

Meskipun Prancis, Amerika Serikat, Jerman, dan Italia memiliki pasukan di Niger untuk misi kontra-pemberontakan dan pelatihan, belum ada pengumuman resmi mengenai apakah pasukan ini akan ditarik kembali.

Colonna menegaskan bahwa Prancis telah menjalin komunikasi dengan pihak yang mengontrol Niger guna memastikan kelancaran proses evakuasi. Namun, hal ini tidak berarti Prancis secara resmi mengakui junta militer.

Sikap Tegas ECOWAS

ECOWAS mengambil sikap tegas dalam kasus Niger, setelah mengalami kesulitan dalam membujuk pemerintahan militer di Mali, Burkina Faso, dan Guinea - yang juga merupakan anggota ECOWAS - untuk mengembalikan demokrasi di Niger.

Pernyataan resmi dari Mali [Name redacted]ina Faso pada Senin malam mengindikasikan bahwa kedua negara ini berseberangan dengan anggota-anggota ECOWAS lainnya, yang terdiri dari total 15 negara.

"Mali dan Burkina Faso menegaskan bahwa campur tangan militer di Niger akan dianggap sebagai tindakan perang terhadap Burkina Faso dan Mali," demikian bunyi pernyataan bersama kedua negara ini yang disiarkan melalui stasiun televisi nasional masing-masing.

Mereka juga mengancam akan mundur dari ECOWAS dan akan mengambil "langkah-langkah pertahanan yang wajar" untuk membantu tentara dan rakyat Niger jika ECOWAS mengintervensi negara tersebut. Para pemimpin militer di Guinea juga menyatakan solidaritas dengan Niger.

Yevgeny Prigozhin, pemimpin kelompok tentara bayaran Wagner Group dari Rusia, pada pekan sebelumnya secara positif merespons kudeta di Niger. Dia menyatakan bahwa pasukannya siap untuk memulihkan ketertiban.

Sementara itu, pemerintah Rusia sendiri mengeluarkan pernyataan yang mengekspresikan keprihatinan mendalam terhadap situasi di Niger. Kremlin mengimbau agar tatanan konstitusional segera dipulihkan di negara tersebut.

Niger sendiri merupakan produsen uranium terbesar ketujuh di dunia. Logam radioaktif ini memiliki berbagai kegunaan, termasuk untuk energi nuklir dan pengobatan kanker. (Antara)

Editor : Alfianne Lumantow
Prancis Afrika Mohamed Bazoum niger Eropa