Arkeologi Daerah Ekonomi Ekonomi & Bisnis Esport Gaya Hidup Global Headline Hiburan Hukum & Kriminal Kesehatan Lifestyle & Hiburan Nasional Olahraga Pemerintahan Politik Sains & Teknologi Teknologi Wisata Wisata & Kuliner

Tugas Berat Mojtaba setelah Kehilangan Ayah, Ibu, Istri, dan Anak

Pratama Karamoy • 2026-03-10 12:16:33

Mojtaba Khamenei
Mojtaba Khamenei

PADA 28 Februari lalu, hidup Mojtaba Khamenei berakhir. Akibat serangan Israel-Amerika Serikat (AS), dia tak hanya kehilangan sang ayah Ayatollah Ali Khamenei pada hari itu. Tapi, juga istri, anak lelaki, adik perempuan, dan keponakan. Sang ibu, Mansoureh Khojasteh Bagherzadeh, terluka parah akibat serangan tersebut. Dua hari kemudian dia juga berpulang.

Di tengah duka yang berlarut-larut, pria kelahiran 8 September 1969 tersebut harus mengemban tugas matahari menjadi Pemimpin Tertinggi Iran saat negaranya harus bertempur melawan Israel-AS. Rentang masa sedih dan mudanya juga dihabiskan di masa-masa pergolakan. Mulai Revolusi Islam 1979 dengan sang ayah menjadi salah seorang tokoh sampai Perang Iran-Irak 1980-1988, ketika dia juga ikut angkat senjata.

Semua pilar kekuatan Iran juga langsung bersumpah mematuhi sepenuhnya sang Pemimpin Tertinggi. "Apa saja yang diperintahkan Pemimpin Tertinggi akan kami jalankan sepenuh hati," bunyi pernyataan resmi Garda Revolusi, seperti dikutip dari Kantor Berita Tasnim.

Demikian pula dengan Presiden Masoud Pezeshkian. "Keputusan yang sangat tepat dari Majelis Pakar ini menandai era baru Iran yang lebih kuat dan penuh kekuatan," kata Pezeshkian, juga dikutip dari Tasnim.

 

Ayatollah Ketiga

Mojtaba menjadi Pemimpin Tertinggi Iran ketiga setelah Ayatollah Ruhollah Khomeini dan Ayatollah Ali Khamenei. Selama ini Mojtaba lebih banyak membangun tugasnya dari balik layar.

Dia sempat bergabung dengan Garda Revolusi dan bertugas dalam Batalyon Habib ibn Mazahir. Pengalaman tersebut membuatnya mampu membangun jaringan dengan sejumlah tokoh yang kemudian menempati berbagai posisi penting di lembaga keamanan dan intelijen Iran.

Meski jarang muncul di ruang publik dan tak pernah memegang jabatan publik, Mojtaba dikenal memiliki pengaruh kuat di lingkar kekuasaan. Sejumlah analis menggambarkan sosoknya sebagai figur mumpuni namun berpengaruh dalam politik Iran.

Kedekatan pergaulannya di Kota Suci Qom dan dengan IRGC juga menjadi faktor penting dalam karier politiknya. Pasukan elite tersebut selama ini dipandang sebagai salah satu institusi paling kuat dalam sistem politik dan keamanan Iran.

Namanya mulai mencuat dalam Pemilihan Presiden 2005 ketika Mahmoud Ahmadinejad secara mengejutkan menjadi pemenang. Sejumlah pengamat menyebut Mojtaba berperan penting dalam kemenangan Ahmadinejad.

 

Baca Juga: Serangan ke Bahrain-Israel Kado Ayatollah Baru Iran

 

Trump Tak Senang

Menewaskan seorang Khamenei tetapi yang menggantikan juga Khamenei tentu saja mengecewakan AS dan Israel. Padahal, mengganti rezim menjadi salah satu narasi yang sempat diapungkan sebagai alasan menyerbu Iran, meski belakangan disangkal Gedung Putih.

"Saya tidak senang," kata Trump ketika dimintai tanggapan.

Israel Katz, menteri pertahanan Israel, juga sudah melempar ancaman. Dia menyebut bahwa siapa pun yang menggantikan Khamenei bakal menjadi target untuk dieliminasi. (lyn/ttg/jawa pos)

Editor : Pratama Karamoy
#global