Arkeologi Daerah Ekonomi Ekonomi & Bisnis Esport Gaya Hidup Global Headline Hiburan Hukum & Kriminal Kesehatan Lifestyle & Hiburan Nasional Olahraga Pemerintahan Politik Sains & Teknologi Teknologi Wisata Wisata & Kuliner

Putin Telepon Trump, Minta Perang Dihentikan

Pratama Karamoy • 2026-03-11 12:33:00

JEJAK GEMPURAN: Pasukan Israel mengecek kendaraan yang hancur karena serangan Iran di Bat Yam, bagian selatan Tel Aviv (9/3).
JEJAK GEMPURAN: Pasukan Israel mengecek kendaraan yang hancur karena serangan Iran di Bat Yam, bagian selatan Tel Aviv (9/3).

TEHERAN – Gerakan untuk menghentikan perang di Timur Tengah makin kuat. Sejumlah negara mulai melakukan lobi-lobi politik ke Amerika Serikat (AS) dan Iran. Bahkan, Presiden Rusia Vladimir Putin secara diam-diam telah menghubungi Presiden AS Donald Trump.

Dilansir dari TRT World, Putin dan Trump telah berkomunikasi melalui sambungan telepon. Salah satu yang disampaikan Putin adalah permintaan agar perang dengan Iran segera disudahi. Telepon selama satu jam itu dilakukan di hari yang sama ketika Trump sedang bermain golf. "Penekanan diberikan pada situasi seputar konflik dengan Iran dan negosiasi bilateral yang sedang berlangsung dengan perwakilan Amerika Serikat untuk menyelesaikan masalah Ukraina," kata penasihat diplomatik Putin, Yuri Ushakov.

 

Trump membenarkan telah berkomunikasi dengan Putin. Dia mengakui, Putin bermaksud menawarkan bantuan agar perang dengan Iran segera berakhir. "Saya katakan ke Putin, kalau ingin membantu, hentikan dulu perang dengan Ukraina," kata Trump.

Bukan hanya Rusia yang bergerak untuk mendukung gencatan senjata. Tiongkok dan Prancis juga sudah menghubungi petinggi Iran. Hal itu diakui Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi. Dia menyatakan, Tiongkok, Rusia, dan Prancis sudah menghubungi Teheran untuk membahas kemungkinan gencatan senjata. Namun, Iran tidak serta merta setuju. "Syarat pertama kami untuk gencatan senjata adalah agresi tersebut tidak boleh diulangi," kata Gharibabadi, dikutip dari Anadolu Agency.

 

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menegaskan, bukan Iran yang memulai perang. Tapi AS dan Israel. Dia menyatakan bahwa konflik justru terjadi saat pihaknya melakukan negosiasi dengan Amerika. "Kita berada di hari ke sebelas agresi militer oleh Amerika Serikat dan rezim Zionis. Kita tidak memulai perang ini," tegasnya, dilansir dari Iran International. Dia menyebut, sekarang fokus Iran adalah mempertahankan negara. "Agresi militer sedang berlangsung. Dalam situasi ini, hampir tidak ada ruang untuk membicarakan hal lain selain pertahanan," katanya.

Sementara itu, Israel tampaknya belum ingin mengakhiri perang. Gulf News menyebutkan, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memperingatkan Iran bahwa serangan militer negaranya belum selesai. Dia mengklaim perang itu berhasil melemahkan kepemimpinan ulama di Iran. "Aspirasi kami adalah membawa rakyat Iran untuk melepaskan diri dari belenggu tirani. Tetapi tidak diragukan lagi bahwa dengan tindakan yang telah diambil sejauh ini, kami sedang menghancurkan 'tulang tunggang' mereka dan kami belum selesai," kata Netanyahu.

 

Baca Juga: Tugas Berat Mojtaba setelah Kehilangan Ayah, Ibu, Istri, dan Anak

 

Minta Selat Hormuz Dibuka Lagi

Presiden AS Donald Trump juga memperingatkan Iran agar tidak mengganggu jalur pasokan minyak dunia melalui Selat Hormuz. Dia mengancam akan melancarkan serangan dengan skala yang tidak terprediksi jika Teheran mencoba memblokade jalur vital tersebut. "Jika Iran melakukan hal itu, mereka akan dihantam pada level yang jauh lebih keras," tutur Trump.

Namun, ancaman Trump tidak membuat korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) keder. Mereka juga membantah jika militer Iran dianggap sudah lemah. Mereka memamerkan program rudalnya, telah dihancurkan. Untuk membuktikannya, IRGC terus mengerahkan proyektil dalam jumlah yang lebih besar dan dengan jangkauan yang lebih jauh dari satu ton.

Serangan besar itu merupakan balasan dari aksi militer Israel yang membombardir Teheran pada Senin malam. Dilansir dari Free Press Kashmir, serangan pada Senin malam itu membuat sedikitnya 40 warga Iran tewas. (lyn/oni/jawa pos)

Editor : Pratama Karamoy
#global