TEHERAN – Kasra Naji, reporter BBC di Tel Aviv, menggambarkan bagaimana ibu kota Israel itu seperti kota mati pada Selasa (10/3) malam lalu. Jalanan sepi, toko-toko tutup, dan warga berdesakan di bunker. ”Warga sipil tak tahan dengan situasi ini,” kata Naji.
Jurnalis lain dari seluruh televisi Spanyol yang juga berada di bunker menyebut, yang paling membuat warga cemas adalah adanya dua ledakan besar pada Selasa malam itu, tetapi sirine tanda bahaya tak berbunyi.
Itu artinya sistem pertahanan Negeri Yahudi tersebut tak berfungsi. Hal itu terlepas dari hujan drone dan misil yang ditembakkan Iran dan Hizbullah yang berbasis di Lebanon. Dan ledakan besar tadi berasal dari misil Hizbullah.
"Bahkan juru bicara IDF (Pasukan Pertahanan Israel) Brigjen Effie Defrin juga ikut bersembunyi di bunker," kata jurnalis televisi tersebut, seperti diunggah akun X Furkan Gozukara.
Disisi lain, Amerika Serikat (AS) hampir tiap hari sejak bersama Israel memerang Iran pada 28 Februari lalu harus menolak permintaan pengawalan tanker pengangkut minyak yang hendak melintas di Selat Hormuz. Sebab, mereka tahu risikonya sangat besar, yakni bakal menjadi sasaran empuk Iran yang mengontrol selat sempit penghubung Teluk Persia dengan Laut Arab tersebut.
Padahal, beberapa hari lalu Presiden AS Donald Trump dengan mulurnya sesumbar akan memerintahkan pasukannya mengawal tanker melewati Selat Hormuz. "Jika waktunya tiba dan diperlukan, Angkatan Laut AS dan para rekan akan mengawal tanker melewati Selat Hormuz," kata Trump dari Florida, Senin (9/3).
Baca Juga: Soal Akhir Perang, Trump Kembali Plin-plan
Korban Berjatuhan
Total juga ada sekitar 140 tentara AS yang terluka akibat serangan Iran ke pangkalan-pangkalan militer mereka di kawasan Teluk. Beberapa di antaranya dalam kondisi kritis. Sebelumnya, sudah ada delapan serdadu Negeri Paman Sam itu yang tewas. Al Jazeera juga melansir, sebanyak 13 warga Israel tewas dan 2.000 lainnya terluka.
Isu yang diakui pemerintah Israel. Sebab, kesaksian sejumlah jurnalis asing yang bertugas di Tel Aviv menyebut, rezim Benjamin Netanyahu menempatkan sensor sangat ketat. Semua hasil liputan harus disetor ke mereka dulu sebelum tayang.
Muncul kabar bahwa Washington DC dan Tel Aviv tengah kasak-kusuk mencari exit strategy tanpa harus kehilangan muka. The New York Times juga menurunkan artikel tentang bagaimana AS dan Israel salah perhitungan sebelum menyerang Iran.
Peningkatan Serangan
Beberapa negara pun kini sudah didekati AS untuk diminta menjadi mediator. Salah satunya Turki. Namun, Teheran sudah secara terbuka menyatakan, momentum gencatan senjata. Mereka kapok karena sudah dua kali diserang saat sedang bernegosiasi.
Kalau pun mau maju ke meja perundingan, Iran mengajukan syarat sangat ketat. Ada tujuh poin, di antaranya harus rilisnya aset dan disetujui Kongres AS sehingga ke depan tak akan ada lagi serangan seperti sekarang. Lalu penarikan semua pasukan AS dari kawasan Teluk Persia dan Israel harus menarik tentaranya dari Lebanon.
Di sisi lain, Iran juga meningkatkan efektivitas serangan rudal ke wilayah Israel dengan menggunakan cluster munitions atau bom tandan. Penggunaan itu disampaikan oleh IDF Home Front Command, seperti dilansir dari The Jerusalem Post. Sebaran bom tersebut bikin daya hancur lebih kecil dibanding satu hulu ledak besar. Namun, efektivitasnya mematikan karena sepihan bom dapat menghantam banyak titik sekaligus.
Martin Simpson, mantan penasihat pertahanan Inggris dan analis militer Timur Tengah, makin menyebut, Iran masih menyimpan persenjataan ampuh lainnya. Senjata-senjatanya yang dimaksud antara lain rudal jelajah, pengebom, dan ranjau. "Iran berpotensi memiliki kemampuan untuk meningkatkan eskalasi secara jauh lebih luas dengan cadangan yang dimilikinya saat ini," kata Simpson kepada Wall Street Journal. (lyn/ttg/jawa pos)
Editor : Pratama Karamoy