TEHERAN – Amerika Serikat (AS) mengumumkan perpanjangan gencatan senjata dengan Iran, tetapi tidak menyebutkan sampai kapan. Iran malah lebih tegas lagi dengan menolak melanjutkan perundingan di Islamabad, Pakistan. Teheran beralasan bahwa Washington DC tidak menunjukkan itikad baik untuk berdamai. Blokade pelabuhan Iran yang dilakukan AS menjadi salah satu contohnya.
Penasihat strategis Parlemen Iran, Mahdi Mohammadi, menilai perpanjangan gencatan senjata hanya merupakan taktik AS. "Ini taktik untuk mengulur waktu," kata Mohammadi, seperti dikutip dari Xinhua kemarin (23/4).
Dia menambahkan bahwa tekanan berkelanjutan di laut dapat memicu respons yang lebih tegas dari Iran. "Iran tidak akan membiarkan tekanan terus berlangsung tanpa respons," imbuhnya.
Pada 11 April lalu, perwakilan kedua negara berunding di Islamabad. Namun, perundingan yang berlangsung 21 jam itu gagal membuahkan kesepakatan konkret.
Dari Washington DC, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa tidak ada urgensi untuk segera mengakhiri konflik. "Saya tidak terburu-buru. Saya ingin kesepakatan yang baik," kata Trump, seperti dikutip BBC.
Baca Juga: Peserta Difabel Ikut UTBK dengan Fasilitas Khusus
Tetap Buka Ruang Dialog
Iran pun tetap menutup Selat Hormuz. Garda Revolusi juga telah menyita dua kapal kargo yang nekat melintas.
Nour News, media yang terafiliasi dengan Garda Revolusi, menyebut kapal pertama yang disergap bernama Epaminondas dan berasal dari Yunani. Kapal kedua, Euphoria, disergap tak lama kemudian. Mengutip BBC, Garda Revolusi juga menyita kapal ketiga yang berbendera Panama, Francesca.
Meski demikian, Iran tetap membuka ruang dialog. "Diplomasi hanya bisa berjalan jika kepentingan nasional kami dihormati," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei. (lyn/ttg)
Editor : Pratama Karamoy