MOSKOW – Rusia dan Korea Utara (Korut) hampir menyelesaikan pembangunan jembatan darat pertama yang menghubungkan kedua negara. Infrastruktur tersebut akan menjadi jalur penghubung baru antara Moskow dan Pyongyang melalui wilayah perbatasan di Sungai Tumen, sekaligus melengkapi jalur kereta api yang selama ini menjadi satu-satunya akses langsung.
Jembatan dibangun di atas Sungai Tumen yang memisahkan Khasan, Rusia, dengan Tumangang, Korea Utara. Pembangunan di sisi Korea Utara telah rampung sejak 19 Juni, termasuk fasilitas bea cukai dan karantina. Sementara itu, Rusia masih menyelesaikan pekerjaan di wilayahnya sehingga jadwal peresmian belum diumumkan. Pemerintah Rusia menyatakan proyek tersebut bertujuan meningkatkan perdagangan, logistik, dan pariwisata antara kedua negara. Menteri Transportasi Rusia Andrey Nikitin mengatakan jembatan baru itu akan memperkuat hubungan ekonomi sekaligus mendorong pertumbuhan kawasan perbatasan. "Pembukaan jembatan jalan baru ini akan meningkatkan perdagangan, mengoptimalkan logistik, memperkuat hubungan budaya, dan mengubah kawasan perbatasan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi," ujarnya.
Baca Juga: Trump Diminta Desak Netanyahu Hentikan Kekerasan Tepi Barat
Sulit Dipantau Citra Satelit
Namun, kelompok hak asasi manusia Ukraina, Truth Hounds, menilai jalur darat tersebut berpotensi dimanfaatkan untuk memperkuat logistik militer Rusia dalam perang di Ukraina. Peneliti sumber terbuka Truth Hounds, Nazar Myhun, mengatakan truk lebih sulit dipantau melalui citra satelit dibandingkan kereta api sehingga dapat mempermudah pengangkutan personel maupun perlengkapan militer.
Menurut Truth Hounds, nilai proyek yang diperkirakan melampaui USD 100 juta tidak sebanding dengan nilai perdagangan Rusia-Korea Utara yang pada 2024 hanya sekitar USD 34 juta. Lembaga itu menduga jembatan tersebut akan mempermudah perpindahan pasukan, pekerja konstruksi, dan pejabat militer Korea Utara ke Rusia, sekaligus mempercepat masuknya teknologi dan sumber daya Rusia ke Pyongyang. Hubungan kedua negara memang semakin erat sejak Presiden Vladimir Putin dan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un menandatangani perjanjian kemitraan strategis. (lyn/gas)
Editor : Pratama KaramoySumber : Koran Jawa Pos