JAGOSATU.COM -Pada awal pekan ini, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS merosot seiring dengan data tenaga kerja AS yang solid.
"Ariston Tjendra, seorang pengamat pasar uang, mengungkapkan bahwa peluang pelemahan rupiah diperkirakan karena hasil tenaga kerja AS melebihi ekspektasi pasar.
Meskipun demikian, dampak penguatan dolar AS terhadap rupiah diprediksi tidak akan signifikan pada awal pekan ini.
Pasar tengah menantikan data inflasi konsumen AS yang akan dirilis besok malam dan keputusan suku bunga The Fed yang dijadwalkan Kamis dini hari.
Sentimen negatif juga muncul dari data inflasi China yang menunjukkan deflasi, potensial memengaruhi ekonomi Indonesia sebagai mitra dagang China.
"Ariston menyatakan bahwa deflasi di China dapat diartikan sebagai penurunan permintaan yang berpotensi melambatkan pertumbuhan ekonomi di Indonesia.
Meski begitu, ada titik terang dengan posisi cadangan devisa Indonesia yang mencapai 138,1 miliar dolar AS pada akhir November 2023, mengalami peningkatan dibandingkan bulan sebelumnya.
Cadangan devisa tersebut dianggap mampu mendukung ketahanan sektor eksternal, menjaga stabilitas makroekonomi, dan memenuhi standar kecukupan internasional.
Dengan dinamika ini, pelemahan rupiah pada hari ini berpotensi menuju kisaran Rp15.550 per dolar AS hingga Rp15.580 per dolar AS.
Semua mata terarah pada berbagai data ekonomi yang akan dirilis dalam beberapa hari ke depan, memainkan peran penting dalam menentukan arah perjalanan pasar uang.(antara)
Editor : Nur Fadilah