Yesaya 5:1-2
BUAH YANG TUHAN HARAPKAN
''Kekasihku mempunyai kebun anggu di lereng bukit yang subur. Ia mencangkulnya dan membuang batu-batuinya, Ia menanami dengan pokok anggur pilihan." (ay. 1b-2a)
Dari dulu hingga sekarang orang biasa menggunakan bahasa kiasan untuk menyampaikan dan menyatakan sesuatu hal. Entah sesuatu hal itu dari dirinya sendiri atau orang lain. Apalagl dalam dunia asmara muda-mudi. Orang biasa memakai bahasa klasan untuk menyatakan rindunya atau kekasih hatinya, misalkan hatlku terbakar oleh panasnya cintamu atau kekasihku bagaikan singa yang gagah menjagaku. Bahasa kiasan juga dipakai oleh nabi Yesaya untuk menyatakan relasi antara Allah dengan umat-Nya, bangsa Yehuda.
Yesaya menyebut Tuhan sebagai kekasih umat-Nya yang memiliki kebun anggur yang sangat indah (ay. 1 c-d), Sedangkan umat-Nya, bangsa Yehuda diibaratkan kebun anggur yang sangat indah. Kebun anggur itu berada di tengah bukit yang subur, ditanami dengan pokok anggur terpilih: Dirawat dan dijaga secara meyakinkan lengkap dengan tempat pemerasan anggur merah dan manis untuk hasil panen yang menggembirakan. Tentulah sang pemilik mengharapkan hasil anggur yang manis dan enak. Akan tetapi, ternyata yang dihasilkan kebun anggur itu adalah buah anggur yang asam (ay. 2f).
Tentu Tuhan sudah menjaga, memelihara, memulihkan kesehatan dan kekuatan kita untuk siap berkarya di hari ini. Bisa jadi di hari kemarin banyak hal yang telah kita peroleh dan selesaikan dan membuat kita bersukacita. Atau ada masalah baru yang muncul, sehingga kita mesti menyelesaikannya di hari ini. Walaupun demikian, firman Tuhan menegur kita bahwa Allah yang begitu baik memperhatikan dan memelihara kita adalah Tuhan yang juga mengharapkan kita menghasilkan buah yang baik dan manis kini dan saat ini. Bukan buah yang buruk dan busuk yang merugikan Allah, sesama dan ciptaan lainnya. Mari kita hasilkan buah kehidupan seperti yang Tuhan harapkan.
Doa : (Tuhan Yesus, hamba menyerahkan aktivitas hamba di hari ini ke dalam tangan kuasa-Mu agar hamba dapat menghasilkan buah yang menyenangkan hati-Mu). Amin
Editor : Alfianne Lumantow