Sabda Bina Umat, Renungan Malam, Senin, 3 November 2025, Yudas 1:12-13 Jangan Mementingkan Diri Sendiri.

Alfianne Lumantow • Dipublikasikan Jumat, 31 Oktober 2025 | 10:34 WIB

LOGO GPIB
LOGO GPIB
 

Yudas 1:12-13

JANGAN MEMENTINGKAN DIRI SENDIRI

"... mereka tidak malu-malu melahap dan hanya mementingkan dirinya sendiri..." (ay. 12)

Dalam perjalanan hidup ini, kita mungkin pernah menjumpai orang-orang yang dalam kesehariannya selalu ingin memiliki segala sesuatu secara berlebihan, hanya mementingkan diri sendiri, dan tidak peduli pada orang lain. Orang semacam ini rela melakukan apa pun demi mendapatkan apa yang diinginkan, bahkan jika itu berarti harus melanggar hukum. Padahal, keserakahan yang mendorong seseorang untuk menghalalkan segala cara pasti akan membawa konsekuensi yang besar. Contohnya, mereka yang melakukan korupsi karena didorong keserakahan akhirnya harus menjalani hidup di balik jeruji besi, disertai aib yang memalukan dan menghancurkan martabat.

Renungan malam ini menyoroti bagaimana para penyesat, yang disebut sebagai orang-orang fasik dan serakah, bahkan meman- faatkan Perjamuan Kasih sebagai sarana untuk memuaskan hawa nafsu mereka. Mereka tidak lagi melihatnya sebagai momen kudus, melainkan sebagai kesempatan demi kepentingan pribadi. Mereka digambarkan sebagai pribadi egois, yang hidupnya berpusat pada diri sendiri dan bukan pada kehendak Allah. Gambaran mereka pun sangat tajam: seperti awan mendung yang ditiup angin tetapi tidak menurunkan hujan; seperti pohon yang tampak rindang tapi tidak menghasilkan buah; seperti gelombang laut yang liar, yang buihnya hanyalah simbol aib dan kenajisan; dan seperti bintang-bintang yang terlempar ke kegelapan karena menolak untuk hidup dalam terang kebenaran.

Ketika dalam perjalanan hidup ini kita hanya sibuk mengejar kepentingan diri sendiri, maka kekacauan dan berbagai perbuatan jahat pasti akan menyertai (bdk. Yakobus 3:14-16). Padahal, dalam Hukum Kasih, Allah menghendaki kita untuk hidup saling mengasihi, bukan hanya memedulikan diri sendiri, melainkan juga memperhatikan sesama. Kiranya kasih itu kita wujudkan dalam sikap peduli, perhatian, dan kepekaan terhadap kebutuhan orang lain. Dengan demikian, hidup kita tidak hanya berarti bagi diri sendiri, tetapi juga menjadi berkat yang nyata bagi sesama. Amin.

 

Doa: Bapa ajar kami tidak hanya mementingkan diri sendiri, namun juga bisa memperhatikan sosama kami. Amin.

Editor : Alfianne Lumantow
RENUNGAN MALAM GPIB SABDA BINA UMAT