Yudas 1: 17-18
BIJAK DALAM BERMEDSOS
"...akan tampil pengejek-pengejek yang akan hidup menuruti hawa nafsu kefasikan mereka" (ay. 18)
Perkembangan konten-konten yang mengangkat berbagai macam opini publik di medsos digital saat ini muncul begitu masif. Termasuk berbagai konten yang mencemooh atau mengejek nilai- nilai yang dahulu dianggap begitu sakral seperti agama, walaupun ada UU ITE yang mengatur jika ada penghinaan terhadap ajaran agama. Iman kekristenan pun tidak lepas dari konten ejekan tersebut. Bahkan ada para pengejek di medsos digital yang tampil pada saat ini dahulunya adalah pengikut Kristus, namun kini menjadi para pengejek iman Kristen.
Yudas menubuatkan bahwa "menjelang akhir zaman akan tampil pengejek-pengejek". Kata tampil ini hendak menekankan bahwasanya para pengejek ini pada awalnya adalah para pengikut Kristus, tetapi hidup mereka lebih dikuasai oleh keinginan duniawi dari pada kuasa Roh Kudus, itu sebabnya mereka berbalik menjadi para pengejek. Nubuatan ini menggambarkan bahwa menjelang kedatangan Yesus, akan banyak terjadi dimana para pengikut Kristus kehilangan iman mereka, menjadi murtad dan bahkan anti terhadap Kristus. Mereka menganggap bahwa anugerah dapat mengampuni dosa apa saja, karena itu dosa tidak lagi menjadi persoalan yang penting. Hingga pada akhirnya mereka tidak lagi memperhatikan etika, hukum moral dan membiarkan hidup mereka dikendalikan nafsu dengan melakukan apa pun yang mereka mau.
Marilah kita renungkan kembali eksistensi kita di medsos. Mungkin ada di antara kita saat ini yang diejek soal kemampuan, fisik, kondisi ekonomi, atau mungkin karena iman percayanya. Sebagai pengikut Kristus kita tetap harus mengasihi dan mengampuni, sebab mereka hanyalah orang-orang bermasalah dengan dirinya sendiri serta membutuhkan kasih dan pertolongan. Ingatlah, bahwa kita hanya mampu mengasihi sebesar kita rela dan mampu untuk disakiti. Allah melihat apa yang sedang mereka perbuat, dan biarlah Allah yang memberi ganjaran. Amin.
Doa: Ya Bapa Mahabesar bimbing kami umat-Mu untuk mengendalikan emosi kami, dan bijak dalam setiap karya kami. Amin.
Editor : Alfianne Lumantow