Jagosatu.com – Kementerian Pertanian (Kementan) Republik Indonesia kini mengambil langkah tegas untuk mempercepat program hilirisasi di sektor perkebunan nasional. Langkah strategis ini diambil demi menghentikan kebiasaan lama petani yang hanya menjual komoditas perkebunan dalam bentuk bahan mentah dengan harga yang kerap dipermainkan pasar.
Melalui program percepatan ini, Kementan menargetkan peningkatan nilai tambah (value added) yang signifikan bagi komoditas andalan perkebunan. Dengan mengolah hasil panen menjadi produk setengah jadi atau barang jadi, pendapatan dan kesejahteraan petani di daerah diharapkan dapat meroket tajam.
Untuk merealisasikan target ambisius tersebut, Kementan saat ini tengah fokus pada pemetaan yang sangat presisi di tingkat akar rumput. Proses identifikasi Calon Petani dan Calon Lahan (CPCL) menjadi kunci utama agar program hilirisasi ini tepat sasaran dan tidak hanya berhenti pada tataran wacana.
Pemetaan CPCL ini bukan sekadar pendataan administratif biasa. Kementan memetakan secara detail titik koordinat lahan produktif beserta profil petani pengelolanya. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa bantuan infrastruktur, seperti mesin pengolah pascapanen, pabrik skala menengah, hingga akses permodalan, jatuh ke tangan yang benar-benar membutuhkan dan siap berproduksi.
"Dengan basis data CPCL yang kuat, pemerintah bisa menjamin pasokan bahan mentah untuk pabrik pengolahan di pedesaan selalu tersedia stabil. Bantuan alat dari pemerintah tidak akan lagi salah sasaran atau mangkrak," tegas sumber internal dari Kementerian Pertanian terkait program percepatan ini.
Bagi daerah-daerah penghasil komoditas perkebunan seperti kelapa, cengkih, dan pala—termasuk di wilayah Sulawesi Utara—kebijakan hilirisasi ini ibarat angin segar. Petani tidak lagi harus bergantung pada tengkulak yang memonopoli harga bahan mentah.
Ke depan, Kementan akan terus berkoordinasi intensif dengan pemerintah daerah dan berbagai pemangku kepentingan. Kolaborasi ini dinilai krusial untuk menciptakan ekosistem industri perkebunan terintegrasi yang mampu bersaing di pasar global.
Editor : Andria W