Pembacaan Alkitab: Bilangan 35:1–8
Tema: HIDUPLAH SALING MENOPANG
"Perintahkanlah kepada orang Israel, supaya mereka memberikan kota-kota dari milik pusakanya kepada orang Lewi untuk dihuni..." (Bilangan 35:2).
Shalom, sobat muda yang dikasihi Tuhan. Kalau kita memperhatikan kehidupan anak muda zaman sekarang, kita akan menemukan satu kecenderungan yang sangat kuat, yaitu keinginan untuk menjadi mandiri dan berhasil dengan usaha sendiri. Sejak kecil kita diajarkan untuk menjadi yang terbaik.
Kita berlomba memperoleh nilai tertinggi, masuk universitas terbaik, mendapatkan pekerjaan impian, membangun karier yang sukses, bahkan di media sosial kita terdorong untuk menunjukkan bahwa hidup kita baik-baik saja dan lebih berhasil daripada orang lain.
Tanpa kita sadari, budaya seperti ini perlahan membentuk pola pikir bahwa kita tidak membutuhkan siapa pun. Kita merasa harus kuat sendiri, menyelesaikan masalah sendiri, dan mengejar impian sendiri.
Akibatnya, kita menjadi sulit peduli kepada orang lain. Bahkan ketika melihat teman sedang mengalami pergumulan, kita sering berkata, "Itu urusan dia."
Namun firman Tuhan hari ini justru menunjukkan prinsip yang sangat berbeda. Tuhan tidak merancang umat-Nya untuk hidup sendiri-sendiri. Tuhan merancang umat-Nya menjadi sebuah komunitas yang saling menopang.
Dalam Bilangan 35:1–8, Tuhan memerintahkan bangsa Israel untuk memberikan kota-kota kepada suku Lewi. Mungkin jika dibaca sekilas, bagian ini terasa seperti pembagian wilayah biasa. Tetapi sebenarnya ada pelajaran rohani yang sangat penting.
Suku Lewi adalah suku yang dipilih Tuhan untuk melayani di Kemah Suci. Mereka bertugas mengajarkan hukum Tuhan, memimpin ibadah, mengurus pelayanan, dan membantu kehidupan rohani bangsa Israel. Karena pelayanan itu, mereka tidak menerima tanah pusaka seperti sebelas suku lainnya. Mereka tidak memiliki wilayah luas untuk bercocok tanam atau membangun kerajaan keluarga mereka.
Lalu bagaimana mereka hidup? Tuhan sendiri yang mengaturnya. Tuhan memerintahkan setiap suku Israel untuk memberikan sebagian wilayah mereka kepada orang Lewi. Dengan demikian, orang Lewi memiliki tempat tinggal, padang rumput untuk ternak mereka, dan kebutuhan hidup mereka tetap tercukupi.
Perhatikan bahwa Tuhan sebenarnya bisa saja melakukan mukjizat setiap hari dengan menurunkan makanan dari langit. Namun Tuhan memilih memakai umat-Nya untuk memenuhi kebutuhan sesama umat-Nya. Artinya, Tuhan sedang mengajarkan bahwa hidup umat Allah harus diwarnai dengan saling berbagi, saling memperhatikan, dan saling menopang.
Inilah prinsip Kerajaan Allah. Tidak ada satu orang pun yang dapat berkata, "Aku tidak membutuhkan orang lain." Demikian pula tidak ada seorang pun yang boleh merasa dirinya tidak berguna.
Semua memiliki peran yang berbeda-beda, tetapi semuanya sama pentingnya di hadapan Tuhan. Sobat muda, prinsip ini masih sangat relevan bagi kehidupan kita hari ini.
Coba lihat kehidupan di sekolah, kampus, tempat kerja, bahkan di gereja. Ada orang yang pandai berbicara, ada yang pandai memimpin, ada yang kreatif, ada yang pandai mendengarkan, ada yang setia melayani di balik layar. Tuhan tidak memberikan karunia yang sama kepada semua orang, tetapi setiap karunia diberikan supaya kita saling melengkapi.
Sayangnya, budaya dunia sering mengajarkan sebaliknya. Budaya dunia berkata, "Kalau ingin berhasil, kalahkan orang lain." Firman Tuhan berkata, "Kalau ingin bertumbuh, topanglah orang lain." Budaya dunia berkata, "Fokuslah pada dirimu."
Firman Tuhan berkata, "Perhatikan juga kepentingan sesamamu." Budaya dunia berkata, "Naiklah sendiri." Firman Tuhan berkata, "Naiklah bersama-sama." Karena itu, sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk hidup berbeda.
Misalnya, ketika kita melihat teman sedang mengalami kesulitan belajar, apakah kita bersedia membantu menjelaskan pelajaran? Ketika ada teman yang sedang kehilangan semangat karena gagal, apakah kita hadir memberikan penguatan? Ketika ada teman pelayanan yang mulai lelah, apakah kita menawarkan bantuan atau justru membiarkannya bekerja sendirian?
Kadang-kadang bentuk menopang itu bukan sesuatu yang besar. Sebuah pesan singkat yang mengatakan, "Aku mendoakanmu." Sebuah telepon kepada teman yang sedang bergumul. Mau mendengarkan tanpa menghakimi. Memberikan tumpangan. Berbagi makanan.
Menggantikan teman yang sedang sakit dalam pelayanan. Semua itu mungkin terlihat sederhana, tetapi bisa menjadi jawaban doa bagi seseorang. Sebaliknya, ada banyak orang yang tampaknya kuat, tersenyum setiap hari, aktif di media sosial, tetapi sebenarnya sedang berjuang menghadapi tekanan hidup, masalah keluarga, kesepian, bahkan pergumulan iman. Mereka tidak membutuhkan komentar yang menghakimi. Mereka membutuhkan seseorang yang hadir dan menopang mereka.
Sebagai pemuda Kristen, gereja seharusnya menjadi tempat yang paling aman untuk saling menguatkan. Jangan sampai gereja justru menjadi tempat orang saling membandingkan, saling menjatuhkan, atau saling bergosip.
Bayangkan jika setiap pemuda memiliki hati untuk saling menopang. Yang kuat membantu yang lemah. Yang mampu menolong yang kekurangan. Yang berpengalaman membimbing yang masih baru. Yang sedang bersukacita menghibur yang sedang berdukacita. Bukankah komunitas seperti itu akan menjadi tempat yang penuh kasih?
Lebih dari itu, hidup saling menopang juga berarti kita mau menerima pertolongan dari orang lain. Ada orang yang gengsi meminta bantuan. Mereka merasa bahwa meminta pertolongan adalah tanda kelemahan.
Padahal Tuhan juga sering bekerja melalui orang lain. Ketika kita bersedia ditolong, kita sedang memberi kesempatan kepada orang lain untuk menjadi alat Tuhan. Karena itu, jangan hanya belajar memberi pertolongan, tetapi juga belajar menerima pertolongan dengan rendah hati.
Sobat muda, Yesus sendiri telah memberikan teladan yang sempurna tentang hidup yang menopang. Selama pelayanan-Nya, Yesus hadir bagi mereka yang lemah. Ia menyentuh orang sakit, menghibur yang berduka, mengampuni orang berdosa, memberi makan yang lapar, bahkan rela memikul salib untuk menyelamatkan manusia.
Pengorbanan Kristus adalah bentuk kasih yang menopang kehidupan kita. Karena kita telah lebih dahulu ditopang oleh kasih-Nya, maka sudah seharusnya kita juga menopang orang lain.
Jangan berpikir bahwa hidup kita terlalu kecil untuk memberi dampak. Sering kali Tuhan memakai tindakan-tindakan sederhana untuk menghasilkan perubahan yang besar.
Mungkin hari ini Tuhan sedang mengingatkan kita tentang seseorang yang membutuhkan perhatian kita. Bisa jadi teman yang mulai jarang ke gereja, sahabat yang sedang menghadapi masalah keluarga, rekan pelayanan yang mulai kehilangan semangat, atau anggota keluarga yang sedang memikul beban hidup.
Jangan abaikan dorongan Roh Kudus itu. Ambillah langkah kecil untuk hadir bagi mereka. Kiranya melalui kehidupan kita, orang lain dapat merasakan kasih Kristus yang nyata. Mari kita membangun komunitas yang bukan dipenuhi persaingan, melainkan kepedulian; bukan dipenuhi sikap mementingkan diri sendiri, melainkan semangat saling melayani; bukan dipenuhi sikap saling menjatuhkan, melainkan saling menguatkan.
Karena pada akhirnya, kita semua adalah satu tubuh di dalam Kristus. Ketika satu anggota menderita, seluruh tubuh ikut merasakan. Ketika satu anggota dikuatkan, seluruh tubuh ikut bertumbuh.
Marilah kita menjadi generasi muda yang hidup saling menopang, karena itulah kehendak Tuhan bagi umat-Nya. Amin.
Doa : Bapa di surga, terima kasih atas firman-Mu yang mengajar kami untuk hidup saling menopang. Bentuklah hati kami agar peduli, mengasihi, dan siap menolong sesama. Pakailah kami menjadi berkat bagi keluarga, teman, dan gereja. Mampukan kami hidup seturut kehendak-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.
Editor : Alfianne Lumantow