Pembacaan Alkitab: Amsal 3:27
Tema: JANGAN TUNDA KEBAIKANMU
"...Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya." (Amsal 3:27)
Shalom, sobat muda yang dikasihi Tuhan. Setiap hari kita dihadapkan pada banyak kesempatan untuk berbuat baik. Ada teman yang meminta bantuan mengerjakan tugas, seseorang yang membutuhkan tumpangan, rekan pelayanan yang memerlukan dukungan, atau bahkan sekadar seseorang yang ingin didengarkan.
Kadang kesempatan itu datang dalam bentuk yang sederhana, seperti sebuah pesan singkat yang meminta pertolongan. Namun sering kali kesempatan itu berlalu begitu saja karena kita menunda untuk merespons.
Kita berkata, "Nanti saja, kalau sudah tidak sibuk." "Nanti kalau ada waktu." "Nanti kalau ingat." Padahal, bagi orang yang sedang membutuhkan, penundaan itu bisa menjadi kekecewaan yang mendalam.
Ilustrasi hari ini menceritakan tentang Yosef, seorang pemuda yang berhasil dalam pekerjaannya. Dalam waktu singkat ia dipromosikan menjadi asisten manajer. Prestasi itu tentu bukan sesuatu yang instan. Yosef bekerja keras, bertanggung jawab, dan terus belajar sehingga ia memperoleh kepercayaan dari perusahaan. Tuhan memberkati usahanya sehingga ia memiliki penghasilan yang lebih baik dibandingkan banyak teman seusianya.
Di sisi lain, ada Andika, teman pelayanan di Gerakan Pemuda, yang sedang menghadapi kesulitan. Ia membutuhkan dana untuk membayar biaya skripsi. Orang tuanya belum sempat mengirim uang, sehingga ia memberanikan diri menghubungi Yosef melalui WhatsApp. Ia berharap Yosef dapat meminjamkan uang untuk sementara waktu.
Sayangnya, pesan itu tidak mendapat balasan. Bahkan ketika Andika mengirim pesan kedua, tetap tidak ada respons. Yosef memang membaca pesan tersebut, tetapi karena kesibukan pekerjaannya, ia tidak segera membalas.
Hari berganti hari. Andika menunggu dengan penuh harapan, tetapi yang ia rasakan justru kekecewaan. Ia bahkan berharap bisa bertemu Yosef saat ibadah pemuda, namun Yosef tidak hadir karena kembali disibukkan oleh pekerjaannya.
Mungkin Yosef tidak bermaksud jahat. Bisa jadi ia benar-benar sibuk. Bisa jadi ia berniat membantu, tetapi terus menunda hingga akhirnya kesempatan itu lewat begitu saja.
Di sinilah firman Tuhan menegur kita. Penulis kitab Amsal berkata, "Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya."
Firman ini sangat sederhana, tetapi sangat dalam. Tuhan tidak hanya berbicara tentang kemampuan, tetapi juga tentang kerelaan hati. Ada kalanya kita sebenarnya mampu membantu, tetapi memilih diam.
Ada kalanya kita memiliki waktu, tenaga, pengetahuan, relasi, atau materi untuk menolong orang lain, tetapi kita menundanya karena merasa masih ada urusan lain yang lebih penting.
Padahal, kesempatan berbuat baik sering kali memiliki batas waktu. Orang yang membutuhkan pertolongan hari ini belum tentu masih bisa menunggu besok.
Orang yang membutuhkan semangat hari ini mungkin sudah kehilangan harapan jika kita datang terlambat. Karena itu, firman Tuhan mengajarkan agar kita tidak menunda kebaikan ketika kita memiliki kesempatan untuk melakukannya.
Sobat muda, hidup kita saat ini sangat sibuk. Jadwal kuliah, pekerjaan, pelayanan, organisasi, tugas, hingga aktivitas di media sosial sering kali memenuhi waktu kita. Kesibukan bukanlah sesuatu yang salah. Tuhan juga menghargai orang yang rajin bekerja dan bertanggung jawab.
Namun kesibukan tidak boleh membuat hati kita menjadi tumpul terhadap kebutuhan orang lain. Sering kali kita begitu cepat membalas pesan yang berkaitan dengan pekerjaan atau hiburan, tetapi lambat merespons ketika seseorang meminta bantuan.
Kita bisa menghabiskan waktu berjam-jam bermain media sosial, tetapi merasa tidak punya waktu lima menit untuk menghibur teman yang sedang berduka. Kita mampu membeli banyak hal untuk diri sendiri, tetapi merasa berat berbagi kepada orang yang membutuhkan.
Firman Tuhan mengajak kita memeriksa kembali prioritas hidup kita. Apakah kita benar-benar terlalu sibuk, atau sebenarnya kita hanya belum menjadikan kasih sebagai prioritas?
Menariknya, ayat ini tidak hanya berbicara tentang memberi uang. Kebaikan memiliki banyak bentuk. Kita dapat memberikan waktu untuk mendengarkan. Memberikan perhatian kepada teman yang sedang bergumul.
Memberikan tenaga untuk membantu pelayanan. Memberikan kemampuan kita untuk mengajar. Memberikan dorongan semangat kepada mereka yang mulai putus asa. Memberikan doa bagi mereka yang sedang menghadapi pergumulan. Semua itu adalah bentuk kebaikan yang Tuhan kehendaki.
Bahkan sebuah balasan sederhana seperti, "Maaf, aku belum bisa membantu sekarang, tetapi aku akan berusaha mencarikan solusi," jauh lebih berarti daripada membiarkan seseorang menunggu tanpa kepastian.
Sikap "ghosting" yang sering terjadi dalam budaya komunikasi masa kini tidak mencerminkan kasih Kristus. Mengabaikan pesan, tidak memberi jawaban, atau sengaja menghindari orang yang membutuhkan bukanlah kebiasaan yang patut dipelihara oleh orang percaya.
Sebagai pengikut Kristus, kita dipanggil menjadi pribadi yang responsif dan peduli. Mengapa? Karena Allah sendiri adalah Allah yang tidak menunda kasih-Nya kepada kita.
Ketika manusia jatuh ke dalam dosa, Allah tidak membiarkan manusia binasa tanpa harapan. Pada waktu yang tepat, Ia mengutus Yesus Kristus datang ke dunia sebagai Juruselamat. Tuhan tidak menunda karya keselamatan-Nya. Ia bertindak karena kasih-Nya kepada manusia.
Yesus pun selama pelayanan-Nya selalu peka terhadap kebutuhan orang-orang di sekitar-Nya. Ketika melihat orang sakit, Ia menyembuhkan. Ketika melihat orang lapar, Ia memberi makan. Ketika melihat orang yang tersisih, Ia menghampiri mereka. Kasih Yesus selalu diwujudkan dalam tindakan nyata, bukan hanya dalam kata-kata.
Sebagai murid Kristus, kita dipanggil meneladani kehidupan-Nya.
Hari ini kita juga diingatkan bahwa GPIB merayakan Hari Ulang Tahun Yayasan Diakonia. Diakonia berarti pelayanan kasih kepada sesama. Pelayanan ini mengingatkan kita bahwa iman Kristen bukan hanya soal datang beribadah setiap minggu, tetapi juga menghadirkan kasih Allah dalam kehidupan sehari-hari.
Kasih yang nyata selalu diwujudkan melalui tindakan. Kasih yang nyata tidak menunggu sampai keadaan sempurna. Kasih yang nyata tidak berkata, "Nanti saja." Kasih yang nyata bertindak ketika kesempatan itu datang.
Sobat muda, mungkin hari ini Tuhan sedang mengingatkan kita tentang seseorang yang sudah lama menunggu perhatian kita. Mungkin ada pesan yang belum kita balas. Ada teman yang sedang bergumul tetapi belum kita hubungi. Ada keluarga yang membutuhkan waktu bersama kita. Ada pelayanan yang membutuhkan keterlibatan kita. Ada orang yang sedang menanti uluran tangan kita.
Jangan menunda lagi. Karena kita tidak pernah tahu apakah kesempatan itu masih ada esok hari. Mulailah dari hal-hal yang sederhana. Balas pesan yang membutuhkan jawaban. Hubungi teman yang sudah lama tidak terdengar kabarnya.
Doakan mereka yang sedang menghadapi pergumulan. Sisihkan sebagian berkat yang Tuhan percayakan untuk membantu orang lain. Hadirlah ketika seseorang membutuhkan teman berbicara. Percayalah, setiap tindakan kasih, sekecil apa pun, dapat dipakai Tuhan untuk menjadi jawaban atas doa seseorang.
Kiranya sebagai generasi muda Kristen, kita dikenal bukan karena kepintaran semata, bukan karena kesuksesan semata, melainkan karena hati yang peka, tangan yang ringan menolong, dan hidup yang siap menjadi saluran berkat bagi sesama.
Jangan menunda kebaikanmu. Sebab ketika Tuhan memberi kemampuan untuk menolong, Ia juga memberi kesempatan untuk menjadi berkat. Gunakanlah kesempatan itu sebelum terlambat. Amin.
Doa : Bapa yang penuh kasih, terima kasih atas firman-Mu yang mengingatkan kami untuk tidak menunda berbuat baik. Bentuklah hati kami agar peka, peduli, dan sigap menolong sesama. Pakailah hidup kami menjadi saluran kasih dan berkat bagi banyak orang. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.
Editor : Alfianne Lumantow