Arkeologi Bali Daerah Ekonomi Ekonomi & Bisnis Esport Gaya Hidup Global Headline Hiburan Hukum & Kriminal Jawa Kalimantan Kesehatan Lifestyle & Hiburan Maluku Nasional Nusa Tenggara Timur Olahraga Papua Pemerintahan Pertanian Politik Sains & Teknologi Teknologi Wisata Wisata & Kuliner

Sabda Bina Umat, Renungan Malam, Minggu, 5 Juli 2026, Amsal 3:28  Jangan Menunda

Alfianne Lumantow • Kamis, 2 Juli 2026 | 11:27 WIB
LOGO GPIB
LOGO GPIB

Pembacaan Alkitab: Amsal 3:28

Tema: JANGAN MENUNDA

"Janganlah engkau berkata kepada sesamamu, 'Pergilah dan kembalilah, besok akan kuberi,' sedangkan yang diminta ada padamu." (Amsal 3:28)

Saudara-saudari yang terkasih di dalam Tuhan, Firman Tuhan pada hari ini mengajak kita merenungkan sebuah kebiasaan yang sering dianggap sepele, tetapi ternyata memiliki dampak yang besar dalam kehidupan rohani, yaitu kebiasaan menunda. Amsal 3:28 memberikan nasihat yang sangat jelas: "Janganlah engkau berkata kepada sesamamu, 'Pergilah dan kembalilah, besok akan kuberi,' sedangkan yang diminta ada padamu."

Firman ini bukan sekadar berbicara tentang memberi sesuatu kepada orang lain, tetapi juga tentang sikap hati yang peka, tanggap, dan rela melakukan kebaikan pada saat kesempatan itu hadir.

Ada sebuah ungkapan dari Amelia Earhart yang berbunyi, "Satu tindakan kebaikan menebarkan akar ke segala arah, dan akar itu tumbuh dan membuat pohon baru." Ungkapan ini mengingatkan kita bahwa satu tindakan kasih yang dilakukan dengan tulus dapat menghasilkan dampak yang jauh lebih besar daripada yang kita bayangkan.

Kebaikan tidak berhenti pada satu orang, tetapi dapat menginspirasi dan menggerakkan orang lain untuk melakukan hal yang sama.

Sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk hidup dalam kasih. Tuhan Yesus sendiri mengajarkan agar kita berbuat baik bukan hanya kepada orang yang berbuat baik kepada kita, tetapi juga kepada mereka yang tidak membalas kasih kita.

Kasih yang diajarkan Kristus adalah kasih yang aktif, kasih yang memberi, dan kasih yang tidak menunggu keuntungan bagi diri sendiri. Itulah sebabnya berbuat baik bukan sekadar tindakan moral atau bentuk sopan santun, melainkan panggilan hidup setiap murid Kristus.

Namun dalam kenyataan sehari-hari, kita sering kali menemukan bahwa melakukan kebaikan tidak selalu mudah. Bukan karena kita tidak memiliki kemampuan, melainkan karena ada banyak alasan yang membuat kita menundanya. Kita berkata, "Besok saja."

"Nanti kalau pekerjaan selesai." "Kalau keadaan sudah lebih baik, saya akan membantu." Tanpa kita sadari, kata nanti menjadi alasan yang paling sering menghalangi kita untuk melakukan apa yang sebenarnya dapat kita lakukan hari ini.

Firman Tuhan menegur sikap seperti itu. Ayat ini menggambarkan seseorang yang sebenarnya memiliki apa yang dibutuhkan oleh sesamanya, tetapi memilih menyuruh orang itu datang kembali keesokan hari.

Masalahnya bukan karena ia tidak mampu memberi, melainkan karena ia memilih menunda. Penundaan itu mungkin hanya satu hari, tetapi bagi orang yang membutuhkan, satu hari bisa berarti sangat besar. Satu hari bisa menjadi perbedaan antara harapan dan keputusasaan, antara pertolongan dan penderitaan.

Saudara-saudari, Kita perlu menyadari bahwa menunda berbuat baik bukan hanya soal waktu, tetapi soal hati. Penundaan sering kali menunjukkan bahwa kita belum sungguh-sungguh menempatkan kasih sebagai prioritas dalam hidup kita.

Kita mungkin merasa terlalu sibuk, terlalu lelah, atau terlalu nyaman dengan urusan sendiri sehingga kebutuhan orang lain tidak lagi menjadi perhatian utama.

Sering kali kita berkata bahwa kita akan lebih aktif melayani ketika sudah pensiun. Kita akan lebih banyak memberi ketika ekonomi sudah mapan. Kita akan lebih peduli kepada keluarga ketika pekerjaan sudah tidak terlalu sibuk. Tetapi kenyataannya, waktu yang kita tunggu itu belum tentu datang. Hidup terus berjalan, kesempatan berlalu, dan orang-orang yang membutuhkan pertolongan kita mungkin tidak lagi menunggu.

Karena itu, firman Tuhan mengajarkan bahwa kasih tidak mengenal penundaan. Kasih selalu hadir tepat pada waktunya. Kasih bergerak ketika melihat kebutuhan. Kasih tidak sibuk menghitung untung rugi. Kasih tidak menunggu suasana yang ideal. Kasih bertindak karena digerakkan oleh belas kasihan.

Kita melihat teladan ini dalam kehidupan Tuhan Yesus. Ketika Ia melihat orang banyak yang lapar, Ia tidak menyuruh mereka pulang dan datang kembali keesokan hari. Ketika seorang buta berseru meminta belas kasihan, Yesus tidak berkata, "Datanglah minggu depan."

Ketika Lazarus dipanggil keluar dari kubur, Yesus menunjukkan bahwa kasih Allah selalu hadir membawa kehidupan. Di sepanjang pelayanan-Nya, Yesus selalu tanggap terhadap kebutuhan manusia. Ia hadir, mendengar, menyembuhkan, menghibur, dan memulihkan.

Sebagai pengikut Kristus, kita dipanggil memiliki kepekaan yang sama. Tuhan sering memakai kita sebagai jawaban atas doa-doa orang lain. Mungkin seseorang sedang berdoa agar memperoleh pertolongan, dan Tuhan ingin memakai tangan kita untuk menolongnya.

Mungkin ada seseorang yang sedang membutuhkan penghiburan, dan Tuhan ingin memakai kata-kata kita untuk menguatkannya. Mungkin ada seorang lansia yang kesepian, seorang tetangga yang sedang sakit, atau seorang teman yang sedang bergumul. Kehadiran kita dapat menjadi saluran kasih Allah bagi mereka.

Sering kali kita berpikir bahwa berbuat baik harus dimulai dengan sesuatu yang besar. Padahal Tuhan menghargai kesetiaan dalam hal-hal kecil. Sebuah senyuman yang tulus, sapaan yang hangat, kunjungan kepada orang sakit, mendengarkan seseorang yang sedang berbeban, berbagi makanan, atau memberikan bantuan sederhana dapat menjadi pengalaman kasih yang sangat berarti bagi orang lain.

Di dalam keluarga pun, firman ini sangat relevan. Jangan menunda mengucapkan terima kasih kepada pasangan. Jangan menunda meminta maaf kepada anak atau orang tua. Jangan menunda memberi perhatian kepada anggota keluarga yang membutuhkan teman berbicara. Kasih yang tidak diungkapkan sering kali kehilangan kesempatan untuk membawa sukacita.

Demikian pula dalam kehidupan bergereja. Jangan menunda melayani ketika Tuhan memberi kesempatan. Jangan menunda menjadi sukarelawan karena merasa belum cukup mampu. Tuhan tidak mencari orang yang paling sempurna, tetapi orang yang bersedia dipakai-Nya. Kesediaan kita hari ini dapat menjadi berkat besar bagi banyak orang.

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Ada satu kenyataan yang perlu kita renungkan: kesempatan untuk berbuat baik tidak selalu datang dua kali. Ada kesempatan yang hanya hadir sekali seumur hidup.

Ada orang yang hanya sekali meminta pertolongan. Ada saat di mana seseorang sangat membutuhkan kehadiran kita, tetapi jika kita menundanya, kesempatan itu mungkin telah berlalu untuk selamanya.

Karena itu, mari kita belajar mendengarkan suara Roh Kudus yang sering menggerakkan hati kita untuk melakukan sesuatu yang baik. Ketika Tuhan menaruh dorongan untuk menghubungi seseorang, lakukanlah.

Ketika Tuhan menggerakkan hati untuk berbagi, jangan tunda. Ketika Tuhan memberi kesempatan melayani, sambutlah dengan sukacita. Ketaatan yang segera sering kali menjadi awal dari pekerjaan Tuhan yang besar.

Pada akhirnya, hidup orang percaya bukan diukur dari seberapa banyak rencana baik yang dimiliki, melainkan dari seberapa banyak kebaikan yang benar-benar dilakukan. Tuhan tidak hanya melihat niat kita, tetapi juga tindakan kita. Kasih yang sejati selalu diwujudkan dalam perbuatan.

Marilah kita memohon agar Tuhan memberikan hati yang peka terhadap kebutuhan sesama, hati yang murah memberi, dan hati yang tidak menunda melakukan apa yang baik. Kiranya Roh Kudus menolong kita untuk hidup sebagai pribadi yang siap melayani, siap berbagi, dan siap menjadi saluran kasih Allah kapan pun kesempatan itu datang.

Jika hari ini kita dapat mengampuni, lakukanlah. Jika hari ini kita dapat menolong, lakukanlah. Jika hari ini kita dapat menguatkan seseorang, lakukanlah. Jangan menunggu waktu yang sempurna, sebab waktu yang Tuhan berikan hari ini adalah kesempatan terbaik untuk menyatakan kasih-Nya.

Kiranya melalui kehidupan kita, banyak orang merasakan kehadiran Kristus yang penuh kasih. Biarlah setiap kebaikan yang kita lakukan menjadi kesaksian bahwa Allah masih bekerja di tengah dunia ini melalui umat-Nya. Tuhan Yesus memberkati kita semua. Amin.

 

Doa : Ya Bapa yang Mahakasih, terima kasih atas firman-Mu yang mengingatkan kami agar tidak menunda melakukan kebaikan. Bentuklah hati kami menjadi peka terhadap kebutuhan sesama dan taat bertindak ketika Engkau memberi kesempatan. Pakailah hidup kami menjadi saluran kasih dan berkat bagi banyak orang. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Editor : Alfianne Lumantow
#RENUNGAN MALAM #GPIB #SABDA BINA UMAT