Pembacaan Alkitab: Amsal 14:21
Tema: Milikilah Empati dan Belas Kasihan
"Siapa menghina sesamanya berbuat dosa, tetapi berbahagialah orang yang berbelaskasihan kepada orang yang miskin." (Amsal 14:21)
Shalom, Sobat Muda yang dikasihi Tuhan. Kita hidup di zaman ketika komunikasi berlangsung begitu cepat. Dalam hitungan detik, sebuah pesan dapat menyebar kepada ratusan bahkan ribuan orang.
Media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Melalui WhatsApp, Instagram, Facebook, TikTok, X, Threads, dan berbagai platform lainnya, kita dapat berbagi cerita, belajar, bekerja sama, bahkan memberitakan Injil. Namun di balik semua manfaat tersebut, media sosial juga dapat menjadi tempat lahirnya luka yang mendalam apabila digunakan tanpa kasih.
Masih ingat tragedi yang terjadi pada tahun 2025 di Universitas Udayana, Bali? Seorang mahasiswa memilih mengakhiri hidupnya dengan melompat dari gedung kampus. Peristiwa ini meninggalkan duka yang mendalam bagi keluarganya dan menjadi perhatian banyak orang.
Berdasarkan beberapa wawancara yang dilakukan melalui podcast bersama ibunya, diketahui bahwa pemuda tersebut adalah anak yang sangat mengasihi ibunya yang membesarkannya sebagai seorang single mother setelah berpisah dengan ayahnya.
Ia juga sedang mempersiapkan diri untuk menerima baptisan di gerejanya. Namun, di balik senyum dan perjuangannya, ia menyimpan luka yang tidak diketahui banyak orang. Ia mengalami perundungan melalui percakapan daring yang dilakukan oleh teman-temannya.
Kata-kata yang dianggap sebagai candaan ternyata melukai harga dirinya, menghancurkan kesehatan mentalnya, dan akhirnya mendorongnya mengambil keputusan yang sangat tragis.
Kisah ini mengingatkan kita bahwa kata-kata memiliki kuasa yang sangat besar. Sebuah kalimat yang kita ketik hanya dalam beberapa detik dapat meninggalkan luka yang bertahan bertahun-tahun. Sebaliknya, satu kalimat yang penuh kasih dapat menjadi sumber penghiburan dan harapan bagi seseorang yang sedang berjuang.
Itulah sebabnya penulis kitab Amsal berkata, "Siapa menghina sesamanya berbuat dosa." Firman Tuhan tidak mengatakan bahwa menghina adalah kesalahan kecil atau sekadar perilaku yang kurang sopan. Firman Tuhan dengan tegas menyebutnya sebagai dosa.
Mengapa? Karena ketika kita menghina orang lain, kita sedang merendahkan seseorang yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Kita sedang mengabaikan martabat yang Tuhan berikan kepada setiap manusia.
Sebaliknya, Amsal berkata bahwa orang yang berbelaskasihan adalah orang yang berbahagia. Belas kasihan bukan sekadar merasa iba. Belas kasihan adalah hati yang digerakkan untuk peduli, memahami, dan melakukan sesuatu yang membawa kebaikan bagi sesama. Belas kasihan lahir dari empati, yaitu kemampuan untuk ikut merasakan apa yang sedang dialami orang lain.
Empati mengajak kita bertanya, "Bagaimana jika aku berada di posisi orang itu?" Sebelum mengirim komentar yang pedas, sebelum membuat meme yang mempermalukan seseorang, sebelum ikut menertawakan teman yang sedang menjadi bahan pembicaraan, kita perlu berhenti sejenak dan membayangkan bagaimana perasaan orang tersebut jika membaca semua itu.
Sobat muda, sering kali kita berpikir bahwa karena dunia digital tidak mempertemukan kita secara langsung, maka kata-kata kita tidak akan terlalu berdampak. Padahal kenyataannya justru sebaliknya. Banyak orang merasa lebih berani menghina, mengejek, atau menyebarkan kebencian ketika berada di balik layar. Mereka merasa aman karena identitasnya tersembunyi atau karena menganggap semuanya hanyalah candaan.
Padahal setiap komentar yang kita tulis meninggalkan jejak. Setiap unggahan yang kita bagikan dapat memengaruhi hidup orang lain. Bahkan sekadar memberikan emoji tertawa pada unggahan yang mempermalukan seseorang bisa menjadi bentuk dukungan terhadap perundungan.
Inilah yang dikenal sebagai cyberbullying. Perundungan digital tidak selalu berupa kata-kata kasar. Kadang ia hadir dalam bentuk sindiran, penyebaran foto tanpa izin, gosip, penghinaan terhadap penampilan fisik, pelecehan di kolom komentar, membuat seseorang dikucilkan dari grup percakapan, atau menyebarkan informasi yang belum tentu benar. Semua itu dapat menghancurkan rasa percaya diri seseorang.
Yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika kita menjadi silent bystander, yaitu orang yang hanya menonton tanpa melakukan apa pun. Kita mungkin tidak ikut menghina, tetapi kita juga tidak berusaha menghentikannya. Kita membaca komentar yang menyakitkan, melihat teman dipermalukan di grup, namun memilih diam karena takut dianggap tidak sejalan dengan kelompok.
Sebagai pengikut Kristus, kita dipanggil untuk berbeda. Tuhan Yesus tidak pernah mengajarkan kita menjadi penonton ketika orang lain diperlakukan dengan tidak adil. Kasih Kristus selalu mendorong kita untuk hadir membawa damai, menguatkan yang lemah, dan membela mereka yang tertindas.
Karena itu, sebagai anak-anak Tuhan, kita perlu bertanya kepada diri sendiri: apakah media sosial yang kita gunakan sudah menjadi sarana untuk memuliakan Tuhan? Apakah komentar-komentar kita membangun atau justru meruntuhkan? Apakah kehadiran kita di dunia digital membawa damai atau malah memperkeruh suasana?
Empati dapat diwujudkan melalui hal-hal sederhana. Misalnya, memilih untuk tidak ikut menyebarkan berita yang mempermalukan seseorang. Menolak ikut bergosip di grup percakapan. Memberikan kata-kata penguatan kepada teman yang sedang mengalami kesulitan. Menghubungi teman yang terlihat mulai menarik diri dari pergaulan. Bahkan terkadang tindakan paling bijaksana adalah meninggalkan grup percakapan yang dipenuhi ujaran kebencian, fitnah, dan penghinaan.
Jangan takut dianggap berbeda. Lebih baik dikenal sebagai pribadi yang membawa damai daripada dikenal sebagai orang yang pandai melukai hati sesama. Dunia membutuhkan lebih banyak orang yang berempati daripada orang yang sekadar ingin viral.
Ingatlah bahwa setiap orang yang kita jumpai, termasuk yang kita lihat di media sosial, sedang membawa pergumulannya masing-masing. Ada yang sedang berjuang melawan kecemasan. Ada yang sedang menghadapi masalah keluarga. Ada yang sedang kehilangan pekerjaan. Ada yang sedang berduka. Ada pula yang sedang berusaha bangkit dari kegagalan. Kita mungkin tidak mengetahui semua itu. Karena itulah kita dipanggil untuk berhati-hati dalam berkata-kata.
Sebagai pemuda Kristen, kita dipanggil menjadi terang dunia, termasuk di dunia digital. Jadilah pribadi yang dikenal karena kasihnya, bukan karena komentar pedasnya. Jadilah pribadi yang menguatkan, bukan menjatuhkan. Jadilah pribadi yang membawa harapan, bukan keputusasaan.
Hari ini Firman Tuhan mengajak kita untuk memiliki empati yang tulus dan belas kasihan yang nyata. Jangan biarkan media sosial mengubah hati kita menjadi dingin. Sebaliknya, biarlah kasih Kristus memenuhi hati kita sehingga setiap kata, komentar, unggahan, dan respons kita mencerminkan karakter-Nya.
Kiranya setiap jari yang kita gunakan untuk mengetik menjadi alat yang dipakai Tuhan untuk memberkati, bukan melukai. Setiap akun media sosial yang kita miliki menjadi saluran kasih, bukan tempat penyebaran kebencian. Dan setiap langkah hidup kita menjadi kesaksian bahwa kita sungguh-sungguh hidup sebagai murid-murid Kristus. Amin.
Doa : Bapa Surgawi, terima kasih atas firman-Mu hari ini. Bentuklah hati kami agar penuh empati dan belas kasihan kepada sesama. Jauhkan kami dari perkataan dan tindakan yang melukai, baik secara langsung maupun melalui media sosial. Pakailah hidup kami menjadi saluran kasih, damai, dan pengharapan bagi banyak orang. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.
Editor : Alfianne Lumantow