Pembacaan Alkitab: Amsal 22:22-23
Tema: TUHAN SANG PEMBELA AGUNG
"Sebab TUHAN membela perkara mereka..." (Amsal 22:23a)
Shalom, Sobat Muda GPIB! Kita hidup di era digital. Hampir setiap hari kita membuka media sosial. Bangun tidur, mungkin yang pertama kita lihat adalah notifikasi WhatsApp, Instagram, TikTok, X, atau platform lainnya.
Kita melihat berita, video, komentar, meme, bahkan ikut berdiskusi tentang berbagai isu yang sedang viral. Media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan kita. Melalui media sosial kita belajar, bekerja, berjejaring, bahkan melayani.
Namun di balik semua manfaatnya, media sosial juga dapat menjadi tempat munculnya berbagai bentuk ketidakadilan.
Pernahkah kalian melihat seseorang menjadi sasaran hujatan di media sosial? Hanya karena satu potongan video, satu unggahan, atau satu kesalahan, ribuan komentar langsung berdatangan.
Tidak sedikit komentar yang berisi hinaan, fitnah, ejekan, bahkan ancaman. Banyak orang ikut berkomentar tanpa mengetahui fakta yang sebenarnya. Fenomena ini sering disebut trial by social media atau "pengadilan oleh media sosial". Seseorang dihakimi sebelum kebenaran benar-benar diketahui.
Hal seperti ini mengingatkan kita pada firman Tuhan dalam Amsal 22:22-23: "Janganlah merampasi orang lemah karena ia lemah, dan janganlah menginjak-injak orang miskin di pintu gerbang. Sebab TUHAN membela perkara mereka, dan mengambil nyawa orang yang merampasi mereka."
Sekilas ayat ini tampaknya berbicara tentang kehidupan masyarakat Israel kuno. Namun jika kita memahami latar belakangnya, firman ini ternyata sangat relevan bagi kehidupan kita sekarang.
Pada zaman Perjanjian Lama, pintu gerbang kota bukan hanya tempat orang keluar masuk kota. Pintu gerbang merupakan pusat kehidupan masyarakat. Di sanalah para tua-tua berkumpul untuk mengadili perkara, membuat keputusan penting, menyelesaikan perselisihan, melakukan transaksi perdagangan, dan mendiskusikan berbagai persoalan masyarakat. Dengan kata lain, pintu gerbang adalah tempat opini publik dibentuk.
Kalau dibandingkan dengan kehidupan kita sekarang, "pintu gerbang kota" itu sangat mirip dengan media sosial. Di media sosial, orang berdiskusi, memberikan komentar, menyampaikan pendapat, mempromosikan barang, mencari informasi, bahkan memengaruhi cara berpikir banyak orang. Bedanya, jika dulu yang hadir di pintu gerbang hanya warga kota, sekarang siapa saja dapat berkomentar dari mana saja hanya melalui telepon genggam.
Karena itulah, firman Tuhan ini terasa sangat dekat dengan kehidupan kita. Salomo memberikan sebuah peringatan: jangan menindas orang yang lemah. Mengapa? Karena Tuhan sendiri menjadi Pembela mereka.
Pada zaman dahulu, penindasan sering terjadi secara langsung. Orang miskin kehilangan haknya karena tidak memiliki kekuasaan. Mereka dikalahkan dalam pengadilan karena tidak mampu membayar atau membela diri.
Hari ini bentuk penindasan memang berubah, tetapi semangatnya tetap sama. Penindasan bisa terjadi melalui komentar yang menghina. Penindasan bisa terjadi melalui penyebaran berita bohong.
Penindasan bisa terjadi melalui perundungan (cyberbullying). Penindasan bisa terjadi melalui penyebaran foto atau video tanpa izin. Penindasan bisa terjadi ketika seseorang sengaja dipermalukan agar menjadi bahan hiburan.
Yang lebih menyedihkan, semua itu sering dilakukan hanya dengan beberapa kali mengetuk layar.
Sobat muda, Sering kali kita berpikir bahwa komentar di media sosial hanyalah kata-kata biasa. Padahal di balik layar ada manusia yang memiliki hati dan perasaan.
Ada orang yang kehilangan rasa percaya diri karena terus dihina. Ada yang mengalami depresi akibat perundungan digital. Ada yang memilih menutup semua akun media sosialnya. Bahkan di berbagai negara terdapat kasus orang yang mengakhiri hidupnya karena tidak sanggup menghadapi tekanan dari dunia maya.
Karena itu, jangan pernah menganggap remeh apa yang kita tuliskan di media sosial. Firman Tuhan mengingatkan bahwa Tuhan tidak tinggal diam ketika orang lemah ditindas. Ia melihat semua yang terjadi, bahkan ketika tidak ada orang lain yang mengetahuinya. Kita mungkin bisa bersembunyi di balik akun anonim, tetapi kita tidak pernah tersembunyi dari pandangan Tuhan.
Lalu bagaimana seharusnya seorang pemuda Kristen menggunakan media sosial?
Pertama, gunakan media sosial untuk membangun, bukan menghancurkan.
Sebelum menulis komentar, tanyakan kepada diri sendiri: apakah komentar ini akan membangun atau justru melukai? Apakah kata-kata ini mencerminkan kasih Kristus? Rasul Paulus mengingatkan agar perkataan kita menjadi berkat bagi mereka yang mendengarnya. Prinsip itu juga berlaku untuk setiap komentar, unggahan, maupun pesan yang kita kirimkan.
Kedua, jangan mudah percaya dan menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya.
Di era digital, kecepatan sering mengalahkan kebenaran. Banyak orang lebih suka menjadi yang pertama membagikan berita daripada memastikan apakah berita itu benar atau tidak. Padahal sekali informasi palsu tersebar, dampaknya bisa sangat besar. Nama baik seseorang dapat rusak hanya karena sebuah unggahan yang ternyata tidak benar.
Sebagai anak-anak Tuhan, kita dipanggil menjadi pembawa kebenaran, bukan penyebar kebohongan.
Ketiga, jadilah pembela bagi mereka yang lemah.
Ketika melihat seseorang menjadi korban perundungan digital, jangan ikut menertawakan atau menambah komentar negatif. Sebaliknya, berikan dukungan. Laporkan konten yang mengandung ujaran kebencian atau pelecehan jika memang diperlukan. Beranilah menyuarakan kebenaran dengan cara yang santun dan bertanggung jawab.
Membela bukan berarti ikut menyerang balik. Membela berarti menghadirkan kasih, keadilan, dan kebenaran di tengah situasi yang penuh kebencian.
Keempat, gunakan media sosial sebagai sarana kesaksian.
Media sosial bukan hanya tempat mencari hiburan, tetapi juga ladang pelayanan. Setiap unggahan kita dapat menjadi berkat atau sebaliknya menjadi batu sandungan.
Bayangkan jika setiap pemuda Kristen menggunakan media sosial untuk membagikan ayat firman Tuhan, cerita inspiratif, karya kreatif, edukasi yang bermanfaat, atau kata-kata yang menguatkan. Dunia digital akan menjadi tempat yang jauh lebih baik.
Tuhan memanggil kita menjadi garam dan terang, bukan hanya di dunia nyata, tetapi juga di dunia digital.
Sobat muda, Perlu kita sadari bahwa identitas kita bukan ditentukan oleh jumlah pengikut, jumlah "like", atau jumlah penonton. Dunia digital sering membuat kita mengejar pengakuan manusia. Demi mendapatkan perhatian, ada orang yang rela membuat konten yang merendahkan orang lain, menyebarkan sensasi, atau bahkan memancing pertengkaran.
Namun sebagai pengikut Kristus, nilai hidup kita berasal dari Tuhan, bukan dari algoritma media sosial. Karena itu, jangan biarkan media sosial mengubah karakter kita menjadi pribadi yang kasar, mudah marah, dan senang menghakimi.
Sebaliknya, biarlah kehadiran kita di dunia digital mencerminkan karakter Kristus: penuh kasih, rendah hati, jujur, bertanggung jawab, dan membawa damai. Akhirnya, firman Tuhan hari ini memberikan sebuah penghiburan sekaligus peringatan.
Penghiburan bagi mereka yang menjadi korban ketidakadilan. Jika hari ini kalian pernah dihina, dipermalukan, atau menjadi korban fitnah di media sosial, ingatlah bahwa Tuhan melihat semuanya. Ia adalah Pembela Agung yang tidak pernah meninggalkan anak-anak-Nya.
Namun firman ini juga menjadi peringatan bagi kita semua. Jangan sampai kita menjadi bagian dari budaya digital yang menindas. Jangan menjadi "haters". Jangan menjadi penyebar kebencian. Jangan ikut menghakimi tanpa mengetahui fakta yang sebenarnya.
Mari jadikan setiap akun media sosial kita sebagai ruang untuk menghadirkan kasih Kristus. Jadikan setiap unggahan sebagai kesaksian iman. Jadikan setiap komentar sebagai kesempatan untuk membangun sesama.
Kiranya ketika orang melihat jejak digital kita, mereka tidak menemukan kebencian, melainkan kasih. Mereka tidak menemukan fitnah, melainkan kebenaran. Mereka tidak menemukan penghinaan, melainkan pengharapan.
Sebab kita adalah murid-murid Kristus yang dipanggil untuk menjadi terang dunia, termasuk di dunia digital. Dan ketika kita memilih membela yang lemah, menyuarakan kebenaran, serta menggunakan media sosial dengan bijaksana, kita sedang ikut menghadirkan karya Tuhan Sang Pembela Agung di tengah dunia. Amin.
Doa : Ya Tuhan Yesus, terima kasih atas firman-Mu yang mengingatkan kami untuk menjadi pembela kebenaran dan bukan penindas, baik dalam perkataan maupun di media sosial. Tuntun kami menggunakan setiap kata dan tindakan untuk membawa kasih, keadilan, dan damai sejahtera. Jadikan hidup kami terang bagi sesama. Amin.
Editor : Alfianne Lumantow