Pembacaan Alkitab: Amsal 29:27
Tema: TEGUH DALAM KEBENARAN
"Orang bodoh menjijikkan bagi orang benar; orang yang jujur jalannya menjijikkan bagi orang fasik."
(Amsal 29:27)
Shalom, Bapak, Ibu, dan Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan. Bayangkan ada dua orang yang berjalan di jalan yang sama, tetapi dengan arah hati yang berbeda. Orang pertama memilih jalan kejujuran. Ia berusaha melakukan yang benar meskipun terkadang harus mengalami kerugian, kehilangan kesempatan, atau tidak mendapatkan keuntungan sebesar yang bisa diperoleh dengan cara yang salah
Orang kedua memilih jalan yang lebih mudah dan cepat. Ia mengambil jalan pintas, mengabaikan kebenaran, dan mengejar keuntungan pribadi.
Menariknya, kedua orang ini dapat melihat satu sama lain dengan cara pandang yang berbeda. Orang yang jujur mungkin dianggap bodoh karena tidak mengambil kesempatan yang ada. Sementara orang yang tidak jujur mungkin dianggap berhasil karena mampu mendapatkan apa yang diinginkannya.
Inilah realitas kehidupan yang sering kita jumpai. Dunia tidak selalu memberikan penghargaan kepada orang yang benar. Bahkan terkadang, orang yang mempertahankan kejujuran justru menghadapi tantangan yang lebih besar.
Melalui Amsal 29:27, Firman Tuhan mengingatkan kita bahwa hidup dalam kebenaran tidak selalu membuat seseorang diterima oleh semua orang. Ada kalanya pilihan untuk hidup benar justru menimbulkan penolakan.
Ayat ini berkata: "Orang bodoh menjijikkan bagi orang benar; orang yang jujur jalannya menjijikkan bagi orang fasik."
Kata "menjijikkan" dalam ayat ini menggambarkan adanya penolakan yang kuat akibat perbedaan nilai hidup. Ini bukan sekadar rasa tidak suka biasa, tetapi menunjukkan adanya benturan antara dua cara hidup yang berbeda.
Orang benar dan orang fasik memiliki standar kehidupan yang bertolak belakang.
Orang benar berusaha hidup sesuai dengan kehendak Tuhan. Ia menghargai kejujuran, keadilan, kasih, dan kebenaran. Keputusan hidupnya tidak hanya didasarkan pada keuntungan pribadi, tetapi pada apa yang berkenan kepada Allah.
Sebaliknya, orang fasik menggambarkan seseorang yang mengabaikan nilai-nilai Tuhan. Ia lebih memilih mengikuti keinginan diri sendiri, mengejar keuntungan, bahkan jika harus mengorbankan kebenaran. Perbedaan inilah yang sering kali menimbulkan konflik.
Saudara-saudara yang terkasih, Hidup benar bukan berarti kita akan selalu disukai. Bahkan, kadang-kadang hidup benar membuat kita terlihat berbeda. Ketika banyak orang memilih berbohong demi keuntungan, tetapi kita memilih berkata jujur, kita mungkin dianggap tidak pandai mengambil kesempatan.
Ketika banyak orang melakukan kecurangan dalam pekerjaan, tetapi kita tetap menjalankan tanggung jawab dengan benar, kita mungkin dianggap terlalu idealis. Ketika banyak orang membenarkan tindakan yang salah karena sudah menjadi kebiasaan, tetapi kita memilih berdiri pada prinsip Firman Tuhan, kita mungkin dianggap aneh.
Namun ingatlah, panggilan kita bukan untuk selalu mengikuti apa yang dilakukan banyak orang, melainkan untuk setia kepada Tuhan.
Yesus sendiri mengalami hal yang sama. Ia hidup dalam kebenaran, menyatakan kasih Allah, dan melakukan kehendak Bapa. Tetapi karena kebenaran yang dibawa-Nya, Ia juga mengalami penolakan dari banyak orang.
Kebenaran sering kali menjadi cermin. Ketika seseorang hidup benar, kehidupannya dapat menunjukkan kesalahan yang tidak ingin dilihat oleh orang lain. Bukan karena orang benar sengaja menghakimi, tetapi karena kehidupan yang benar secara alami menunjukkan perbedaan.
Sebuah ruangan yang gelap akan terasa terganggu ketika cahaya dinyalakan. Bukan karena cahaya itu salah, tetapi karena cahaya memperlihatkan sesuatu yang sebelumnya tersembunyi.
Demikian juga kehidupan orang percaya. Ketika kita hidup dalam kebenaran, mungkin ada orang yang merasa tidak nyaman. Tetapi tugas kita bukan mematikan terang tersebut agar diterima dunia. Tugas kita adalah tetap menjadi terang sebagaimana Tuhan memanggil kita.
Lalu bagaimana kita dapat tetap teguh dalam kebenaran?
Pertama, kita harus memahami bahwa sumber kebenaran adalah Tuhan, bukan pendapat manusia.
Pendapat manusia dapat berubah. Nilai dunia dapat bergeser. Apa yang dahulu dianggap salah bisa saja dianggap biasa oleh zaman. Namun Firman Tuhan tetap menjadi pedoman yang kokoh.
Karena itu, keputusan hidup kita tidak boleh hanya berdasarkan pertanyaan, "Apa kata orang?" tetapi terutama, "Apa yang Tuhan kehendaki?"
Kedua, kita perlu membangun keberanian iman.
Tidak mudah mempertahankan kebenaran ketika lingkungan sekitar memilih jalan yang berbeda. Ada tekanan untuk mengikuti arus. Ada rasa takut ditolak. Ada keinginan untuk diterima.
Namun iman yang dewasa membuat kita mengerti bahwa penerimaan manusia bukanlah tujuan utama hidup kita. Yang terutama adalah hidup berkenan di hadapan Tuhan.
Ketiga, tetaplah rendah hati ketika berdiri dalam kebenaran.
Teguh dalam kebenaran bukan berarti merasa diri paling benar atau merendahkan orang lain. Orang percaya dipanggil untuk menyatakan kebenaran dengan kasih.
Kita dapat berbeda pendapat tanpa membenci. Kita dapat menolak perbuatan yang salah tanpa kehilangan kasih kepada orangnya. Kita dapat mempertahankan prinsip tanpa menjadi sombong.
Kebenaran yang tidak disertai kasih dapat melukai, tetapi kasih yang tidak memiliki kebenaran dapat menyesatkan. Karena itu, keduanya harus berjalan bersama.
Keempat, percayalah bahwa Tuhan melihat kesetiaan kita. Mungkin manusia tidak selalu menghargai kejujuran kita. Mungkin usaha kita untuk melakukan yang benar tidak langsung menghasilkan keuntungan. Mungkin tidak ada penghargaan yang diberikan.
Namun Tuhan tidak pernah melupakan setiap tindakan yang dilakukan dalam kesetiaan. Tuhan melihat hati yang tetap jujur ketika ada kesempatan untuk curang. Tuhan melihat orang yang tetap mengampuni ketika disakiti.
Tuhan melihat orang yang tetap melayani meskipun tidak mendapatkan pujian. Di hadapan Tuhan, kesetiaan jauh lebih berharga daripada pengakuan manusia. Bapak, Ibu, dan Saudara-saudari yang terkasih,
Dunia membutuhkan orang-orang yang teguh dalam kebenaran. Bukan orang yang hanya berbicara tentang kebenaran, tetapi orang yang menghadirkannya melalui kehidupan sehari-hari.
Kebenaran harus terlihat dalam keluarga kita. Kebenaran harus terlihat dalam pekerjaan kita. Kebenaran harus terlihat dalam pelayanan kita. Kebenaran harus terlihat dalam cara kita memperlakukan sesama.
Jangan takut menjadi berbeda ketika perbedaan itu muncul karena kesetiaan kepada Tuhan. Jangan menyerah ketika kebaikan kita tidak langsung dihargai. Jangan mengubah prinsip hanya demi mendapatkan penerimaan sementara.
Sebab pada akhirnya, nilai hidup kita tidak ditentukan oleh seberapa banyak orang menyukai kita, tetapi oleh seberapa setia kita berjalan bersama Tuhan.
Mari tetap teguh dalam kebenaran. Jadilah pribadi yang jujur ketika dunia mengajarkan kompromi. Jadilah pribadi yang adil ketika dunia mengutamakan kepentingan diri. Jadilah pribadi yang setia ketika dunia menawarkan jalan yang mudah tetapi salah.
Kiranya Tuhan menolong kita untuk terus berjalan dalam kebenaran, sebab orang yang hidup dalam kebenaran tidak pernah berjalan sendirian. Tuhan menyertai dan menguatkan setiap langkah hidup kita.
Tuhan Yesus memberkati kita semua. Amin.
Doa : Ya Tuhan yang penuh kasih, terima kasih atas firman-Mu yang menguatkan kami untuk tetap teguh dalam kebenaran. Mampukan kami hidup jujur, setia, dan berani melakukan yang benar meskipun menghadapi tantangan. Biarlah kehidupan kami menjadi kesaksian yang memuliakan nama-Mu dan membawa berkat bagi sesama. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.
Editor : Alfianne Lumantow