Pembacaan Alkitab: Amsal 31:8-9
Tema: SUARA BAGI YANG TAK BERSUARA
"Bukalah mulutmu untuk orang yang bisu, untuk hak semua orang yang merana."
(Amsal 31:8)
Shalom, Bapak, Ibu, dan Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan. Di tengah dunia yang semakin ramai dengan berbagai suara, ternyata masih banyak orang yang tidak memiliki kesempatan untuk didengar.
Setiap hari kita mendengar berbagai pendapat, berita, perdebatan, dan berbagai macam informasi. Namun di balik banyaknya suara yang terdengar, ada orang-orang yang suaranya justru tenggelam.
Ada mereka yang lemah dan tidak memiliki kekuatan untuk memperjuangkan haknya. Ada mereka yang tersisih karena keadaan ekonomi, latar belakang, atau keterbatasan. Ada mereka yang mengalami ketidakadilan tetapi tidak tahu harus mengadu kepada siapa. Ada mereka yang memilih diam karena takut kehilangan pekerjaan, kehilangan penerimaan, atau menghadapi tekanan dari pihak yang lebih kuat.
Dalam situasi seperti ini, Firman Tuhan melalui Amsal 31:8-9 memberikan panggilan yang sangat jelas kepada umat Allah: "Bukalah mulutmu untuk orang yang bisu, untuk hak semua orang yang merana. Bukalah mulutmu, ambillah keputusan secara adil dan berikanlah keadilan kepada orang yang tertindas dan orang yang miskin."
Firman ini mengingatkan bahwa iman kepada Tuhan tidak boleh berhenti pada hubungan pribadi dengan Allah saja. Iman harus terlihat melalui kepedulian terhadap sesama, terutama mereka yang lemah dan membutuhkan pertolongan.
Kitab Amsal 31 berisi nasihat seorang ibu kepada anaknya, yaitu Raja Lemuel. Sebagai seorang pemimpin, ia memiliki tanggung jawab besar untuk menggunakan kekuasaan dengan benar. Seorang pemimpin tidak boleh hanya memikirkan kepentingan dirinya sendiri, tetapi harus memperhatikan mereka yang tidak memiliki kekuatan untuk membela diri.
Nasihat ini menunjukkan bahwa kepemimpinan yang benar bukanlah tentang kekuasaan untuk menguasai, melainkan tanggung jawab untuk melayani.
"Bukalah mulutmu untuk orang yang bisu" bukan hanya berbicara tentang orang yang tidak dapat berbicara secara fisik. Ayat ini juga menunjuk kepada orang-orang yang tidak memiliki ruang, kesempatan, atau keberanian untuk menyampaikan suara mereka.
Mereka mungkin memiliki hak, tetapi tidak memiliki akses untuk memperjuangkannya. Mereka mungkin mengalami penderitaan, tetapi tidak memiliki kekuatan untuk menyuarakannya. Mereka mungkin diperlakukan tidak adil, tetapi tidak memiliki posisi untuk melawan. Karena itu, Tuhan memanggil umat-Nya untuk menjadi suara bagi mereka yang tidak bersuara.
Saudara-saudara yang terkasih, Menjadi suara bagi yang tak bersuara bukan berarti kita berbicara dengan sembarangan atau bertindak berdasarkan emosi. Tuhan tidak memanggil kita untuk memperkeruh keadaan, menyebarkan kebencian, atau mencari perhatian diri sendiri.
Bersuara bagi kebenaran membutuhkan hikmat, kasih, dan integritas. Ada perbedaan antara suara yang membangun dan suara yang menghancurkan. Ada perbedaan antara memperjuangkan keadilan dan mencari keuntungan pribadi.
Ada perbedaan antara membela yang lemah dan menggunakan kelemahan orang lain untuk kepentingan tertentu. Karena itu, ketika kita berbicara bagi mereka yang membutuhkan pertolongan, kita harus memastikan bahwa yang kita sampaikan adalah kebenaran yang membawa pemulihan.
Kita perlu bertanya: Apakah suara kita membawa kasih? Apakah suara kita memperjuangkan kebenaran? Apakah suara kita memberi harapan bagi mereka yang sedang terluka? Sebab Tuhan tidak hanya melihat apa yang kita katakan, tetapi juga motivasi di balik perkataan kita.
Bapak, Ibu, dan Saudara-saudari yang terkasih, Dalam momentum HUT Pelkat Persekutuan Kaum Bapak GPIB, firman ini menjadi pengingat khusus bagi kaum bapak sebagai pribadi yang memiliki peran penting dalam keluarga, gereja, dan masyarakat.
Kaum bapak dipanggil bukan hanya menjadi pencari nafkah atau pemimpin secara struktur, tetapi juga menjadi teladan moral dan spiritual. Seorang bapak dipanggil untuk menjadi suara yang menghadirkan kasih dan kebenaran. Di dalam keluarga, seorang bapak menjadi suara yang memberikan penguatan, bukan suara yang melukai.
Seorang bapak menjadi teladan dalam kejujuran, bukan mengajarkan kompromi terhadap ketidakbenaran. Seorang bapak menjadi pelindung bagi anggota keluarga yang lemah, bukan menggunakan kekuasaan untuk menekan.
Di tengah masyarakat, kaum bapak juga dipanggil untuk memiliki keberanian moral. Ketika melihat ketidakadilan, jangan memilih diam hanya karena merasa bukan urusan kita. Ketika melihat seseorang diperlakukan tidak benar, jangan membiarkan ketakutan membuat kita kehilangan kepedulian.
Diam memang terkadang terasa lebih aman, tetapi ada saatnya diam berarti membiarkan ketidakadilan terus berlangsung.
Tentu saja, bersuara tidak selalu mudah. Ada risiko ketika seseorang memilih berdiri bagi kebenaran. Ada kemungkinan disalahpahami. Ada kemungkinan tidak disukai. Ada kemungkinan kehilangan kenyamanan.
Namun Tuhan tidak pernah memanggil kita untuk hanya mencari kenyamanan. Tuhan memanggil kita untuk menjadi alat-Nya dalam menghadirkan kasih dan keadilan.
Yesus Kristus sendiri memberikan teladan yang sempurna. Ia hadir bagi mereka yang tersisih: orang miskin, orang sakit, orang berdosa, dan mereka yang tidak memiliki tempat dalam masyarakat. Yesus tidak hanya berbicara tentang kasih, tetapi menghadirkan kasih melalui tindakan nyata.
Sebagai pengikut Kristus, kita dipanggil untuk melakukan hal yang sama. Menjadi suara bagi yang tidak bersuara dapat dimulai dari hal-hal sederhana. Ketika kita membela anggota keluarga yang diperlakukan tidak adil.
Ketika kita menolong rekan kerja yang mengalami kesulitan. Ketika kita tidak ikut menyebarkan fitnah terhadap seseorang yang tidak mampu membela dirinya. Ketika kita menggunakan posisi dan kemampuan yang Tuhan berikan untuk membantu orang lain. Semua itu adalah bentuk kesaksian iman.
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, Dunia tidak hanya membutuhkan orang-orang yang pintar berbicara, tetapi orang-orang yang berani berbicara untuk kebaikan. Dunia membutuhkan pemimpin yang tidak hanya mencari keuntungan pribadi, tetapi memperjuangkan kepentingan bersama.
Marilah kita menjadi pribadi yang membuka mulut bagi mereka yang membutuhkan pertolongan. Jadikan suara kita sebagai alat Tuhan untuk menghadirkan penghiburan, keadilan, dan pengharapan.
Bagi kaum bapak, jadilah pemimpin yang menghadirkan kasih Kristus dalam keluarga dan masyarakat. Jadilah teladan yang berani berkata benar, bertindak adil, dan melindungi mereka yang lemah.
Sebab ketika kita membela mereka yang tidak memiliki suara, sesungguhnya kita sedang mengambil bagian dalam pekerjaan Allah yang menghadirkan damai dan keadilan di dunia.
Kiranya Tuhan memampukan kita menjadi umat yang tidak hanya mendengar jeritan sesama, tetapi juga mau bertindak. Mari menjadi suara bagi yang tak bersuara. Tuhan Yesus memberkati kita semua. Amin.
Doa : Ya Tuhan yang penuh kasih, terima kasih atas firman-Mu yang memanggil kami menjadi suara bagi mereka yang lemah dan membutuhkan pertolongan. Berikan kami keberanian, hikmat, dan kerendahan hati untuk menyatakan kebenaran serta menghadirkan keadilan. Pakailah hidup kami menjadi alat kasih-Mu bagi sesama. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.
Editor : Alfianne Lumantow