Pembacaan Alkitab: 1 Petrus 1:17-25
Tema: KAMU MENUMPANG DI DUNIA INI
"...hendaklah kamu hidup dalam ketakutan selama kamu menumpang di dunia ini." (1 Petrus 1:17b)
Shalom, Bapak, Ibu, dan Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan. Dalam kehidupan sehari-hari, ketika mendengar kata "menumpang", biasanya kita memahami bahwa seseorang tinggal sementara di suatu tempat yang bukan miliknya sendiri. Orang yang menumpang akan berusaha menghargai tempat yang ia tinggali. Ia tidak akan bertindak sesuka hati, merusak, atau memperlakukan tempat tersebut seolah-olah menjadi miliknya secara mutlak.
Misalnya, ketika kita menumpang tinggal di rumah seseorang, tentu kita akan menjaga sikap. Kita menghormati pemilik rumah, mengikuti aturan yang ada, dan berusaha tidak melakukan hal-hal yang merugikan. Mengapa? Karena kita sadar bahwa tempat itu bukan milik kita.
Melalui surat 1 Petrus, kita diingatkan bahwa kehidupan manusia di dunia ini juga seperti seseorang yang sedang menumpang. Dunia ini bukan milik manusia sepenuhnya. Dunia adalah milik Tuhan, Sang Pencipta. Hidup yang kita jalani bukanlah hasil kekuatan kita sendiri, melainkan anugerah yang Tuhan percayakan kepada kita.
Karena itu, Petrus mengingatkan: "...hendaklah kamu hidup dalam ketakutan selama kamu menumpang di dunia ini."
Ketakutan yang dimaksud bukanlah rasa takut yang membuat kita menjauh dari Tuhan karena ketakutan terhadap hukuman. Ketakutan akan Tuhan berarti sikap hormat, tunduk, dan sadar akan kehadiran Allah dalam seluruh kehidupan kita.
Orang yang takut akan Tuhan menyadari bahwa hidupnya berada di hadapan Allah. Setiap perkataan, pikiran, keputusan, dan tindakan memiliki nilai di hadapan Tuhan.
Saudara-saudara yang terkasih, Petrus menulis surat ini kepada orang-orang percaya yang sedang mengalami berbagai pergumulan. Mereka hidup sebagai pendatang dan menghadapi tekanan karena iman kepada Kristus. Dalam keadaan tersebut, Petrus mengingatkan mereka agar tidak kehilangan arah hidup.
Mereka memang tinggal di dunia, tetapi mereka tidak boleh hidup dengan cara yang sama seperti dunia yang tidak mengenal Tuhan.
Mengapa? Karena mereka telah ditebus oleh Kristus.
Dalam ayat 18-19, Petrus mengingatkan bahwa manusia telah ditebus bukan dengan barang fana seperti emas atau perak, tetapi dengan darah Kristus yang mahal. Artinya, hidup kita memiliki nilai yang sangat besar di hadapan Allah.
Jika Kristus telah membayar harga yang begitu mahal untuk menebus kita, maka respons kita adalah menjalani hidup yang berkenan kepada-Nya.
Kita tidak boleh menjalani hidup secara sembarangan. Kita tidak boleh berpikir bahwa hidup hanya tentang mencari kesenangan sementara. Kita tidak boleh menghabiskan waktu hanya untuk mengejar hal-hal yang akan hilang. Sebab hidup ini adalah pemberian Tuhan dan harus dipertanggungjawabkan kepada Tuhan.
Saudara yang dikasihi Tuhan, Seorang penyair asal Lebanon, Kahlil Gibran, pernah menggambarkan manusia sebagai tamu dalam perjalanan kehidupan. Pandangan ini mengingatkan bahwa dunia bukanlah tujuan akhir manusia, melainkan tempat persinggahan sementara.
Walaupun manusia berusaha membangun kehidupan yang baik di dunia, tetap ada batasnya. Harta dapat habis. Jabatan dapat berakhir. Kekuatan fisik dapat menurun. Popularitas dapat hilang.
Namun hubungan kita dengan Tuhan memiliki nilai yang kekal. Karena itu, fokus utama hidup kita tidak boleh hanya tertuju pada hal-hal duniawi. Kita perlu terus mengarahkan hati kepada Tuhan sebagai sumber dan tujuan hidup kita.
Sering kali masalah terbesar manusia adalah kehilangan fokus. Kita lebih sibuk mengejar apa yang terlihat daripada memperhatikan apa yang bernilai kekal. Kita mengejar keberhasilan tetapi melupakan Tuhan. Kita mengejar kenyamanan tetapi mengabaikan tanggung jawab iman. Kita mengejar pengakuan manusia tetapi lupa mencari perkenanan Allah.
Akibatnya, hati kita perlahan-lahan menjadi jauh dari Tuhan. Kita mulai membenarkan hal-hal yang salah. Kita mulai kehilangan kepekaan terhadap suara hati nurani. Kita mulai menganggap dosa sebagai sesuatu yang biasa.
Padahal Tuhan merancang kehidupan kita untuk sesuatu yang baik. Allah tidak pernah merencanakan kehancuran bagi manusia. Allah menghendaki agar hidup kita menjadi indah dalam hubungan dengan-Nya dan menjadi berkat bagi sesama.
Namun sering kali manusialah yang memilih menjauh. Kita membiarkan hawa nafsu menguasai kehidupan. Kita lebih mengikuti keinginan diri daripada kehendak Tuhan. Kita menutup hati terhadap teguran Firman Tuhan.
Karena itu, firman hari ini mengajak kita untuk kembali mengingat siapa diri kita. Kita adalah milik Tuhan. Kita adalah orang-orang yang sedang menumpang di dunia ciptaan-Nya. Maka kita dipanggil untuk hidup dengan bijaksana. Bagaimana cara kita menjalani hidup sebagai orang yang menumpang di dunia ini?
Pertama, bangunlah hubungan yang dekat dengan Tuhan. Jangan hanya mencari Tuhan ketika mengalami masalah. Jadikan Tuhan sebagai pusat kehidupan setiap hari melalui doa, membaca Firman, dan membangun persekutuan dengan-Nya.
Kedua, gunakan kehidupan sebagai kesempatan untuk memuliakan Tuhan. Setiap kemampuan, waktu, pekerjaan, dan kesempatan yang kita miliki adalah pemberian Tuhan. Pergunakan semuanya untuk hal-hal yang baik dan membawa manfaat bagi sesama.
Ketiga, jagalah hubungan yang harmonis dengan sesama. Jika kita sadar bahwa semua manusia sama-sama menumpang di dunia milik Tuhan, maka kita tidak memiliki alasan untuk hidup dalam kesombongan, kebencian, atau permusuhan.
Kita dipanggil untuk saling mengasihi, mengampuni, dan membangun kehidupan bersama yang mencerminkan kasih Allah.
Keempat, jangan terikat kepada hal-hal yang sementara. Bukan berarti kita tidak boleh menikmati berkat Tuhan di dunia ini. Namun kita harus menyadari bahwa semua yang kita miliki adalah titipan. Jangan sampai berkat Tuhan menggantikan posisi Tuhan dalam hidup kita.
Bapak, Ibu, dan Saudara-saudari yang terkasih, Kesadaran bahwa kita hanya menumpang di dunia ini seharusnya membuat kita semakin rendah hati dan semakin dekat kepada Tuhan.
Kita tidak datang ke dunia ini untuk hidup sesuka hati. Kita datang untuk menjalankan kehendak Allah dan menjadi saksi kasih-Nya. Suatu hari perjalanan hidup kita di dunia ini akan berakhir. Tetapi selama Tuhan masih memberikan kesempatan, marilah kita menjalani hidup dengan penuh tanggung jawab.
Hiduplah dengan takut akan Tuhan. Hiduplah dalam kasih. Hiduplah dalam kebenaran. Hiduplah dengan menjadi berkat. Mari kita bangun kembali kehidupan bersama Tuhan. Perkuat hubungan pribadi dengan-Nya melalui doa dan iman yang tekun. Bangun persekutuan yang harmonis dengan sesama sehingga kehidupan kita menjadi pujian bagi kemuliaan Allah.
Sebab kita memang hanya menumpang di dunia ini, tetapi sebagai orang percaya kita memiliki tujuan yang mulia, yaitu memuliakan Tuhan melalui seluruh kehidupan kita. Tuhan Yesus memberkati kita semua. Amin.
Doa : Ya Tuhan yang penuh kasih, terima kasih atas firman-Mu yang mengingatkan kami bahwa hidup ini adalah anugerah dan titipan dari-Mu. Ajarlah kami menjalani kehidupan dengan takut akan Tuhan, setia dalam kebenaran, serta menjadi berkat bagi sesama. Tuntun langkah kami agar selalu memuliakan nama-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.
Editor : Alfianne Lumantow