PEMBACAAN ALKITAB : Kejadian 41:46–49
TEMA : BIJAK HARI INI, SEJAHTERA DI MASA DEPAN
Ayat Utama: "Yusuf mengumpulkan segala bahan makanan ketujuh tahun kelimpahan yang ada di tanah Mesir dan menyimpan bahan makanan itu di kota-kota; hasil ladang yang ada di sekeliling tiap-tiap kota, disimpan di dalam kota itu." (Kejadian 41:48)
Shalom, saudara-saudari yang dikasihi Tuhan. Kehidupan manusia tidak selalu berjalan dalam keadaan yang sama. Ada masa kelimpahan, tetapi ada juga masa kekurangan. Ada waktu di mana segala sesuatu berjalan dengan baik, tetapi ada juga masa ketika kita menghadapi kesulitan dan tantangan yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.
Karena itu, salah satu hal penting dalam menjalani kehidupan adalah memiliki hikmat untuk melihat masa kini dan mempersiapkan masa depan.
Firman Tuhan hari ini memperlihatkan kepada kita bagaimana Yusuf menjalankan tanggung jawab besar yang dipercayakan kepadanya. Setelah diangkat oleh Firaun menjadi penguasa atas Mesir, Yusuf tidak menggunakan kedudukannya untuk mencari keuntungan pribadi. Ia justru memakai kesempatan tersebut untuk mempersiapkan bangsa Mesir menghadapi masa kelaparan yang akan datang.
Yusuf mengajarkan kepada kita sebuah prinsip penting: orang yang bijaksana tidak hanya memikirkan apa yang terjadi hari ini, tetapi juga mempersiapkan apa yang mungkin terjadi di masa depan.
Saudara-saudari, Jika kita melihat perjalanan hidup Yusuf, sebenarnya tidak ada alasan secara manusiawi bagi Firaun untuk mempercayakan tanggung jawab sebesar itu kepadanya. Yusuf bukan seorang pejabat berpengalaman. Ia bukan seorang bangsawan Mesir. Ia bukan seseorang yang memiliki latar belakang pemerintahan. Bahkan sebelumnya, Yusuf hanyalah seorang budak asing dan seorang narapidana.
Namun mengapa Firaun berani memberikan kekuasaan besar kepada Yusuf? Jawabannya adalah karena Firaun melihat sesuatu yang berbeda dalam diri Yusuf. Ia melihat hikmat yang berasal dari Allah. Ia melihat karakter yang telah dibentuk melalui berbagai proses kehidupan.
Yusuf bukan hanya memiliki kemampuan untuk menafsirkan mimpi, tetapi juga memiliki karakter yang dapat dipercaya. Inilah hal yang sering kali dilupakan manusia. Kita mudah mengagumi kemampuan seseorang, tetapi Tuhan melihat lebih dalam, yaitu karakter dan hati seseorang.
Kemampuan dapat membawa seseorang mendapatkan kesempatan, tetapi karakter yang menentukan apakah seseorang mampu menjaga kepercayaan yang diberikan kepadanya.
Yusuf memiliki karakter yang kuat karena ia telah melewati proses panjang bersama Tuhan. Di rumah Potifar, ia belajar tentang tanggung jawab. Di penjara, ia belajar tentang kesetiaan. Dalam penantian panjang, ia belajar tentang kesabaran. Semua proses itu membentuk Yusuf menjadi pribadi yang siap ketika Tuhan membuka pintu kesempatan.
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Ada dua hal penting yang dapat kita pelajari dari tindakan Yusuf dalam mempersiapkan masa depan.
Pertama, Yusuf menyadari bahwa berkat Tuhan harus menjadi berkat bagi orang lain.
Ayat 47 mengatakan bahwa selama tujuh tahun kelimpahan, tanah itu menghasilkan panen yang berlimpah-limpah. Namun Yusuf tidak melihat kelimpahan itu hanya sebagai kesempatan untuk memperkaya diri sendiri.
Ia tidak berkata, "Ini waktunya saya menikmati semuanya." Sebaliknya, Yusuf melihat kelimpahan itu sebagai tanggung jawab. Ia mengumpulkan hasil panen dan menyimpannya di berbagai kota. Ia membangun sistem persediaan makanan agar bangsa Mesir dapat bertahan ketika masa kelaparan tiba.
Inilah hati seorang pemimpin yang memiliki hikmat dari Tuhan. Ia tidak hanya berpikir tentang dirinya sendiri, tetapi juga tentang kebutuhan banyak orang.
Dalam kehidupan kita, Tuhan juga memberikan berbagai berkat dan kesempatan. Ada yang diberikan kemampuan, pendidikan, pekerjaan, kesehatan, waktu, dan sumber daya.
Pertanyaannya adalah: untuk apa semua itu diberikan? Apakah hanya untuk kepentingan diri sendiri? Ataukah Tuhan ingin memakai apa yang kita miliki untuk menjadi berkat bagi orang lain?
Tuhan memberkati kita bukan supaya kita berhenti pada diri sendiri, tetapi supaya melalui kita orang lain juga mengalami kebaikan Tuhan.
Kedua, Yusuf mengajarkan pentingnya mempersiapkan diri menghadapi masa depan.
Yusuf memahami bahwa tujuh tahun kelimpahan tidak akan berlangsung selamanya. Akan datang tujuh tahun kelaparan. Karena itu, ia tidak terlena oleh keadaan yang nyaman.
Sering kali manusia memiliki kelemahan ketika berada dalam keadaan baik. Ketika semuanya berjalan lancar, kita merasa tidak membutuhkan persiapan. Kita merasa keadaan akan selalu sama.
Namun kehidupan dapat berubah. Keadaan ekonomi dapat berubah. Kesehatan dapat berubah. Situasi keluarga dapat berubah. Karena itu, kita membutuhkan hikmat Tuhan untuk mengelola kehidupan dengan bijaksana. Dalam hal keuangan, kita perlu belajar bertanggung jawab.
Dalam pekerjaan, kita perlu terus meningkatkan kemampuan. Dalam keluarga, kita perlu membangun hubungan yang sehat. Dalam kehidupan rohani, kita perlu terus bertumbuh dalam iman. Jangan menunggu masalah datang baru kita mulai mempersiapkan diri.
Yusuf mengajarkan bahwa masa kelimpahan adalah kesempatan untuk mempersiapkan masa kesulitan.
Saudara-saudari, Kisah Yusuf juga mengingatkan bahwa setiap keadaan yang Tuhan izinkan terjadi memiliki tujuan. Terkadang kita hanya melihat masalah sebagai sesuatu yang harus dihindari. Namun Tuhan dapat memakai masalah untuk membentuk dan mendewasakan kita.
Kesulitan dapat mengajarkan kesabaran. Kegagalan dapat mengajarkan kerendahan hati. Penantian dapat mengajarkan kepercayaan kepada Tuhan. Pergumulan dapat membuat kita semakin bergantung kepada Allah.
Kita mungkin tidak selalu memahami alasan Tuhan mengizinkan suatu peristiwa terjadi, tetapi kita dapat percaya bahwa Tuhan tidak pernah kehilangan kendali. Allah yang menyertai Yusuf dalam masa sulit adalah Allah yang sama yang menyertai kita hari ini.
Dia mampu mengubah keadaan yang buruk menjadi sesuatu yang mendatangkan kebaikan. Karena itu, jangan hanya melihat keadaan sekarang dengan mata manusia. Belajarlah melihat dengan iman bahwa Tuhan sedang bekerja.
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Hidup ini adalah pemberian Tuhan yang harus dijalani dengan hikmat. Jangan merasa terlalu aman dengan apa yang kita miliki saat ini. Kekayaan memiliki batas. Jabatan memiliki masa. Kekuatan manusia dapat berubah. Tetapi Tuhan tetap menjadi dasar kehidupan kita.
Karena itu, mari gunakan setiap kesempatan yang Tuhan berikan dengan bijaksana. Jika Tuhan memberi kelimpahan, gunakan untuk menjadi berkat. Jika Tuhan memberi tanggung jawab, jalankan dengan setia.
Jika Tuhan mengizinkan masa sulit, tetaplah percaya bahwa Dia sedang membentuk kehidupan kita.
Saudara-saudari yang terkasih, Yusuf mengajarkan bahwa keberhasilan bukan hanya tentang mencapai posisi tinggi, tetapi tentang bagaimana kita menggunakan kesempatan yang Tuhan berikan untuk membawa kebaikan bagi banyak orang.
Ia bijak pada masa kelimpahan sehingga bangsa Mesir memiliki harapan pada masa kekurangan. Demikian juga kita dipanggil untuk hidup bijaksana hari ini agar memiliki kekuatan menghadapi masa depan.
Mari percaya bahwa Tuhan memiliki rancangan yang baik bagi hidup kita. Tetaplah berjalan dalam iman, gunakan hikmat yang Tuhan berikan, dan persiapkan diri dengan sungguh-sungguh dalam setiap musim kehidupan.
Sebab Tuhan yang memegang masa lalu, masa kini, dan masa depan kita adalah Tuhan yang setia dan tidak pernah meninggalkan umat-Nya. Amin.
Doa : Bapa yang penuh kasih, kami bersyukur atas firman-Mu yang mengajar kami hidup bijaksana. Mampukan kami mengelola setiap berkat dan kesempatan dengan penuh tanggung jawab. Berikan kami hikmat dalam menghadapi masa depan dan hati yang selalu percaya pada penyertaan-Mu. Jadikan hidup kami berkat bagi sesama. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.
Editor : Alfianne Lumantow