Pembacaan Alkitab: 3 Yohanes 1:5–8
TEMA : SIRKULASI KEMURAHAN HATI
Nas Firman: "Mereka telah bersaksi di hadapan jemaat tentang kasihmu. Sudilah kiranya engkau menolong mereka dalam perjalanan mereka, dengan cara yang berkenan kepada Allah." (3 Yohanes 1:6)
Salam sejahtera dalam kasih Tuhan Yesus Kristus.
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, Pernahkah kita mengenal seseorang yang hampir tidak pernah menolak untuk menolong orang lain? Rumahnya mungkin sederhana, tetapi pintunya selalu terbuka.
Teleponnya hampir tidak pernah sepi. Ada yang datang meminta nasihat, meminjam kendaraan, meminta didoakan, atau sekadar mencari tempat untuk mengeluhkan persoalan hidup. Waktunya banyak tersita untuk melayani sesama.
Mungkin ada orang yang bertanya, "Apakah ia tidak lelah?" Tentu ia juga manusia yang memiliki keterbatasan. Namun, yang menarik adalah sering kali orang seperti ini justru mengalami pemeliharaan Tuhan dengan cara-cara yang mengagumkan.
Ketika ia menolong orang lain, Tuhan menghadirkan orang lain untuk menolongnya. Ketika ia memberi, Tuhan mencukupkan kebutuhannya. Seolah-olah ada sebuah aliran kasih yang tidak pernah berhenti mengalir.
Inilah yang dapat kita sebut sebagai sirkulasi kemurahan hati. Kemurahan hati tidak berhenti pada satu orang, tetapi terus mengalir dari satu kehidupan kepada kehidupan yang lain, menjadi saluran berkat yang dipakai Tuhan.
Firman Tuhan hari ini memperkenalkan kembali kepada kita seorang tokoh yang bernama Gayus. Dalam surat 3 Yohanes, Rasul Yohanes menyampaikan penghargaan kepada Gayus karena kesetiaannya mendukung pelayanan para penginjil yang sedang melakukan perjalanan memberitakan Injil.
Pada masa itu, menjadi seorang penginjil bukanlah pekerjaan yang mudah. Mereka harus menempuh perjalanan jauh dengan berjalan kaki atau menggunakan sarana transportasi yang sangat terbatas. Jalan-jalan penuh risiko. Ancaman perampok selalu ada. Penginapan belum tentu aman, bersih, atau layak. Tidak jarang mereka harus mengandalkan keramahan saudara-saudara seiman agar dapat beristirahat dan memperoleh makanan.
Karena itulah, praktik hospitalitas, yaitu keramahtamahan kepada orang asing yang melayani Tuhan, menjadi bagian penting dari kehidupan jemaat mula-mula. Menyediakan tempat menginap, makanan, atau bekal perjalanan bukan sekadar tindakan sosial. Semua itu merupakan bentuk nyata partisipasi dalam pemberitaan Injil.
Yohanes mengetahui bahwa Gayus adalah orang yang dapat dipercaya. Ia meminta Gayus agar terus mendukung para pelayan Tuhan "dengan cara yang berkenan kepada Allah." Menariknya, Yohanes tidak sedang membujuk seseorang yang pelit agar menjadi murah hati. Ia justru meminta bantuan kepada orang yang memang sejak dahulu dikenal memiliki hati yang terbuka.
Ayat 6 mengatakan bahwa banyak orang telah memberikan kesaksian mengenai kasih Gayus. Kata "bersaksi" menunjukkan bahwa kehidupan Gayus telah diamati oleh banyak orang. Dalam tradisi Israel, menurut Ulangan 19:15, kesaksian dua atau tiga orang sudah cukup untuk membuktikan suatu perkara. Di sini, bukan hanya dua atau tiga orang yang berbicara. Banyak orang memberikan kesaksian yang sama mengenai kemurahan hati Gayus.
Hal ini mengingatkan kita bahwa reputasi yang baik tidak dibangun dalam satu hari. Reputasi lahir dari kebiasaan hidup yang konsisten. Orang mengenal Gayus sebagai pribadi yang murah hati karena ia memang terus-menerus hidup demikian.
Saudara-saudara, Kemurahan hati sejati tidak lahir dari kekayaan yang melimpah. Banyak orang yang memiliki banyak harta tetapi sulit berbagi. Sebaliknya, ada orang yang hidup sederhana namun selalu menemukan cara untuk menolong sesamanya.
Kemurahan hati berasal dari hati yang terlebih dahulu disentuh oleh kasih Allah.
Ketika kita menyadari bahwa segala sesuatu yang kita miliki berasal dari Tuhan, kita tidak lagi memandang harta, waktu, tenaga, atau kemampuan sebagai milik pribadi semata. Semua itu adalah titipan Tuhan yang dapat dipakai untuk memberkati orang lain.
Karena itu, kemurahan hati bukan hanya soal uang. Ada orang yang memberikan waktunya untuk mengunjungi orang sakit. Ada yang menyediakan kendaraan bagi mereka yang membutuhkan. Ada yang membuka rumah untuk persekutuan doa. Ada yang dengan sabar mendengarkan pergumulan orang lain. Ada pula yang setiap hari mendoakan jemaat tanpa diketahui siapa pun.
Semua itu adalah bentuk kemurahan hati yang berharga di hadapan Tuhan. Yang menarik, Rasul Yohanes mengatakan bahwa ketika kita menolong para pelayan Tuhan, kita sedang mengambil bagian dalam pekerjaan Allah sendiri.
Kita mungkin tidak berdiri di mimbar. Kita mungkin tidak menjadi penginjil yang pergi ke berbagai daerah. Namun ketika kita menopang pelayanan mereka, kita ikut ambil bagian dalam pemberitaan Injil.
Dengan kata lain, ada banyak cara untuk melayani Tuhan. Ada yang diutus pergi. Ada yang mengutus melalui doa. Ada yang menopang melalui tenaga. Ada pula yang menopang melalui persembahan dan dukungan materi. Semuanya sama-sama penting dalam Kerajaan Allah.
Saudara-saudara, GPIB memiliki semangat yang sama melalui berbagai bentuk pelayanan bersama. Salah satunya adalah program Sahabat Pendeta. Program ini mengajak seluruh warga jemaat untuk bersama-sama menopang pelayanan para pendeta yang melayani di Pos Pelkes atau daerah-daerah pelayanan yang memiliki keterbatasan. Tidak semua jemaat memiliki kemampuan yang sama untuk mendukung pelayanannya. Karena itu, gereja mengajak seluruh warga untuk bergandengan tangan agar pelayanan tetap berlangsung dengan baik.
Melalui program ini kita belajar bahwa pelayanan gereja bukan hanya tanggung jawab pendeta atau Majelis Sinode. Pelayanan adalah tanggung jawab seluruh umat Allah. Ketika kita mengambil bagian sesuai kemampuan kita, sesungguhnya kita sedang menjaga agar Injil terus diberitakan kepada lebih banyak orang.
Inilah yang dimaksud dengan sirkulasi kemurahan hati. Tuhan memberkati kita, lalu kita memberkati sesama. Mereka yang diberkati kemudian menjadi saluran berkat bagi orang lain. Kasih Allah terus mengalir, tidak berhenti pada satu orang.
Sebaliknya, bila kemurahan hati berhenti pada diri kita, aliran berkat itu menjadi tersumbat. Tuhan memanggil kita bukan menjadi penampung berkat, melainkan penyalur berkat.
Marilah kita juga mengingat bahwa setiap pemberian yang dilakukan dengan kasih tidak pernah sia-sia. Tuhan melihat setiap persembahan, sekecil apa pun nilainya. Tuhan memperhatikan setiap waktu yang kita korbankan. Tuhan menghargai setiap pelayanan yang dilakukan dengan tulus.
Karena itu, jangan pernah berpikir bahwa apa yang kita lakukan terlalu kecil. Lima roti dan dua ikan di tangan Tuhan mampu mengenyangkan ribuan orang. Demikian pula, kemurahan hati yang sederhana dapat dipakai Tuhan menghasilkan dampak yang besar bagi Kerajaan-Nya.
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, Kiranya kehidupan Gayus menjadi inspirasi bagi kita semua. Jadilah pribadi yang dikenal bukan karena kekayaan atau jabatan, melainkan karena kasih yang nyata kepada sesama.
Jadilah orang yang dapat dipercaya untuk menopang pekerjaan Tuhan. Jadilah saluran berkat yang membuat kasih Allah terus mengalir kepada banyak orang.
Mari kita mengambil bagian dalam setiap kesempatan pelayanan yang Tuhan percayakan kepada kita, termasuk melalui program-program gereja yang menopang pelayanan secara berkesinambungan. Dengan demikian, kita ikut menghadirkan sirkulasi kemurahan hati yang memuliakan nama Tuhan dan membawa banyak orang mengalami kasih Kristus.
Kiranya Roh Kudus memampukan kita menjadi pribadi-pribadi yang murah hati, setia berbagi, dan rela menopang pelayanan bagi kemuliaan nama Tuhan. Amin.
Doa : Ya Bapa yang Mahamurah, kami bersyukur atas firman-Mu yang mengajarkan kami hidup dalam kemurahan hati. Mampukan kami menjadi saluran berkat bagi sesama, setia menopang pelayanan-Mu melalui doa, tenaga, dan persembahan. Pakailah hidup kami untuk kemuliaan nama-Mu. Dalam nama Yesus Kristus kami berdoa. Amin.
Editor : Alfianne Lumantow