Pembacaan Alkitab: Kejadian 20:6–7
TEMA : KEHADIRAN YANG MEMULIHKAN RELASI
Nas Firman: "Sekarang kembalikanlah istri orang itu, sebab dia seorang nabi. Ia akan berdoa untuk engkau dan engkau tetap hidup. Namun, jika engkau tidak mengembalikan dia, ketahuilah engkau pasti mati, engkau dan semua orang yang bersamamu." (Kejadian 20:7)
Salam sejahtera dalam kasih Tuhan Yesus Kristus.
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, Salah satu hal yang paling sulit dipulihkan dalam hidup adalah relasi yang telah rusak. Luka fisik mungkin dapat sembuh dalam beberapa minggu, tetapi luka karena kebohongan, pengkhianatan, penyalahgunaan kuasa, atau hilangnya kepercayaan sering kali membutuhkan waktu yang jauh lebih lama. Bahkan ada hubungan yang hancur hanya karena satu keputusan yang keliru.
Di tengah kehidupan yang penuh dengan berbagai kepentingan, relasi antarmanusia sering dibangun di atas dasar yang rapuh. Ada relasi yang dibangun karena keuntungan ekonomi. Ada yang bertahan karena kekuasaan. Ada pula yang dipelihara hanya selama masing-masing pihak masih memperoleh manfaat. Ketika kepentingan berubah, hubungan pun mudah retak.
Firman Tuhan hari ini mengajak kita melihat bagaimana Allah sendiri hadir untuk memulihkan sebuah relasi yang telah tercemar oleh ketakutan, penyalahgunaan kuasa, dan kebohongan.
Kisah ini merupakan kelanjutan dari peristiwa ketika Abraham tinggal di Gerar. Karena takut dibunuh akibat kecantikan Sara, Abraham meminta istrinya mengaku sebagai saudara perempuan. Kebohongan itu membuat Abimelekh, raja Gerar, mengambil Sara ke dalam istananya.
Dari sudut pandang manusia, mungkin hubungan antara Abraham dan Abimelekh tampak baik. Abraham memperoleh perlindungan sebagai orang asing. Ia tidak dibunuh. Bahkan ia menerima perlakuan yang baik dari raja.
Namun Allah melihat sesuatu yang berbeda. Allah melihat bahwa hubungan itu dibangun di atas dasar yang salah. Abimelekh memanfaatkan kekuasaannya untuk mengambil Sara. Abraham memanfaatkan kebohongan demi keselamatan dirinya.
Sara menjadi pihak yang paling dirugikan karena harus menanggung akibat dari keputusan dua laki-laki yang sama-sama memiliki kepentingan.
Di sinilah kita belajar bahwa tidak semua hubungan yang tampak damai sebenarnya berada dalam keadaan yang benar di hadapan Allah. Sebuah relasi mungkin terlihat harmonis di permukaan, tetapi jika dibangun di atas ketidakjujuran, ketidakadilan, atau penyalahgunaan kuasa, relasi itu sesungguhnya sedang mengalami kerusakan.
Allah tidak membiarkan keadaan ini berlangsung. Pada malam hari Allah menemui Abimelekh melalui mimpi. Tuhan menyatakan bahwa Sara adalah istri Abraham dan harus dikembalikan.
Menariknya, Allah juga mengakui bahwa Abimelekh bertindak dengan hati yang tulus karena ia tidak mengetahui keadaan yang sebenarnya. Namun, ketidaktahuan itu tidak mengubah kenyataan bahwa Sara tetap milik Abraham.
Firman Tuhan menunjukkan bahwa Allah bukan hanya Allah yang menghukum, tetapi juga Allah yang memulihkan. Allah tidak langsung membinasakan Abimelekh. Allah terlebih dahulu memberikan kesempatan untuk memperbaiki kesalahan. Allah membuka jalan agar hubungan yang rusak dapat dipulihkan.
Yang lebih menarik lagi adalah cara Allah memulihkan hubungan itu. Tuhan berkata kepada Abimelekh, "Dia seorang nabi. Ia akan berdoa untuk engkau dan engkau tetap hidup."
Ini merupakan penyebutan pertama Abraham sebagai seorang nabi di dalam Alkitab. Mengapa disebut nabi? Bukan karena Abraham sempurna. Bukan karena ia tidak pernah berbuat salah. Justru pada saat itu Abraham baru saja melakukan kebohongan.
Namun Allah tetap memakai Abraham sebagai perantara doa bagi Abimelekh. Hal ini mengingatkan kita bahwa panggilan Allah tidak didasarkan pada kesempurnaan manusia, melainkan pada kasih karunia-Nya. Allah memang menegur Abraham melalui peristiwa ini, tetapi Allah tidak membatalkan panggilan-Nya.
Abraham tetap dipanggil menjadi alat berkat bagi bangsa-bangsa. Perhatikan pula sesuatu yang sangat indah. Orang yang telah dirugikan oleh situasi ini justru dipanggil untuk menjadi saluran berkat bagi orang lain.
Abraham diminta mendoakan Abimelekh. Abimelekh diminta mengembalikan Sara. Masing-masing harus mengambil langkah yang benar agar pemulihan dapat terjadi. Inilah prinsip pemulihan yang diajarkan firman Tuhan.
Pemulihan bukan hanya soal mengakui kesalahan. Pemulihan juga membutuhkan tindakan nyata untuk memperbaiki apa yang telah rusak. Tanpa tindakan, pengakuan hanya menjadi kata-kata. Tanpa pertobatan, hubungan tidak akan pulih.
Saudara-saudara, Dalam kehidupan kita, mungkin ada hubungan yang sedang mengalami keretakan. Mungkin terjadi karena perkataan yang menyakitkan. Mungkin karena salah paham yang dibiarkan berlarut-larut. Mungkin karena ego yang membuat masing-masing enggan meminta maaf.
Atau mungkin karena penyalahgunaan kepercayaan yang menimbulkan luka mendalam. Firman Tuhan hari ini mengingatkan bahwa Allah selalu menghendaki pemulihan.
Memang tidak semua relasi dapat kembali seperti semula. Ada luka yang membutuhkan proses panjang. Namun sebagai orang percaya, kita dipanggil menjadi pribadi yang membuka ruang bagi rekonsiliasi, bukan memperbesar permusuhan.
Hal ini juga berlaku dalam kehidupan bergereja. Gereja adalah persekutuan orang-orang yang sedang bertumbuh, bukan kumpulan manusia yang sudah sempurna. Karena itu, perbedaan pendapat, kesalahpahaman, bahkan konflik dapat terjadi.
Namun gereja dipanggil untuk menjadi tempat di mana kasih Kristus bekerja memulihkan. Bukan tempat yang memelihara dendam. Bukan tempat yang memperpanjang pertikaian. Bukan pula tempat mencari siapa yang paling benar.
Sebaliknya, gereja dipanggil menghadirkan damai sejahtera Allah melalui pengampunan, kejujuran, dan kasih. Lebih luas lagi, gereja memiliki panggilan untuk menjadi pembawa damai di tengah masyarakat, bangsa, dan dunia.
Di tengah polarisasi sosial, gereja dipanggil menjadi jembatan. Di tengah kebencian, gereja menghadirkan kasih. Di tengah ketidakadilan, gereja menyuarakan kebenaran. Di tengah konflik, gereja membawa semangat rekonsiliasi. Inilah makna kehadiran gereja sebagai tubuh Kristus.
Bukan sekadar berkumpul untuk beribadah, tetapi hadir membawa pemulihan bagi dunia. Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, Kita juga belajar bahwa pemulihan hanya mungkin terjadi ketika setiap pihak bersedia melakukan kehendak Tuhan.
Abimelekh harus mengembalikan Sara. Abraham harus berdoa. Keduanya sama-sama mengambil bagian dalam proses pemulihan. Demikian pula dalam kehidupan kita. Kadang Tuhan meminta kita meminta maaf terlebih dahulu. Kadang Tuhan meminta kita mengampuni lebih dahulu. Kadang Tuhan meminta kita melepaskan ego demi memulihkan hubungan.
Semuanya membutuhkan kerendahan hati. Tetapi justru melalui kerendahan hati itulah damai sejahtera Allah dinyatakan. Marilah kita menjadi gereja yang menghadirkan pemulihan. Mulailah dari keluarga kita. Lanjutkan dalam persekutuan jemaat.
Nyatakan dalam lingkungan kerja dan masyarakat. Kiranya setiap kehadiran kita membawa pengharapan, bukan pertikaian; membawa pengampunan, bukan kebencian; membawa kehidupan, bukan kehancuran.
Sebab Allah yang memulihkan hubungan antara Abraham dan Abimelekh adalah Allah yang sama, yang melalui Yesus Kristus telah lebih dahulu memulihkan hubungan kita dengan diri-Nya. Kini, Ia mengutus kita menjadi pembawa damai dan alat rekonsiliasi bagi dunia.
Kiranya Roh Kudus memampukan kita menjadi pribadi-pribadi yang menghadirkan kasih, keadilan, dan pemulihan di mana pun kita berada, sehingga melalui kehidupan kita, nama Tuhan dimuliakan dan banyak orang mengalami damai sejahtera-Nya. Amin.
Doa : Ya Bapa yang penuh kasih, kami bersyukur atas firman-Mu yang mengajarkan kami menjadi pembawa damai dan pemulih relasi. Mampukan kami mengakui kesalahan, mengampuni dengan tulus, serta membangun kehidupan yang dilandasi kasih dan kebenaran. Pakailah gereja-Mu menjadi saluran damai bagi dunia. Dalam nama Yesus Kristus kami berdoa. Amin.
Editor : Alfianne Lumantow