Pembacaan Alkitab: Kejadian 20:11–13
TEMA : MERAGUKAN ALLAH MENYEBABKAN SALAH LANGKAH
Nas Firman: "Lalu Abraham berkata, 'Pikirku tidak ada takut Allah di tempat ini, sehingga aku akan dibunuh karena istriku.'" (Kejadian 20:11)
Salam sejahtera dalam kasih Tuhan Yesus Kristus.
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, Dalam kehidupan, setiap orang pasti pernah menghadapi situasi yang membuat takut dan cemas. Ketika berada dalam tekanan, manusia cenderung mencari cara untuk menyelamatkan diri. Ada yang mengambil keputusan dengan tenang dan bijaksana, tetapi ada pula yang bertindak terburu-buru karena dikuasai ketakutan.
Ketakutan dapat memengaruhi cara seseorang berpikir. Ketika rasa takut menguasai hati, manusia sering kali hanya melihat ancaman yang ada di depan mata dan melupakan kehadiran Tuhan yang menyertai hidupnya.
Firman Tuhan hari ini memperlihatkan kepada kita pengalaman Abraham yang berada dalam situasi seperti itu. Abraham, seorang yang dikenal sebagai bapa orang beriman, ternyata juga pernah mengalami kelemahan iman. Ketika menghadapi ancaman, ia tidak sepenuhnya mengandalkan Allah, melainkan mengandalkan pikirannya sendiri.
Peristiwa ini terjadi ketika Abraham tinggal di wilayah Gerar bersama Sara. Sebelumnya, Abraham meminta Sara mengatakan bahwa dirinya adalah saudara Abraham, bukan istrinya. Hal itu dilakukan karena Abraham takut bahwa Abimelekh, raja Gerar, akan mengambil Sara dan membunuh dirinya.
Ketika akhirnya Abimelekh mengetahui kebenaran dan menanyakan alasan Abraham melakukan hal tersebut, Abraham menjawab: "Pikirku tidak ada takut Allah di tempat ini, sehingga aku akan dibunuh karena istriku."
Jawaban Abraham menunjukkan bahwa tindakannya berawal dari sebuah pikiran yang salah tentang Allah dan manusia.
Abraham berpikir bahwa orang-orang Gerar tidak mengenal Allah dan tidak memiliki rasa takut akan Tuhan. Karena itu, ia menyimpulkan bahwa dirinya berada dalam bahaya. Ia merasa harus menyusun strategi agar dapat bertahan hidup.
Masalahnya adalah Abraham mengambil keputusan berdasarkan ketakutannya, bukan berdasarkan kepercayaannya kepada Allah.
Padahal Allah telah memanggil Abraham keluar dari negerinya. Allah telah memberikan janji bahwa Abraham akan menjadi berkat bagi bangsa-bangsa. Allah telah berulang kali menunjukkan penyertaan-Nya dalam perjalanan hidup Abraham. Namun, dalam situasi tertentu, Abraham lupa bahwa Allah tetap hadir.
Saudara-saudara, Inilah bahaya ketika seseorang mulai meragukan Allah. Ketika kita meragukan bahwa Tuhan hadir dan mampu menolong kita, kita akan mulai mengandalkan kekuatan dan perhitungan kita sendiri.
Kita mulai berpikir bahwa keberhasilan hidup sepenuhnya bergantung pada kecerdikan kita. Kita mulai merasa bahwa untuk bertahan hidup, kita boleh melakukan apa saja. Padahal tidak semua cara yang terlihat menyelamatkan benar di hadapan Tuhan.
Abraham memang ingin menyelamatkan dirinya, tetapi cara yang dipilihnya justru menempatkan Sara dalam posisi yang berbahaya. Abraham mengorbankan orang yang seharusnya ia lindungi.
Sebagai suami, Abraham memiliki tanggung jawab untuk menjaga Sara. Namun karena ketakutan, ia menjadikan Sara sebagai alat untuk mempertahankan hidupnya.
Hal ini menunjukkan bahwa ketakutan yang tidak diserahkan kepada Tuhan dapat membuat seseorang kehilangan kepekaan terhadap orang lain. Orang yang dikuasai ketakutan hanya melihat keselamatan dirinya sendiri.
Ia lupa bahwa keputusan yang dibuatnya dapat melukai orang-orang terdekat. Ia lupa bahwa hidup bersama Tuhan tidak pernah hanya berbicara tentang diri sendiri, tetapi juga tentang bagaimana kita mengasihi dan memperhatikan sesama.
Saudara-saudara, Kisah Abraham ini juga mengajak kita merenungkan kehidupan keluarga, khususnya relasi suami dan istri. Dalam Kejadian 2:24, firman Tuhan mengatakan bahwa laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.
Menjadi satu berarti suami dan istri tidak lagi berjalan sebagai dua pribadi yang terpisah dalam kepentingan masing-masing. Mereka dipanggil untuk saling menopang, saling melindungi, dan saling menghargai.
Ketika menghadapi masalah, pasangan suami istri tidak dipanggil untuk mencari keselamatan sendiri dengan mengorbankan pasangannya. Sebaliknya, mereka dipanggil untuk menghadapi tantangan bersama sebagai satu tubuh.
Seorang suami tidak boleh menjadikan istrinya sebagai korban demi kepentingannya sendiri. Seorang istri tidak boleh melihat suaminya sebagai lawan yang harus dikalahkan. Keduanya dipanggil untuk membangun relasi yang didasarkan pada kasih, kesetiaan, dan penyertaan Allah.
Tentu kita menyadari bahwa kehidupan keluarga tidak selalu mudah. Ada tantangan ekonomi, perbedaan karakter, tekanan pekerjaan, dan berbagai persoalan lainnya. Dalam situasi seperti itu, godaan untuk berpikir hanya tentang diri sendiri dapat muncul.
Namun firman Tuhan mengingatkan bahwa keluarga yang dibangun bersama Tuhan akan belajar menghadapi persoalan bukan dengan ketakutan, melainkan dengan iman.
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, Kita juga dapat melihat bahwa Abraham berusaha membela dirinya di hadapan Abimelekh. Ia menjelaskan bahwa Sara memang masih memiliki hubungan keluarga dengannya karena mereka seayah tetapi berbeda ibu. Abraham ingin menunjukkan bahwa perkataannya tidak sepenuhnya salah.
Namun, alasan tersebut tidak mengubah kenyataan bahwa ia telah menyembunyikan identitas Sara sebagai istrinya. Kadang-kadang manusia juga melakukan hal yang sama. Ketika ditegur atas kesalahan, kita lebih mudah mencari pembenaran daripada mengakui kekeliruan. Kita mencari alasan agar tindakan kita terlihat benar.
Padahal pertumbuhan iman dimulai ketika kita berani melihat diri kita dengan jujur di hadapan Tuhan. Allah tidak mencari manusia yang tidak pernah salah. Allah mencari manusia yang mau bertobat dan kembali berjalan dalam kehendak-Nya.
Kisah Abraham menunjukkan bahwa Tuhan tetap bekerja meskipun manusia memiliki kelemahan. Allah tidak membiarkan kesalahan Abraham menghancurkan rencana-Nya. Allah tetap menjaga Sara dan menuntun Abraham untuk belajar percaya kepada-Nya.
Karena itu, ketika menghadapi tantangan hidup, marilah kita bertanya: Apakah saya sedang mengambil keputusan karena iman atau karena ketakutan? Apakah saya sedang mempercayakan hidup kepada Tuhan atau hanya mengandalkan kemampuan diri sendiri? Apakah keputusan saya membawa kebaikan bagi orang lain atau hanya menyelamatkan diri saya?
Saudara-saudara, Meragukan Allah dapat membawa kita kepada langkah yang keliru. Sebaliknya, percaya kepada Allah menolong kita mengambil keputusan yang benar.
Ketika Tuhan menjadi dasar kehidupan kita, kita tidak perlu menyelamatkan diri dengan cara yang merugikan orang lain. Kita dapat berjalan dalam kejujuran, kasih, dan tanggung jawab.
Kiranya Tuhan menolong kita untuk selalu mengingat bahwa Ia hadir dalam setiap pergumulan. Dalam keluarga, pekerjaan, pelayanan, dan kehidupan bermasyarakat, biarlah iman kepada Tuhan lebih besar daripada ketakutan kita.
Sebab Allah yang menyertai Abraham adalah Allah yang sama yang menyertai kita hari ini. Ia memanggil kita bukan untuk hidup dalam ketakutan, melainkan hidup dalam kepercayaan kepada kasih dan pemeliharaan-Nya. Amin.
Doa : Ya Tuhan yang setia, kami bersyukur atas firman-Mu yang mengingatkan kami untuk percaya kepada penyertaan-Mu. Ampuni keraguan dan ketakutan kami yang sering membuat kami salah melangkah. Ajarlah kami hidup dalam iman, kasih, dan tanggung jawab, terutama dalam membangun relasi dengan sesama. Dalam nama Yesus Kristus kami berdoa. Amin.
Editor : Alfianne Lumantow