Gapki: Serapan B50 Gerus Ekspor CPO

Pratama Karamoy • Dipublikasikan Senin, 3 Agustus 2026 | 16:22 WIB
SUPLAI TERTAHAN: Gapki memperkirakan kenaikan produksi CPO pada tahun ini minim karena sejumlah faktor. Mulai dari dampak El Nino, penurunan produktivitas tanaman, hingga program peremajaan yang masih berlangsung. (Foto: STIPA YULINNAS/ANTARA FOTO)
SUPLAI TERTAHAN: Gapki memperkirakan kenaikan produksi CPO pada tahun ini minim karena sejumlah faktor. Mulai dari dampak El Nino, penurunan produktivitas tanaman, hingga program peremajaan yang masih berlangsung. (Foto: SYIPA YULINNAS/ANTARA FOTO)

 

JAKARTA - Program mandatori biodiesel B50 diperkirakan membuat ekspor minyak sawit mentah (CPO) Indonesia menghadapi tekanan. Meningkatnya kebutuhan pasar domestik diperkirakan menyerap lebih banyak pasokan sawit, sementara pertumbuhan produksi masih terbatas. Wakil Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Lolita Bangun mengatakan, produksi sawit nasional pada 2026 diperkirakan hanya tumbuh kurang dari 2 persen.

Peningkatan itu tertahan sejumlah faktor, mulai dari dampak El Nino sejak Mei 2026, penurunan produktivitas tanaman, hingga program peremajaan (replanting) yang masih berlangsung. Di sisi lain, implementasi program B50 sejak Juli 2026 diperkirakan meningkatkan kebutuhan CPO domestik sekitar 1,9 juta ton dibandingkan kebutuhan program B40 tahun lalu. "Total kebutuhan CPO untuk B50 diperkirakan mencapai sekitar 14,6 juta ton. Kebutuhan itu masih dapat dipenuhi, tetapi berpotensi mengurangi volume ekspor," ujarnya kemarin (2/8). Lolita menjelaskan, kombinasi pertumbuhan produksi yang terbatas dan meningkatnya konsumsi domestik membuat pasokan untuk pasar internasional semakin ketat. Kondisi tersebut sekaligus diperkirakan menjaga harga CPO tetap tinggi setelah rata-rata mencapai USD 1.432 per metrik ton pada semester pertama 2026.

Baca Juga: INDONESIA VS VIETNAM: Jangan Terpancing Permainan Keras Tamu

Negara Tujuan

Dari sisi pasar ekspor, Tiongkok diperkirakan tetap menjadi tujuan utama minyak sawit Indonesia. Sepanjang 2025, pengiriman ke negara tersebut meningkat 12 persen menjadi hampir 6 juta ton, didominasi produk hilir seperti minyak sawit olahan dan oleokimia. Sebaliknya, ekspor ke India turun 18 persen, sedangkan ekspor ke Uni Eropa dan Amerika Serikat masing-masing melemah 3 persen dan 1 persen. Di luar pasar tradisional, ekspor justru tumbuh cukup tinggi ke sejumlah negara. Pengiriman ke Malaysia meningkat 52 persen, Bangladesh 48 persen, kawasan Afrika 31 persen, dan Rusia 17 persen. Selain menghadapi keterbatasan pasokan, industri sawit juga dibayang-bayangi kenaikan biaya produksi akibat gejolak geopolitik di Timur Tengah.

Percepat Hilirisasi

Lolita mengungkapkan, harga pupuk naik sekitar 30 persen sejak Maret 2026 setelah Tiongkok membatasi ekspor pupuk. "Secara keseluruhan, biaya logistik dan asuransi tambahan diperkirakan meningkat sekitar 50 persen dibandingkan kondisi normal," katanya. Di tengah berbagai tantangan tersebut, lanjut dia, industri sawit perlu mempercepat hilirisasi melalui pengembangan produk bernilai tambah tinggi, seperti specialty chemicals, bioplastik, bio-pelumas, dan surfaktan berbasis bahan baku terbarukan. (bil/dio)

Editor : Pratama Karamoy
Sumber : Koran Jawa Pos
Headline