Pembacaan Alkitab: Kejadian 21:22–24
Tema: Berlaku Baik Agar Orang Lain Mengakui
"Pada waktu itu Abimelekh beserta Pikhol, panglima tentaranya, berkata kepada Abraham: 'Allah menyertai engkau dalam segala sesuatu yang kaulakukan.'" (Kejadian 21:22)
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Setiap orang tentu ingin dihormati, dihargai, dan diterima oleh orang lain. Namun, penghormatan yang sejati bukan diperoleh karena jabatan, kekayaan, atau kekuasaan, melainkan karena karakter hidup yang mencerminkan kebaikan dan penyertaan Tuhan. Orang mungkin tidak selalu mendengarkan apa yang kita katakan, tetapi mereka selalu memperhatikan bagaimana kita hidup.
Itulah yang kita lihat dalam kehidupan Abraham. Pada saat berada di negeri Gerar, Abraham bukanlah penduduk asli. Ia hanyalah seorang pendatang. Sebagai orang asing, tentu ia hidup dengan berbagai keterbatasan. Ia harus menyesuaikan diri dengan aturan yang berlaku dan hidup berdampingan dengan masyarakat setempat. Posisinya sangat rentan. Sedikit saja melakukan kesalahan, ia dapat kehilangan kepercayaan bahkan menghadapi ancaman dari penguasa setempat.
Situasi seperti ini juga sering kita alami. Banyak dari kita hidup di lingkungan yang beragam, bekerja di tempat yang dipenuhi berbagai karakter orang, atau melayani di tengah masyarakat yang tidak semuanya memiliki iman yang sama. Dalam keadaan seperti itu, kita sedang menjadi "surat Kristus" yang dibaca oleh banyak orang. Cara kita berbicara, bekerja, memperlakukan sesama, dan menghadapi masalah menjadi kesaksian yang dilihat orang setiap hari.
Firman Tuhan mengatakan bahwa Abimelekh datang menemui Abraham dan berkata, "Allah menyertai engkau dalam segala sesuatu yang kaulakukan." Perkataan ini sangat menarik. Abimelekh bukanlah bagian dari umat perjanjian Allah, tetapi ia mampu melihat bahwa kehidupan Abraham berbeda. Ia mengakui bahwa keberhasilan Abraham bukan semata-mata karena kecerdasan atau kekayaannya, tetapi karena penyertaan Allah.
Pengakuan itu tidak muncul begitu saja. Abraham telah belajar dari kesalahan-kesalahan masa lalunya. Sebelumnya ia pernah bertindak karena ketakutan sehingga tidak sepenuhnya jujur. Namun setelah mengalami didikan Tuhan, Abraham bertumbuh menjadi pribadi yang lebih dewasa dalam iman. Ia berusaha hidup sesuai kehendak Allah, sehingga Tuhan menyertai setiap langkahnya.
Di sinilah kita belajar bahwa kehidupan yang diberkati Tuhan bukanlah kehidupan yang sempurna tanpa kesalahan, tetapi kehidupan yang mau terus bertobat dan diperbarui. Tuhan tidak mencari manusia yang tidak pernah jatuh, melainkan hati yang mau dibentuk dan taat kepada-Nya.
Saudara-saudari, Keberhasilan Abraham ternyata menimbulkan kecemburuan dan perselisihan. Para hamba Abraham dan hamba Abimelekh berselisih mengenai sumur air. Dalam kondisi seperti ini sebenarnya sangat mudah bagi Abraham untuk membalas atau memperbesar konflik. Namun yang terjadi justru sebaliknya.
Abimelekh memilih datang kepada Abraham untuk mengadakan perjanjian damai. Mengapa? Karena ia melihat bahwa Abraham adalah pribadi yang dapat dipercaya. Ia percaya bahwa Abraham tidak akan berlaku curang. Bahkan Abimelekh meminta Abraham bersumpah agar tidak berbuat jahat terhadap dirinya maupun keturunannya.
Sungguh menarik bahwa orang yang dahulu pernah merasa curiga kepada Abraham, kini justru ingin menjalin hubungan damai dengannya. Semua itu terjadi karena hidup Abraham telah menjadi kesaksian yang nyata.
Kita belajar bahwa orang yang hidup dalam kebenaran tidak perlu sibuk membela nama baiknya. Pada waktunya Tuhan sendiri yang akan membuat orang lain mengakui integritasnya. Mungkin hari ini ada orang yang salah paham terhadap kita, meragukan kejujuran kita, atau bahkan memperlakukan kita dengan tidak adil. Jangan cepat membalas dengan kejahatan. Tetaplah hidup benar di hadapan Tuhan. Cepat atau lambat, buah dari kehidupan yang benar akan terlihat.
Di zaman sekarang, dunia sangat membutuhkan orang-orang percaya yang memiliki integritas. Banyak orang pandai, tetapi sedikit yang jujur. Banyak orang berhasil, tetapi tidak semuanya hidup benar. Karena itu, sebagai orang Kristen kita dipanggil menjadi garam dan terang dunia.
Di lingkungan kerja, hendaknya kita bekerja dengan sungguh-sungguh, tidak bermalas-malasan, tidak mengambil yang bukan hak kita, tidak memanipulasi laporan, dan tidak mencari keuntungan dengan cara yang tidak benar.
Di dalam keluarga, kita dipanggil untuk hidup dalam kasih, saling menghormati, dan menjadi teladan bagi anak-anak. Di tengah masyarakat, kita hendaknya dikenal sebagai pribadi yang ramah, suka menolong, menjaga perkataan, dan membawa damai.
Sering kali orang tidak langsung percaya kepada Injil hanya karena mendengar khotbah. Tetapi mereka dapat mulai percaya ketika melihat kehidupan orang percaya yang berbeda.
Ketika mereka melihat kita tetap jujur walaupun ada kesempatan untuk curang, tetap sabar ketika diperlakukan tidak adil, tetap mengampuni ketika disakiti, dan tetap setia melayani tanpa mencari pujian, mereka akan bertanya dalam hati, "Apa yang membuat hidup orang ini berbeda?" Saat itulah nama Tuhan dimuliakan.
Tentu hidup benar bukan berarti kita tidak akan mengalami masalah. Abraham tetap menghadapi konflik, tantangan, dan kesalahpahaman. Demikian pula kita. Kadang-kadang justru ketika kita berusaha hidup benar, ada orang yang iri, memfitnah, atau menghalangi langkah kita. Namun firman Tuhan mengingatkan bahwa penyertaan Allah jauh lebih besar daripada segala tantangan yang kita hadapi.
Karena itu, jika ada orang yang berbuat curang kepada kita, jangan membalas dengan kecurangan. Jika ada yang membenci kita, jangan membalas dengan kebencian. Tetaplah berbuat baik dan doakan mereka. Sikap seperti inilah yang diajarkan oleh Tuhan Yesus. Kebaikan yang lahir dari kasih Kristus memiliki kuasa untuk melembutkan hati orang yang keras sekalipun.
Abimelekh akhirnya datang mencari perdamaian dengan Abraham. Ini menunjukkan bahwa kehidupan yang benar dapat membuka jalan menuju damai. Orang yang dahulu menjadi lawan dapat berubah menjadi sahabat ketika melihat karya Tuhan dalam hidup kita.
Saudara-saudari yang terkasih, Sebagai warga negara Indonesia dan sebagai pengikut Kristus, kita memiliki tanggung jawab untuk menjadi berkat di mana pun Tuhan menempatkan kita.
Kita dipanggil bukan hanya menjadi orang percaya di dalam gereja, tetapi juga menjadi saksi Kristus di rumah, di tempat kerja, di sekolah, di lingkungan masyarakat, dan di mana pun kita berada.
Marilah kita menjaga integritas dalam perkataan, kejujuran dalam pekerjaan, keadilan dalam tindakan, kesetiaan dalam pelayanan, dan kasih dalam setiap relasi kita. Biarlah melalui kehidupan kita, orang lain dapat melihat bahwa Tuhan benar-benar menyertai kita, sebagaimana Abimelekh melihat penyertaan Tuhan dalam kehidupan Abraham.
Kiranya ketika orang melihat kehidupan kita, mereka bukan hanya memuji kita, tetapi mereka memuliakan Allah yang kita sembah. Itulah kesaksian hidup yang paling indah.
Marilah kita hidup sebagai anak-anak Tuhan yang mencerminkan karakter Kristus. Jangan lelah berbuat baik sekalipun tidak selalu dihargai. Tetaplah jujur ketika orang lain memilih jalan yang curang. Tetaplah setia ketika orang lain mudah menyerah. Tetaplah mengasihi ketika dunia dipenuhi kebencian. Sebab Tuhan menyertai setiap orang yang hidup menurut kehendak-Nya.
Kiranya melalui kehidupan kita, banyak orang dapat berkata seperti Abimelekh kepada Abraham, "Allah menyertai engkau dalam segala sesuatu yang kaulakukan." Dan melalui pengakuan itu, nama Tuhan semakin dipermuliakan. Amin.
Doa : Ya Bapa di surga, kami bersyukur atas firman-Mu hari ini. Tolong kami hidup dalam kebaikan, kejujuran, dan kasih sehingga melalui kehidupan kami, nama-Mu dimuliakan. Sertailah setiap langkah, pekerjaan, dan pelayanan kami. Jadikan kami pembawa damai dan berkat bagi sesama. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.
Editor : Alfianne Lumantow