Pembacaan Alkitab: Kejadian 21:25–27
Tema: Setia dalam Perjanjian
"Lalu Abraham mengambil kambing domba dan lembu serta memberikan semuanya itu kepada Abimelekh. Kemudian keduanya mengikat perjanjian." (Kejadian 21:27)
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Hidup manusia tidak pernah terlepas dari perjanjian. Sejak lahir hingga akhir kehidupan, kita hidup dalam berbagai bentuk komitmen dan kesepakatan. Ada perjanjian yang tertulis, ada pula yang tidak tertulis. Dalam keluarga, suami dan istri mengikat diri melalui janji perkawinan.
Dalam dunia kerja, seseorang menandatangani perjanjian kerja sebagai bentuk kesediaan menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab. Dalam kehidupan bermasyarakat, kita menaati aturan sebagai bagian dari komitmen hidup bersama.
Bahkan sebagai warga gereja, kita pernah mengucapkan janji di hadapan Tuhan dan jemaat ketika diteguhkan sebagai anggota sidi, penatua, diaken, pengurus pelayanan, atau pelayan dalam berbagai bidang.
Semua perjanjian itu memiliki satu makna yang sama, yaitu adanya komitmen untuk setia kepada apa yang telah disepakati. Perjanjian bukan sekadar formalitas atau upacara, melainkan ikatan yang harus dijaga dengan penuh tanggung jawab.
Lebih daripada itu, Alkitab menyatakan bahwa Allah kita adalah Allah Perjanjian. Seluruh sejarah keselamatan menunjukkan kesetiaan Allah terhadap janji-Nya. Bahkan Alkitab yang kita baca terdiri atas Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, yang menjadi bukti bahwa Allah terus memelihara hubungan-Nya dengan umat manusia melalui kasih dan kesetiaan-Nya.
Dalam bacaan hari ini kita melihat Abraham dan Abimelekh mengadakan sebuah perjanjian damai. Sebelumnya, hubungan mereka sempat mengalami ketegangan. Abraham mengajukan keberatan karena sumur miliknya telah dirampas oleh hamba-hamba Abimelekh. Sumur pada masa itu bukan sekadar sumber air, tetapi sumber kehidupan. Kehilangan sumur berarti kehilangan penghidupan bagi keluarga dan ternaknya.
Menariknya, ketika Abraham menyampaikan keberatannya, Abimelekh tidak marah ataupun membela bawahannya secara membabi buta. Ia menjelaskan bahwa dirinya tidak mengetahui kejadian tersebut karena tidak pernah diberi laporan. Ia mendengarkan penjelasan Abraham dengan terbuka.
Sikap ini mengajarkan bahwa kesalahpahaman sering kali muncul bukan karena niat jahat, tetapi karena kurangnya komunikasi. Banyak hubungan menjadi rusak karena orang lebih cepat menyimpulkan daripada mencari penjelasan.
Abraham memilih menyampaikan persoalannya secara langsung, sedangkan Abimelekh memilih mendengar sebelum mengambil keputusan. Inilah sikap yang patut diteladani dalam keluarga, gereja, maupun masyarakat.
Setelah persoalan itu dibicarakan, Abraham memberikan kambing domba dan lembu kepada Abimelekh sebagai tanda pengesahan perjanjian. Pemberian itu bukanlah suap atau pembayaran, melainkan simbol bahwa kedua belah pihak sepakat hidup dalam damai dan saling menghormati hak masing-masing.
Perjanjian itu tidak hanya diucapkan dengan kata-kata, tetapi diwujudkan melalui tindakan nyata. Sebab kesetiaan tidak cukup dinyatakan melalui perkataan, melainkan dibuktikan melalui perbuatan.
Saudara-saudari, Di sinilah firman Tuhan berbicara kepada kita. Sering kali kita mudah mengucapkan janji, tetapi sulit memeliharanya. Pada saat baptisan atau sidi, kita berjanji hidup setia kepada Kristus.
Ketika menikah, kita berjanji mengasihi pasangan dalam suka maupun duka. Ketika menerima tugas pelayanan, kita berjanji melayani dengan penuh tanggung jawab. Ketika diterima bekerja, kita berjanji melaksanakan pekerjaan dengan jujur dan disiplin.
Namun kenyataannya, tidak sedikit janji yang kemudian dilupakan. Kesibukan, kepentingan pribadi, godaan dunia, atau rasa lelah membuat komitmen yang dahulu diucapkan dengan sungguh-sungguh perlahan memudar.
Ada yang mulai meninggalkan ibadah, mengabaikan pelayanan, bekerja tanpa integritas, atau tidak lagi memegang teguh tanggung jawab yang telah dipercayakan.
Firman Tuhan hari ini mengingatkan bahwa kesetiaan adalah salah satu karakter yang sangat dihargai oleh Allah. Tuhan tidak hanya melihat seberapa besar kemampuan kita, tetapi juga seberapa setia kita menjalankan tanggung jawab yang telah dipercayakan kepada kita.
Yang menjadi teladan utama adalah Allah sendiri. Sejak awal hingga akhir Alkitab, Allah tidak pernah mengingkari janji-Nya. Sekalipun manusia berulang kali jatuh dalam dosa dan tidak setia, Allah tetap membuka jalan keselamatan melalui Tuhan Yesus Kristus.
Pengorbanan Yesus di kayu salib adalah bukti terbesar bahwa Allah setia kepada perjanjian kasih-Nya. Ia memenuhi janji keselamatan bukan karena manusia layak menerimanya, tetapi karena kasih karunia-Nya yang tidak pernah berubah.
Karena Allah setia, maka umat-Nya pun dipanggil untuk hidup dalam kesetiaan. Kesetiaan kepada Tuhan diwujudkan melalui kehidupan doa yang tekun, ibadah yang sungguh-sungguh, serta ketaatan kepada firman-Nya. Kesetiaan kepada keluarga diwujudkan melalui kasih, kesabaran, dan tanggung jawab.
Kesetiaan dalam pekerjaan terlihat melalui kejujuran, disiplin, dan semangat melayani, bukan hanya ketika diawasi, tetapi juga ketika tidak ada yang melihat. Kesetiaan dalam pelayanan gereja tampak melalui kerelaan melayani tanpa mencari pujian atau kedudukan.
Di zaman sekarang, kesetiaan menjadi sesuatu yang semakin langka. Dunia sering mengajarkan bahwa komitmen boleh berubah jika sudah tidak menguntungkan. Tetapi firman Tuhan mengajarkan sebaliknya. Orang percaya dipanggil menjadi pribadi yang dapat dipercaya. Apa yang diucapkan harus sesuai dengan yang dilakukan. Janji yang diucapkan harus dipegang dengan sungguh-sungguh.
Ketika orang Kristen dikenal sebagai pribadi yang setia, jujur, dan dapat dipercaya, nama Tuhan akan dipermuliakan. Sebaliknya, ketika kita mengingkari janji dan mengabaikan tanggung jawab, bukan hanya nama kita yang tercemar, tetapi kesaksian tentang Kristus juga menjadi lemah di mata dunia.
Saudara-saudari yang terkasih, Marilah kita menjadikan kisah Abraham dan Abimelekh sebagai pelajaran berharga. Mereka menyelesaikan persoalan dengan dialog, membangun kembali kepercayaan, dan mengikat perjanjian yang dijaga bersama. Hubungan yang baik selalu dibangun di atas kejujuran, saling menghormati, dan kesetiaan terhadap komitmen.
Hari ini, marilah kita memeriksa kembali hati kita. Apakah kita masih setia kepada janji yang pernah kita ucapkan kepada Tuhan? Apakah kita masih menjalankan tanggung jawab sebagai anggota keluarga, pelayan gereja, pekerja, dan warga negara dengan sungguh-sungguh? Jangan sampai janji yang dahulu kita ucapkan hanya menjadi kenangan tanpa pelaksanaan.
Kiranya Roh Kudus menolong kita untuk menjadi pribadi yang setia, sebab kesetiaan bukan hanya soal kemampuan manusia, melainkan buah dari kehidupan yang terus berjalan bersama Tuhan.
Marilah kita belajar dari teladan Allah yang tidak pernah mengingkari janji-Nya dan dari Abraham yang menghormati perjanjian yang telah dibuatnya. Biarlah setiap perkataan yang kita ucapkan menjadi komitmen yang kita pegang, setiap tanggung jawab yang dipercayakan kita jalankan dengan sungguh-sungguh, dan setiap pelayanan yang kita lakukan menjadi persembahan yang berkenan kepada Tuhan.
Kiranya Tuhan Yesus, yang setia sampai mati di kayu salib demi menggenapi janji keselamatan Allah, memberi kita kekuatan untuk hidup setia kepada-Nya setiap hari. Dengan demikian, kehidupan kita menjadi kesaksian yang memuliakan nama Tuhan dan membawa berkat bagi banyak orang. Amin.
Doa : Ya Bapa yang Mahasetia, kami bersyukur atas firman-Mu hari ini. Tolong kami menjadi pribadi yang setia dalam setiap janji, tanggung jawab, dan pelayanan yang Engkau percayakan. Mampukan kami hidup dalam ketaatan dan kasih, sehingga nama-Mu dimuliakan melalui kehidupan kami. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus kami berdoa. Amin.
Editor : Alfianne Lumantow