Pembacaan Alkitab: Kejadian 21:28–31
Tema: Membarui Perjanjian
"Jawabnya: 'Ketujuh anak domba betina itu harus kauterima dari tanganku sebagai tanda bukti bagiku bahwa akulah yang menggali sumur ini.'" (Kejadian 21:30)
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Setiap hubungan yang dibangun di atas kasih dan kepercayaan memerlukan komitmen untuk terus dipelihara. Tidak ada hubungan yang selalu berjalan mulus. Dalam keluarga, persahabatan, pekerjaan, pelayanan, bahkan dalam kehidupan bergereja, pasti ada perbedaan pendapat, kesalahpahaman, atau persoalan yang muncul.
Yang membedakan hubungan yang bertahan dengan hubungan yang hancur bukanlah ada atau tidaknya masalah, melainkan kesediaan untuk memperbaiki dan memperbarui komitmen ketika masalah itu muncul.
Sering kali kita merasa keberatan terhadap isi sebuah kesepakatan atau perjanjian. Kita mungkin merasa diperlakukan tidak adil, kurang dihargai, atau hak kita diabaikan. Namun, daripada menyampaikan keberatan secara terbuka, kita memilih diam. Lama-kelamaan, rasa kecewa itu berkembang menjadi kepahitan. Dari kepahitan lahirlah ketidakpercayaan, dan akhirnya hubungan yang dahulu baik menjadi retak.
Firman Tuhan hari ini mengajarkan bahwa ketika ada persoalan dalam sebuah perjanjian, jalan keluarnya bukan membatalkan hubungan, melainkan memperbarui perjanjian itu dengan kejujuran dan itikad baik.
Dalam bacaan kita, Abraham dan Abimelekh telah mengadakan perjanjian damai. Namun Abraham merasa masih ada satu persoalan penting yang belum terselesaikan, yaitu mengenai sumur yang telah digalinya. Sumur itu pernah dirampas oleh hamba-hamba Abimelekh. Bagi Abraham, persoalan ini tidak boleh dibiarkan begitu saja karena suatu hari dapat kembali menimbulkan konflik.
Abraham tidak memilih memendam masalah. Ia juga tidak membiarkan perjanjian yang baru dibuat menjadi rapuh karena persoalan yang belum diselesaikan. Dengan penuh hikmat ia mengambil tujuh anak domba betina dan memisahkannya dari ternak yang lain. Tindakan ini menarik perhatian Abimelekh, sehingga ia bertanya mengenai maksud dari ketujuh anak domba tersebut.
Abraham kemudian menjelaskan bahwa ketujuh anak domba itu harus diterima sebagai tanda bahwa dialah yang menggali sumur itu. Dengan menerima pemberian tersebut, Abimelekh mengakui hak Abraham atas sumur Bersyeba.
Hal yang menarik ialah Abimelekh tidak menolak permintaan itu. Ia menerima penjelasan Abraham dan bersedia memperbarui isi perjanjian mereka. Akhirnya keduanya kembali bersumpah, dan hubungan mereka menjadi semakin kuat karena persoalan yang berpotensi menimbulkan konflik telah diselesaikan.
Saudara-saudari, Kisah ini mengajarkan bahwa hubungan yang sehat memerlukan keberanian untuk berbicara dengan jujur dan kerendahan hati untuk mendengarkan. Banyak konflik sebenarnya dapat diselesaikan apabila kedua belah pihak mau membuka diri, saling menghargai, dan mencari jalan damai.
Sayangnya, dalam kehidupan sehari-hari kita sering melakukan hal yang sebaliknya. Ketika kecewa terhadap pasangan, kita memilih diam. Ketika tersinggung terhadap sesama pelayan, kita menyimpan rasa sakit hati. Ketika merasa diperlakukan tidak adil di tempat kerja, kita memendam kemarahan tanpa mencari penyelesaian yang baik. Semua itu menjadi seperti bara api yang terus membesar di dalam hati hingga akhirnya merusak hubungan.
Firman Tuhan mengingatkan kita agar jangan membiarkan masalah kecil berkembang menjadi luka yang besar. Jika ada sesuatu yang perlu dibicarakan, lakukanlah dengan kasih. Jika ada yang perlu diperjelas, jelaskanlah dengan jujur. Jika ada kesepakatan yang perlu diperbarui, lakukanlah dengan semangat membangun, bukan untuk saling menyalahkan.
Sikap Abraham menunjukkan kedewasaan iman. Ia tidak memaksakan kehendaknya, tetapi menggunakan cara yang bijaksana agar Abimelekh memahami persoalan yang ada. Abraham tidak ingin menang sendiri, melainkan menginginkan kejelasan yang membawa damai bagi kedua belah pihak.
Di sinilah kita melihat bahwa memperbarui perjanjian bukanlah tanda kegagalan, melainkan tanda kedewasaan. Orang yang dewasa tidak takut mengakui bahwa ada hal-hal yang perlu diperbaiki. Sebaliknya, ia berusaha menjaga hubungan agar tetap sehat dan bertumbuh.
Lebih jauh lagi, tema pembaruan perjanjian merupakan salah satu benang merah dalam seluruh Alkitab. Allah adalah Pribadi yang setia memelihara hubungan dengan umat-Nya. Ketika manusia berulang kali jatuh ke dalam dosa, Allah tidak langsung memutuskan hubungan itu. Sebaliknya, Ia terus memperbarui perjanjian-Nya.
Allah memperbarui perjanjian dengan Abraham sebagai dasar lahirnya bangsa pilihan. Melalui Musa, Allah memperbarui hubungan-Nya dengan Israel melalui pemberian hukum Taurat. Pada zaman Yosua, bangsa Israel kembali diajak memperbarui komitmen untuk setia kepada Tuhan ketika memasuki Tanah Perjanjian.
Puncak dari seluruh pembaruan itu terjadi melalui Tuhan Yesus Kristus. Melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Allah mengadakan Perjanjian Baru yang membawa pengampunan dosa dan keselamatan bagi semua orang yang percaya kepada-Nya. Darah Kristus menjadi meterai dari perjanjian kasih yang kekal.
Bahkan setelah kebangkitan-Nya, Tuhan Yesus masih menunjukkan kasih-Nya dengan memulihkan Petrus. Petrus pernah menyangkal Gurunya sebanyak tiga kali. Namun Yesus tidak membuangnya. Di tepi Danau Galilea, Yesus tiga kali bertanya, "Apakah engkau mengasihi Aku?" Melalui pertanyaan itu Yesus bukan sekadar menguji Petrus, tetapi memperbarui panggilan dan hubungan-Nya dengan sang murid. Petrus dipulihkan dan kembali dipercaya untuk menggembalakan umat Tuhan.
Betapa besar kasih Allah kepada kita. Ia tidak mudah menyerah terhadap kelemahan manusia. Ia selalu membuka kesempatan untuk bertobat, dipulihkan, dan memulai kembali.
Saudara-saudari, Mungkin hari ini ada di antara kita yang merasa hubungan dengan Tuhan mulai renggang. Dulu kita rajin berdoa, tekun beribadah, dan aktif melayani, tetapi kini semuanya mulai berkurang. Mungkin ada pula hubungan dalam keluarga yang sedang retak, persahabatan yang rusak, atau pelayanan yang mulai kehilangan semangat.
Firman Tuhan hari ini mengajak kita untuk tidak tinggal dalam keadaan itu. Allah selalu membuka jalan bagi pembaruan. Selama kita mau datang kepada-Nya dengan kerendahan hati, Tuhan sanggup memulihkan apa yang rusak.
Marilah kita juga berani memperbarui komitmen kita sebagai suami atau istri untuk saling mengasihi, sebagai orang tua untuk mendidik anak dalam iman, sebagai anak untuk menghormati orang tua, sebagai pelayan gereja untuk melayani dengan tulus, dan sebagai pekerja untuk bekerja dengan jujur dan penuh tanggung jawab.
Pembaruan perjanjian bukan hanya diucapkan melalui kata-kata, tetapi dibuktikan melalui perubahan hidup. Komitmen yang diperbarui harus menghasilkan tindakan yang baru. Kasih yang diperbarui harus tampak dalam sikap. Iman yang diperbarui harus terlihat dalam kehidupan sehari-hari.
Saudara-saudari yang terkasih, Kisah Abraham dan Abimelekh mengajarkan bahwa hubungan yang baik harus terus dipelihara melalui komunikasi yang jujur, saling menghormati, dan keberanian untuk memperbarui kesepakatan ketika diperlukan. Jangan biarkan persoalan kecil berkembang menjadi konflik yang besar karena tidak pernah diselesaikan.
Lebih daripada itu, marilah kita bersyukur karena Allah terlebih dahulu memperbarui perjanjian-Nya dengan kita melalui Tuhan Yesus Kristus. Kasih-Nya selalu memberi kesempatan untuk memulai kembali.
Hari ini, jika ada komitmen yang mulai luntur, perbaruilah. Jika ada hubungan yang retak, usahakanlah damai. Jika ada janji yang terabaikan, bangunlah kembali dengan pertolongan Tuhan. Sebab Allah yang setia akan memberikan kekuatan kepada setiap orang yang sungguh-sungguh ingin hidup dalam perjanjian kasih-Nya.
Kiranya Roh Kudus memampukan kita menjadi umat yang bukan hanya pandai mengucapkan janji, tetapi juga setia memperbarui dan memelihara setiap komitmen yang telah kita ikat bersama Tuhan dan sesama. Amin.
Doa : Ya Bapa yang penuh kasih, kami bersyukur atas firman-Mu hari ini. Tolong kami memelihara setiap janji dan memperbarui komitmen kami kepada-Mu dan sesama. Pulihkan setiap hubungan yang retak, kuatkan iman kami, dan pimpin kami hidup dalam kasih, damai, dan kesetiaan. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus kami berdoa. Amin.
Editor : Alfianne Lumantow