Pembacaan Alkitab: Kejadian 21:32–34
Tema: Pohon Tamariska
"Abraham menanam sebatang pohon tamariska di Bersyeba, dan di sana ia memanggil nama TUHAN, Allah yang kekal." (Kejadian 21:33)
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Dalam perjalanan hidup, setiap orang memiliki momen-momen yang tidak terlupakan. Ada saat ketika Tuhan membuka jalan di tengah kesulitan, memberi kesembuhan ketika sakit, mencukupkan kebutuhan ketika keadaan terasa sulit, atau memberikan damai ketika hati sedang gelisah.
Momen-momen seperti itu sering kali ingin kita abadikan. Sebagian orang mengabadikannya melalui foto, video, atau catatan harian. Ada pula yang membuat monumen, prasasti, atau mengadakan acara syukur sebagai tanda bahwa sesuatu yang berharga telah terjadi.
Pada masa kini, berkembang pula kebiasaan menanam pohon untuk memperingati sebuah peristiwa penting. Penanaman pohon dilakukan sebagai simbol kehidupan, harapan, dan kepedulian terhadap lingkungan. Sebatang pohon yang ditanam hari ini akan memberi manfaat bagi banyak orang di masa depan. Ia menghadirkan keteduhan, menghasilkan oksigen, menjaga keseimbangan alam, dan menjadi warisan bagi generasi berikutnya.
Firman Tuhan hari ini memperlihatkan kepada kita sebuah tindakan yang sederhana, tetapi sarat makna. Setelah Abraham dan Abimelekh menyelesaikan persoalan mereka serta mengikat perjanjian damai di Bersyeba, Abraham menanam sebatang pohon tamariska. Sekilas tindakan ini tampak biasa saja. Namun di baliknya tersimpan pelajaran rohani yang sangat dalam.
Pohon tamariska merupakan pohon yang mampu bertahan hidup di daerah yang kering dan panas. Akarnya kuat mencari sumber air, daunnya memberi keteduhan, dan ranting-rantingnya menjadi pelindung dari terik matahari maupun angin gurun yang panas. Bagi seorang pengembara seperti Abraham, pohon ini tentu sangat berguna sebagai tempat beristirahat bagi keluarga, para hamba, dan ternaknya.
Namun Alkitab menunjukkan bahwa tujuan Abraham menanam pohon itu jauh melampaui manfaat praktisnya. Firman Tuhan mengatakan bahwa di tempat itulah Abraham memanggil nama TUHAN, Allah yang kekal. Artinya, pohon tamariska menjadi penanda bahwa di tempat itu Abraham mengalami penyertaan Tuhan dan membangun persekutuan dengan-Nya.
Abraham tidak sedang memuliakan pohon itu. Ia juga tidak menjadikannya benda keramat. Sebaliknya, pohon itu menjadi pengingat bahwa Allah yang hidup telah berkarya dalam hidupnya.
Setiap kali melihat pohon itu, Abraham diingatkan kembali akan kesetiaan Tuhan yang telah memelihara dirinya sejak meninggalkan Ur-Kasdim, berjalan sebagai orang asing, menghadapi berbagai tantangan, menerima janji tentang keturunan, hingga akhirnya memperoleh Ishak sebagai anak perjanjian. Pohon tamariska menjadi saksi bisu perjalanan iman Abraham.
Saudara-saudari, Ada hal yang menarik dari sebutan yang digunakan Abraham bagi Tuhan. Ia memanggil-Nya sebagai "Allah yang kekal." Sebutan ini mengingatkan kita bahwa segala sesuatu di dunia ini bersifat sementara, tetapi Allah tetap sama untuk selama-lamanya.
Tempat tinggal dapat berubah. Pekerjaan dapat berganti. Kekayaan dapat berkurang. Kesehatan dapat menurun. Bahkan manusia yang kita kasihi pun suatu saat akan meninggalkan dunia ini. Namun Allah tetap setia. Kasih-Nya tidak berubah. Janji-Nya tidak pernah gagal. Penyertaan-Nya tidak dibatasi oleh waktu maupun keadaan.
Abraham memahami kebenaran ini. Karena itu, ia tidak meletakkan harapannya pada sumur, ternak, atau pohon tamariska itu sendiri. Harapannya hanya tertuju kepada Allah yang kekal, yang telah menyertai hidupnya di mana pun ia berada.
Kita pun dipanggil memiliki iman seperti Abraham. Terlalu sering kita mengingat masalah lebih lama daripada mengingat pertolongan Tuhan. Kita mudah mengingat kegagalan, tetapi cepat melupakan berkat yang telah Tuhan berikan. Padahal jika kita mau menghitung satu per satu kebaikan Tuhan, kita akan menemukan begitu banyak alasan untuk bersyukur.
Setiap keluarga memiliki "Bersyeba" masing-masing. Ada keluarga yang pernah diselamatkan dari kecelakaan. Ada yang dipulihkan dari penyakit berat. Ada yang memperoleh pekerjaan setelah lama menganggur. Ada yang berhasil melewati masa-masa sulit secara ekonomi. Ada pula yang mengalami damai setelah konflik panjang dalam keluarga.
Sayangnya, setelah keadaan membaik, kita sering melanjutkan kesibukan hidup tanpa sempat berhenti untuk bersyukur. Kita menikmati berkat Tuhan, tetapi lupa datang kepada Sang Pemberi berkat.
Abraham memberikan teladan yang berbeda. Setelah menerima damai dan kepastian atas haknya, ia tidak langsung sibuk membangun usahanya. Ia terlebih dahulu membangun tanda syukur dan memanggil nama Tuhan. Ia menyadari bahwa keberhasilannya bukan semata-mata hasil kerja kerasnya, melainkan karena penyertaan Allah.
Saudara-saudari yang terkasih, Kehidupan orang percaya seharusnya dipenuhi dengan "mezbah-mezbah syukur". Mezbah itu tidak selalu berupa bangunan fisik. Mezbah dapat diwujudkan melalui kehidupan doa yang tekun, ibadah keluarga yang setia, kesaksian hidup yang benar, serta hati yang senantiasa bersyukur.
Setiap kali kita mengingat pertolongan Tuhan, sebenarnya kita sedang membangun mezbah dalam hati kita. Ketika keluarga berkumpul untuk berdoa dan mengucap syukur atas penyertaan Tuhan, di situlah mezbah rohani dibangun. Ketika kita tetap setia beribadah sekalipun menghadapi kesulitan, kita sedang menyatakan bahwa Tuhan tetap menjadi pusat kehidupan kita.
Di sisi lain, tindakan Abraham juga mengajarkan tanggung jawab terhadap ciptaan Tuhan. Menanam pohon adalah tindakan yang membawa manfaat, bukan hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi orang lain dan generasi berikutnya. Sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk merawat bumi sebagai bagian dari mandat Allah kepada manusia.
Kepedulian terhadap lingkungan bukan sekadar isu sosial, melainkan juga bagian dari iman. Ketika kita menjaga alam, menanam pohon, mengurangi kerusakan lingkungan, dan memelihara ciptaan Tuhan, kita sedang menunjukkan rasa syukur atas dunia yang dipercayakan Allah kepada kita.
Namun pesan utama pohon tamariska tetaplah bersifat rohani. Pohon itu mengingatkan bahwa kehidupan iman membutuhkan tanda-tanda pengingat agar kita tidak melupakan Tuhan. Bangsa Israel kemudian memiliki hari-hari raya untuk mengingat karya Allah. Gereja memiliki Perjamuan Kudus sebagai pengingat pengorbanan Kristus. Demikian pula kita perlu memiliki kebiasaan mengingat setiap karya Tuhan dalam hidup kita.
Mungkin kita dapat menuliskan kesaksian tentang pertolongan Tuhan, mengadakan ibadah syukur ketika menerima berkat, atau membagikan pengalaman iman kepada anak-anak dan cucu-cucu kita. Semua itu akan menolong generasi berikutnya mengenal Allah yang telah bekerja dalam keluarga kita.
Saudara-saudari, Di tengah dunia yang serba cepat, jangan sampai kita kehilangan waktu untuk berhenti dan mengingat kebaikan Tuhan. Jangan hanya sibuk mengejar berkat berikutnya, tetapi lupakan berkat yang sudah diterima. Orang yang selalu mengingat karya Tuhan akan memiliki hati yang penuh syukur, iman yang semakin teguh, dan pengharapan yang tidak mudah goyah.
Sebagaimana pohon tamariska bertumbuh sedikit demi sedikit hingga menjadi tempat berteduh, demikian pula iman kita perlu terus dipelihara melalui doa, firman Tuhan, ibadah, dan kehidupan yang dekat dengan Allah. Semakin kita berakar di dalam Tuhan, semakin kita mampu bertahan menghadapi panasnya pencobaan dan kerasnya kehidupan.
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Pohon tamariska yang ditanam Abraham bukan sekadar sebuah tanaman, melainkan sebuah kesaksian. Pohon itu mengingatkan bahwa Allah yang kekal telah menyertai setiap langkah hidupnya.
Di bawah pohon itu Abraham memanggil nama Tuhan dan menyatakan bahwa hanya Allah yang menjadi perlindungan serta sumber pengharapannya.
Marilah kita belajar dari teladan Abraham. Jangan biarkan setiap berkat Tuhan berlalu tanpa ucapan syukur. Bangunlah mezbah dalam kehidupan kita melalui doa, ibadah, dan kesaksian yang hidup. Jadikan setiap pertolongan Tuhan sebagai alasan untuk semakin dekat kepada-Nya.
Kiranya kehidupan kita juga menjadi seperti pohon tamariska—bertumbuh kuat, memberi keteduhan, membawa manfaat bagi sesama, dan menjadi tanda yang mengarahkan banyak orang kepada Allah yang kekal. Dengan demikian, melalui hidup kita, nama Tuhan senantiasa dimuliakan, sekarang dan sampai selama-lamanya. Amin.
Doa : Ya Bapa yang kekal, kami bersyukur atas firman-Mu hari ini. Ajarlah kami untuk selalu mengingat setiap penyertaan, perlindungan, dan berkat-Mu dalam hidup kami. Mampukan kami hidup dalam ucapan syukur, setia beribadah, serta menjadi berkat bagi sesama dan memuliakan nama-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus kami berdoa. Amin.
Editor : Alfianne Lumantow