Pembacaan Alkitab : Mazmur 94:1-7
TEMA : TUHAN HAKIM YANG ADIL
"Umat-Mu, ya TUHAN, mereka remukkan, milik-Mu sendiri mereka tindas." (Mazmur 94:5)
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Setiap orang tentu mendambakan keadilan. Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar ungkapan bahwa hukum kadang tajam ke bawah tetapi tumpul ke atas. Ada orang yang berbuat jahat, tetapi tampaknya hidupnya tetap berhasil dan bahkan semakin kaya.
Sebaliknya, ada orang yang hidup jujur, bekerja dengan sungguh-sungguh, namun justru mengalami penderitaan dan ketidakadilan. Pengalaman seperti ini dapat membuat hati menjadi kecewa dan muncul pertanyaan, "Di manakah keadilan Tuhan?"
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, keadilan adalah sifat atau perbuatan yang adil, tidak memihak, tidak berat sebelah, dan memberikan kepada setiap orang apa yang menjadi haknya. Namun, keadilan manusia sering kali terbatas.
Manusia dapat dipengaruhi oleh kepentingan, kekuasaan, uang, atau rasa takut. Karena itu, keadilan yang sejati hanya dapat ditemukan di dalam Allah, Sang Hakim yang sempurna.
Mazmur 94 lahir dari pergumulan yang nyata. Pemazmur menyaksikan orang-orang fasik bertindak semena-mena terhadap umat Tuhan. Mereka menindas orang lemah, menyakiti sesama, bahkan menghancurkan kehidupan orang-orang yang tidak berdaya.
Melihat kenyataan itu, pemazmur tidak memilih membalas dengan kekerasan atau kebencian. Sebaliknya, ia datang kepada Tuhan dan berseru, "Ya Allah pembalas, ya TUHAN, tampillah!" Seruan ini bukanlah ungkapan dendam pribadi, melainkan doa agar Tuhan menegakkan kebenaran dan keadilan.
Ayat 5 menjadi gambaran yang sangat menyentuh hati: "Umat-Mu, ya TUHAN, mereka remukkan, milik-Mu sendiri mereka tindas." Penindasan yang dialami umat Allah bukan sekadar masalah sosial, tetapi juga menjadi perhatian Tuhan sendiri. Ketika umat-Nya disakiti, Tuhan tidak tinggal diam. Ia melihat, mendengar, dan mengetahui setiap air mata, setiap penderitaan, dan setiap ketidakadilan yang dialami anak-anak-Nya.
Pada ayat 2-4, pemazmur menggambarkan kesombongan orang-orang fasik. Mereka membanggakan kejahatan mereka. Mereka berbicara dengan angkuh, merasa tidak ada yang dapat menghentikan mereka. Kesombongan seperti ini sering kita jumpai juga pada zaman sekarang.
Ada orang yang menggunakan jabatan untuk menindas orang kecil. Ada yang memanfaatkan kekayaan untuk mempermainkan hukum. Ada pula yang menyebarkan fitnah, kebencian, atau melakukan penipuan demi keuntungan pribadi tanpa merasa bersalah.
Yang lebih menyedihkan lagi adalah apa yang tertulis pada ayat 7. Orang-orang fasik berkata, "TUHAN tidak melihatnya, dan Allah Yakub tidak mengindahkannya." Mereka menganggap Tuhan tidak peduli terhadap apa yang mereka lakukan. Mereka merasa bebas berbuat jahat karena berpikir tidak akan ada konsekuensinya.
Pemikiran seperti ini masih ada hingga sekarang. Ada orang yang merasa dapat menyembunyikan dosa dari hadapan manusia sehingga mengira dosanya juga tersembunyi di hadapan Allah.
Padahal firman Tuhan mengajarkan bahwa tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi di hadapan-Nya. Tuhan melihat bukan hanya tindakan manusia, tetapi juga mengetahui isi hati, motivasi, dan setiap pikiran kita.
Mazmur ini mengingatkan bahwa Allah adalah Hakim yang adil. Keadilan-Nya mungkin tidak selalu dinyatakan seketika sesuai keinginan manusia, tetapi tidak pernah gagal. Tuhan mempunyai waktu-Nya sendiri untuk bertindak.
Kadang-kadang manusia menganggap Tuhan terlambat, padahal sesungguhnya Tuhan sedang bekerja menurut hikmat-Nya yang sempurna. Tidak ada kejahatan yang luput dari penghakiman-Nya, dan tidak ada kebaikan yang sia-sia di hadapan-Nya.
Karena itu, ketika kita mengalami ketidakadilan, firman Tuhan mengajak kita untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Kita dipanggil untuk menyerahkan perkara kita kepada Tuhan.
Hal ini bukan berarti kita pasif terhadap ketidakadilan. Kita tetap boleh menempuh jalan yang benar, mencari keadilan melalui cara-cara yang sesuai dengan hukum dan kebenaran. Namun, kita tidak membiarkan kebencian menguasai hati kita. Kita percaya bahwa Tuhanlah Hakim yang paling adil.
Di sisi lain, firman ini juga menjadi peringatan bagi setiap orang percaya agar tidak menjadi bagian dari orang-orang fasik. Kadang-kadang kita mudah melihat kesalahan orang lain, tetapi lupa memeriksa diri sendiri. Penindasan tidak selalu berbentuk kekerasan.
Perkataan yang menyakitkan, fitnah, sikap meremehkan orang lain, memperlakukan bawahan dengan semena-mena, atau mengambil hak orang lain juga merupakan bentuk ketidakadilan yang tidak berkenan kepada Tuhan.
Sebagai umat Tuhan, kita dipanggil untuk mencerminkan karakter Allah yang adil. Dalam keluarga, orang tua hendaknya memperlakukan setiap anak dengan kasih yang sama. Dalam pekerjaan, kita dipanggil berlaku jujur dan tidak memanfaatkan orang lain demi keuntungan pribadi.
Dalam pelayanan gereja, kita dipanggil melayani tanpa pilih kasih. Dalam kehidupan bermasyarakat, kita dipanggil menjadi pembawa damai dan pembela bagi mereka yang lemah.
Dunia mungkin sering memperlihatkan bahwa orang jahat tampak menang. Namun kemenangan itu hanyalah sementara. Firman Tuhan memberikan pengharapan bahwa keadilan Allah pada akhirnya akan dinyatakan.
Tidak ada air mata umat-Nya yang diabaikan. Tidak ada penderitaan yang tidak diketahui-Nya. Tuhan tetap memegang kendali atas sejarah kehidupan manusia.
Oleh sebab itu, jangan kehilangan pengharapan ketika menghadapi perlakuan yang tidak adil. Tetaplah hidup benar, tetaplah berpegang pada firman Tuhan, dan tetaplah percaya bahwa Tuhan bekerja bagi mereka yang berharap kepada-Nya. Jangan iri kepada keberhasilan orang fasik, sebab keberhasilan yang dibangun di atas kejahatan tidak akan bertahan selamanya.
Akhirnya, Mazmur 94 mengajak kita untuk memiliki iman yang teguh kepada Allah sebagai Hakim yang adil. Ia melihat segala sesuatu, mengetahui setiap pergumulan umat-Nya, dan pada waktu-Nya akan menegakkan keadilan. Tugas kita adalah tetap hidup dalam kebenaran, mengasihi sesama, menjauhi kejahatan, serta menyerahkan setiap pergumulan kepada Tuhan.
Kiranya melalui firman Tuhan hari ini, kita semakin yakin bahwa Allah tidak pernah meninggalkan umat-Nya. Ketika dunia tampak dipenuhi ketidakadilan, Tuhan tetap bertakhta. Ketika manusia gagal berlaku adil, Tuhan tetap menjadi Hakim yang benar.
Dan ketika kita tetap setia berjalan bersama-Nya, kita akan melihat bahwa kasih dan keadilan Tuhan selalu dinyatakan pada waktu yang terbaik. Amin.
Doa : Ya Bapa yang penuh kasih, kami bersyukur atas firman-Mu yang mengingatkan bahwa Engkaulah Hakim yang adil. Tolong kami tetap percaya kepada-Mu saat menghadapi ketidakadilan, hidup dalam kebenaran, dan menjadi pembawa damai bagi sesama. Kuatkan iman kami untuk setia sampai akhir. Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.
Editor : Alfianne Lumantow