Pembacaan Alkitab : Mazmur 94:12-15
TEMA : BAHAGIA DAN BERKENAN KEPADA-NYA
"Sebab TUHAN tidak akan membuang umat-Nya, milik-Nya sendiri tidak akan ditinggalkan-Nya." (Mazmur 94:14)
Saudara-saudari yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus, Setiap orang mendambakan kehidupan yang bahagia. Banyak orang beranggapan bahwa kebahagiaan diperoleh melalui kekayaan, jabatan, kesehatan, atau keberhasilan.
Tidak sedikit yang menghabiskan waktu dan tenaga untuk mengejar semua itu dengan harapan hidupnya menjadi lebih bahagia. Namun kenyataannya, banyak orang yang memiliki segala sesuatu secara materi tetap merasa kosong, gelisah, dan tidak memiliki damai sejahtera.
Firman Tuhan pada hari ini mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati memiliki sumber yang berbeda dengan pandangan dunia. Dalam bahasa Ibrani, kata "berbahagia" berasal dari kata ashrê, yang berarti diberkati, beruntung, atau hidup dalam keadaan yang memperoleh perkenanan Allah.
Dengan demikian, kebahagiaan menurut Alkitab bukan sekadar perasaan senang yang berubah-ubah mengikuti keadaan, melainkan keadaan hidup yang diberkati karena berjalan sesuai dengan kehendak Tuhan.
Mazmur 128:1 berkata, "Berbahagialah setiap orang yang takut akan TUHAN, yang hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya." Ayat ini menunjukkan bahwa dasar kebahagiaan adalah hidup dalam takut akan Tuhan.
Takut akan Tuhan bukan berarti takut seperti seorang hamba kepada tuan yang kejam, melainkan sikap hormat, kasih, dan ketaatan kepada Allah. Orang yang takut akan Tuhan akan berusaha menjadikan firman-Nya sebagai pedoman dalam setiap keputusan dan langkah hidupnya.
Mazmur 94:12 membuka bagian ini dengan sebuah pernyataan yang indah: "Berbahagialah orang yang Kauhajar, ya TUHAN, dan yang Kauajari dari Taurat-Mu." Sekilas ayat ini terdengar aneh. Bagaimana mungkin orang yang dididik, ditegur, bahkan dihajar oleh Tuhan disebut berbahagia?
Jawabannya terletak pada tujuan didikan Tuhan. Setiap orang tua yang mengasihi anaknya tentu ingin melihat anaknya bertumbuh menjadi pribadi yang baik. Karena itu, orang tua tidak membiarkan anak melakukan kesalahan terus-menerus.
Mereka menegur, membimbing, bahkan mendisiplinkan anak demi masa depannya. Demikian pula Tuhan. Didikan-Nya bukanlah tanda bahwa Ia membenci kita, melainkan bukti bahwa kita adalah milik-Nya yang berharga.
Sering kali kita memandang penderitaan sebagai hukuman semata. Padahal dalam banyak kesempatan, Tuhan memakai berbagai pengalaman hidup untuk membentuk karakter kita. Kesulitan mengajarkan kesabaran.
Kegagalan mengajarkan kerendahan hati. Penantian mengajarkan kepercayaan kepada Tuhan. Semua proses itu tidak selalu menyenangkan, tetapi menghasilkan pribadi yang semakin dewasa dalam iman.
Ayat 13 mengatakan bahwa melalui didikan itu Tuhan memberikan ketenangan kepada umat-Nya pada masa kesusahan sampai lubang digali bagi orang fasik. Ini menunjukkan bahwa Tuhan bekerja dengan cara yang berbeda dari harapan manusia. Ketika orang benar sedang dibentuk melalui proses kehidupan, orang fasik sedang menuju kepada penghakiman apabila mereka tidak bertobat.
Di mata manusia, sering kali orang fasik tampak lebih berhasil. Mereka memperoleh keuntungan melalui ketidakjujuran, hidup tanpa memedulikan Tuhan, bahkan tampak menikmati hidup. Namun firman Tuhan mengingatkan bahwa keberhasilan yang dibangun di atas dosa tidak akan bertahan. Tuhan tetap memegang kendali atas kehidupan manusia, dan pada waktu-Nya Ia akan menegakkan keadilan.
Puncak penghiburan terdapat pada ayat 14, "Sebab TUHAN tidak akan membuang umat-Nya, milik-Nya sendiri tidak akan ditinggalkan-Nya." Betapa indah janji ini. Tuhan tidak pernah meninggalkan orang-orang yang percaya kepada-Nya.
Dalam perjalanan hidup, mungkin ada saat-saat ketika kita merasa sendirian. Doa terasa belum dijawab. Pergumulan semakin berat. Tekanan hidup semakin besar. Bahkan mungkin kita bertanya-tanya, "Apakah Tuhan masih peduli kepada saya?" Melalui firman ini Tuhan menjawab dengan tegas bahwa Ia tidak akan membuang umat-Nya.
Janji ini memberikan kekuatan kepada setiap orang percaya. Kesetiaan Tuhan tidak bergantung pada situasi kita. Ketika kita sehat, Tuhan beserta kita. Ketika kita sakit, Tuhan tetap menyertai. Ketika kita berhasil, Tuhan menyertai. Ketika kita mengalami kegagalan, Tuhan pun tetap setia. Kasih-Nya tidak berubah karena keadaan hidup kita berubah.
Namun sebagai umat Tuhan, kita juga dipanggil untuk hidup yang berkenan kepada-Nya. Berkenan kepada Tuhan bukan hanya berarti rajin beribadah atau aktif melayani di gereja. Tuhan menghendaki agar seluruh kehidupan kita mencerminkan karakter Kristus.
Di tengah keluarga, kita dipanggil menjadi pribadi yang mengasihi, mengampuni, dan membangun. Di tempat kerja, kita dipanggil bekerja dengan jujur dan penuh tanggung jawab. Dalam masyarakat, kita dipanggil menjadi pembawa damai, menjunjung keadilan, serta menghormati sesama tanpa membeda-bedakan. Hidup yang berkenan kepada Tuhan tampak melalui sikap sehari-hari, bukan hanya melalui kata-kata.
Pemazmur juga mengingatkan bahwa hidup benar tidak selalu mudah. Orang yang mempertahankan kejujuran kadang dianggap bodoh. Orang yang menolak korupsi mungkin kehilangan kesempatan. Orang yang memegang teguh iman bisa mengalami penolakan atau bahkan tekanan dari lingkungannya.
Karena itu, kita membutuhkan ketangguhan rohani. Ketangguhan bukan berarti tidak pernah lemah, melainkan tetap setia sekalipun menghadapi kesulitan. Orang yang tangguh adalah mereka yang terus berpegang pada firman Tuhan ketika keadaan tidak sesuai harapan. Mereka tidak menyerah kepada dosa hanya karena jalan yang benar terasa lebih berat.
Sering kali kegagalan dalam kehidupan rohani bukan karena kita tidak mengetahui firman Tuhan, melainkan karena kita tidak sabar menjalani proses pembentukan-Nya. Kita ingin hasil yang cepat tanpa melalui latihan iman. Kita ingin berkat tanpa ketaatan. Kita ingin kemuliaan tanpa salib. Padahal Tuhan sedang membentuk kita sedikit demi sedikit agar semakin serupa dengan Kristus.
Ayat 15 menegaskan bahwa "hukum akan kembali kepada keadilan, dan semua orang yang tulus hati akan mengikutinya." Artinya, pada akhirnya kebenaran akan menang. Tuhan akan memulihkan keadilan-Nya, dan orang-orang yang hidup dengan hati tulus akan tetap berada di jalan yang benar.
Karena itu, marilah kita tidak mudah putus asa ketika menghadapi berbagai tantangan hidup. Tetaplah percaya bahwa Tuhan sedang bekerja. Setiap air mata yang kita teteskan karena mempertahankan kebenaran tidak pernah sia-sia. Setiap pengorbanan demi melakukan kehendak Tuhan akan dihargai oleh-Nya. Setiap langkah ketaatan akan menghasilkan buah yang indah pada waktunya.
Sebagai penutup, firman Tuhan hari ini mengingatkan kita bahwa kebahagiaan sejati bukanlah hidup tanpa masalah, melainkan hidup yang berada dalam tangan Tuhan. Orang yang dididik oleh Tuhan adalah orang yang dikasihi-Nya. Orang yang hidup menurut firman-Nya adalah orang yang berkenan kepada-Nya. Dan orang yang tetap setia kepada-Nya tidak akan pernah ditinggalkan.
Marilah kita membangun kehidupan yang takut akan Tuhan, mencintai firman-Nya, menerima didikan-Nya dengan rendah hati, serta tetap setia di tengah berbagai pergumulan. Percayalah, Tuhan tidak akan membuang umat-Nya. Ia akan memimpin, menguatkan, dan memberkati setiap orang yang hidup berkenan kepada-Nya.
Kiranya Roh Kudus menolong kita untuk terus bertumbuh dalam iman, memiliki hati yang tulus, hidup dalam keadilan, dan menikmati kebahagiaan sejati yang berasal dari Tuhan. Dengan demikian, hidup kita menjadi kesaksian yang memuliakan nama-Nya di mana pun kita berada. Amin.
Doa : Ya Bapa yang Mahakasih, kami bersyukur atas firman-Mu yang mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati ada dalam hidup yang takut akan Engkau dan berkenan kepada-Mu. Mampukan kami menerima didikan-Mu dengan rendah hati, tetap setia dalam setiap pergumulan, dan percaya bahwa Engkau tidak pernah meninggalkan umat-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.
Editor : Alfianne Lumantow