Pembacaan Alkitab: Yohanes 8:31-32
Tema: Murid Sejati Bukan Sekadar Pengikut
“Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku.” (Yohanes 8:31)
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Pada zaman Yesus, hubungan antara seorang guru dan murid sangat dekat. Seorang murid bukan hanya datang untuk mendengarkan pelajaran, mencatat, lalu pulang. Murid biasanya hidup dekat dengan gurunya.
Ia memperhatikan perkataan, kebiasaan, sikap, bahkan cara gurunya memperlakukan orang lain. Karena itu, tidak jarang seorang murid memiliki karakter yang sangat mirip dengan gurunya. Apa yang dipelajari tidak hanya tersimpan di dalam pikiran, tetapi terlihat dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam konteks seperti itulah kita memahami perkataan Yesus dalam Yohanes 8:31: “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku.” Yesus tidak mengatakan bahwa seseorang menjadi murid hanya karena pernah mendengar-Nya, percaya kepada-Nya, atau mengagumi mukjizat-Nya. Menjadi murid berarti tetap tinggal di dalam firman-Nya dan membiarkan firman itu membentuk seluruh kehidupan.
Di sinilah kita perlu membedakan antara pengikut dan murid sejati.Seorang pengikut bisa saja mengikuti karena tertarik, kagum, atau mendapatkan sesuatu. Ketika situasi menyenangkan, ia hadir.
Ketika ada mukjizat, ia bersorak. Ketika Tuhan memberikan berkat, ia bersyukur. Namun ketika iman menuntut pengorbanan, kesetiaan, pengampunan, kejujuran, dan ketaatan, ia bisa saja mundur.
Murid sejati berbeda. Ia tidak hanya mengikuti Yesus ketika jalan terasa mudah, tetapi tetap berjalan bersama-Nya ketika jalan itu sulit. Ia tidak hanya ingin menerima berkat Tuhan, tetapi juga bersedia melakukan kehendak Tuhan.
Saudara-saudari, Yesus berkata, “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku.” Kata “tetap” menunjukkan sesuatu yang terus-menerus. Dalam bahasa Yunani digunakan kata menō, yang berarti tinggal, menetap, atau berdiam. Jadi, menjadi murid berarti menetap dan berakar kuat di dalam Kristus.
Tinggal di dalam Kristus tentu bukan sekadar rajin membaca Alkitab atau mengetahui banyak ayat. Kita dapat mengetahui banyak hal tentang Yesus, tetapi pengetahuan itu belum tentu mengubah kehidupan.
Kita dapat mendengar firman setiap minggu, tetapi pertanyaannya: apakah firman tersebut memengaruhi cara kita berbicara, bekerja, mengambil keputusan, menggunakan uang, memperlakukan keluarga, dan berhubungan dengan sesama?
Firman Tuhan seharusnya tidak hanya masuk ke telinga, tetapi turun ke hati dan terlihat melalui tindakan.
Murid sejati membiarkan firman Tuhan membentuk cara hidupnya. Ketika firman mengajarkan pengampunan, ia belajar mengampuni. Ketika firman mengajarkan kejujuran, ia memilih jujur meskipun kejujuran itu tidak selalu menguntungkan. Ketika firman mengajarkan kasih, ia berusaha mengasihi bahkan orang yang berbeda dengannya. Ketika firman mengajarkan kepedulian, ia tidak menutup mata terhadap penderitaan orang lain.
Tentu hal ini tidak mudah. Kita memiliki keinginan, ego, kepentingan, dan kebiasaan yang kadang bertentangan dengan kehendak Tuhan. Ada saatnya kita mengetahui apa yang benar, tetapi sulit melakukannya.
Kita tahu harus mengampuni, tetapi hati masih terluka. Kita tahu harus berkata jujur, tetapi takut kehilangan keuntungan. Kita tahu harus menolong, tetapi kita lebih nyaman memikirkan diri sendiri.
Karena itu, kita membutuhkan pertolongan Tuhan. Kita perlu terus melekat kepada Kristus melalui doa, firman Tuhan, persekutuan, dan kehidupan bergereja. Ibadah dan berbagai kegiatan gerejawi bukan sekadar rutinitas atau kewajiban.
Semua itu seharusnya menjadi sarana bagi kita untuk semakin mengenal Tuhan, bertumbuh dalam iman, dan diperlengkapi untuk menjalani kehidupan sebagai murid-Nya.
Namun, kehidupan sebagai murid tidak berhenti di dalam gedung gereja. Justru setelah ibadah, kita dipanggil membawa firman itu ke tengah keluarga, tempat kerja, lingkungan masyarakat, dan berbagai ruang kehidupan kita.
Jika kita sungguh-sungguh menjadi murid Kristus, orang lain seharusnya dapat melihat sesuatu yang berbeda dalam diri kita. Bukan berarti kita menjadi manusia sempurna, tetapi hidup kita semakin menunjukkan kasih, kerendahan hati, kejujuran, kesabaran, pengampunan, dan kepedulian. Dengan demikian, kehadiran kita membawa sukacita dan manfaat bagi sesama.
Yesus kemudian berkata dalam ayat 32, “Dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” Kebenaran Kristus bukan sekadar pengetahuan yang menambah wawasan. Kebenaran itu membebaskan kita dari kehidupan yang dikuasai dosa, egoisme, kepentingan diri, dan berbagai belenggu yang menjauhkan kita dari Allah.
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Mari kita bertanya kepada diri sendiri: Apakah saya hanya menjadi pengikut Kristus, atau sungguh-sungguh menjadi murid-Nya? Apakah firman Tuhan hanya saya dengarkan, atau sungguh-sungguh saya lakukan? Apakah kehadiran saya di gereja membawa perubahan dalam kehidupan sehari-hari?
Marilah kita tidak puas hanya dengan menjadi orang yang mengenal Kristus. Mari kita menjadi murid yang tinggal di dalam firman-Nya, berakar kuat di dalam kasih-Nya, dan setia melakukan kehendak-Nya.
Kiranya melalui kehidupan kita, orang lain dapat merasakan kasih Kristus dan melihat bahwa menjadi murid Tuhan bukan sekadar nama atau identitas, melainkan sebuah kehidupan yang nyata.
Murid sejati bukan sekadar pengikut. Murid sejati adalah orang yang tinggal dalam firman, melakukan kehendak Tuhan, dan menjadi berkat bagi sesama. Terpujilah nama Tuhan. Amin.
Doa : Tuhan Yesus, mampukan kami menjadi murid-Mu yang sejati, bukan sekadar pengikut. Tolong kami untuk tetap tinggal dalam firman-Mu, menaati kehendak-Mu, dan menunjukkan kasih-Mu melalui perkataan serta perbuatan. Jadikan hidup kami berkat dan membawa sukacita bagi sesama. Amin.
Editor : Alfianne Lumantow