Sabda Bina Umat, Renungan Malam, Jumat, 21 Agustus 2026, Yohanes 12:37-43  Kemuliaan Allah Atau Penagkuan Manusia

Alfianne Lumantow • Dipublikasikan Selasa, 18 Agustus 2026 | 10:51 WIB
LOGO GPIB
LOGO GPIB

Pembacaan Alkitab: Yohanes 12:37-43
Tema: Kemuliaan Allah atau Pengakuan Manusia?


Ayat kunci: “Sebab mereka lebih menyukai kehormatan manusia daripada kehormatan Allah.”  Yohanes 12:43

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Ada seorang pemuda yang diam-diam mencintai seorang pemudi. Dalam hatinya ia merasa bahwa pemudi itu adalah orang yang tepat untuk menjadi pasangan hidupnya.

Namun, ia tidak pernah berani mengungkapkan perasaannya. Ia memilih diam karena merasa lebih aman. Sampai suatu hari, ia menerima undangan pernikahan pemudi tersebut dengan pemuda lain.

Mengapa hal itu terjadi? Bukan karena ia tidak memiliki perasaan. Bukan karena ia tidak tahu apa yang diinginkannya. Tetapi karena ia terlalu takut mengambil risiko. Ia memilih kenyamanan daripada keberanian. Akhirnya, apa yang sebenarnya ada di dalam hatinya tidak pernah menjadi kenyataan.

Saudara-saudari, Situasi yang mirip kita temukan dalam Yohanes 12:37-43. Yohanes mencatat bahwa meskipun Yesus telah melakukan begitu banyak tanda di hadapan mereka, mereka tetap tidak percaya kepada-Nya. Bahkan di antara para pemimpin Yahudi ada yang sebenarnya percaya kepada Yesus. Tetapi mereka tidak berani mengakuinya secara terbuka.

Mengapa? Karena mereka takut. Yohanes 12:42 mengatakan bahwa mereka takut dikucilkan dari sinagoge. Mereka lebih memikirkan kedudukan, penerimaan sosial, dan kehormatan di mata manusia daripada pengakuan iman kepada Kristus.

Kemudian Yohanes memberikan sebuah kesimpulan yang sangat tajam dalam ayat 43: “Sebab mereka lebih menyukai kehormatan manusia daripada kehormatan Allah.”

Di sinilah kita menemukan persoalan yang sangat dekat dengan kehidupan kita. Kadang-kadang kita bukan tidak percaya kepada Tuhan. Kita percaya. Kita tahu firman-Nya benar. Kita tahu apa yang seharusnya dilakukan. Tetapi ketika iman menuntut keberanian dan pengorbanan, kita mulai mundur karena takut terhadap penilaian manusia.

Kita tahu bahwa bergosip itu tidak benar, tetapi kita ikut supaya tidak dianggap aneh. Kita tahu bahwa bekerja dengan jujur adalah kehendak Tuhan, tetapi kita tergoda melakukan kecurangan karena takut kalah dari orang lain.

Kita tahu bahwa mengampuni adalah panggilan Kristiani, tetapi kita mempertahankan kebencian karena takut dianggap lemah. Pertanyaannya: Kita sedang mencari kemuliaan siapa?

Saudara-saudari, Para pemimpin Yahudi dalam perikop ini seperti orang yang melihat kebenaran, tetapi memilih untuk tidak mengakuinya. Tanda-tanda yang Yesus kerjakan sebenarnya sudah cukup jelas. Masalahnya bukan kurangnya bukti, melainkan hati yang tidak mau tunduk kepada kebenaran.

Keadaan ini dapat digambarkan seperti seseorang yang menerima diagnosis medis yang jelas, tetapi menolak mengakuinya. Penyakitnya tidak hilang hanya karena ia mengatakan, “Saya sehat.” Penolakan terhadap kenyataan tidak mengubah kenyataan.

Demikian pula dengan iman. Mengetahui tentang Yesus tidak sama dengan sungguh-sungguh menyerahkan diri kepada Yesus.

Kita dapat berada di lingkungan gereja, mendengar firman, mengikuti ibadah, bahkan mengetahui banyak hal tentang Tuhan, tetapi tetap menyimpan hati yang lebih takut kepada manusia daripada kepada Allah.

Yesus mengingatkan kita bahwa menjadi murid-Nya bukanlah jalan untuk mendapatkan pujian semua orang. Mengikuti Kristus berarti menyangkal diri, memikul salib, dan bersedia berjalan dalam kebenaran sekalipun tidak selalu mudah.

Mengakui Yesus mungkin membuat kita dikritik. Mungkin kita dianggap terlalu fanatik. Mungkin kita dijauhi karena tidak mau mengikuti kebiasaan yang salah. Mungkin kita kehilangan kesempatan tertentu karena memilih kejujuran.

Tetapi apakah kita akan menukar kehormatan Allah dengan penerimaan manusia?

Pujian manusia bersifat sementara. Jabatan dapat hilang. Popularitas dapat berubah. Penilaian manusia hari ini dapat berbeda dengan penilaian mereka besok. Tetapi kehormatan yang berasal dari Allah memiliki nilai yang kekal.

Karena itu, janganlah kita hidup hanya untuk mendapatkan “like”, pujian, pengakuan, atau penerimaan manusia. Jangan sampai kita terlihat hebat di hadapan manusia tetapi kehilangan perkenanan Tuhan.

Saudara-saudari, Kita perlu bertanya kepada diri sendiri: Apa yang paling saya takut kehilangan ketika saya memilih untuk setia kepada Tuhan? Apakah penerimaan orang lain? Jabatan? Kenyamanan? Persahabatan? Reputasi? Jawaban atas pertanyaan itu dapat menunjukkan di mana hati kita sebenarnya berada.

Kiranya kita belajar dari kesalahan para pemimpin Yahudi. Jangan sampai kita percaya kepada Kristus secara diam-diam tetapi tidak pernah berani hidup menurut kebenaran-Nya. Jangan sampai kita lebih mencintai kehormatan manusia yang fana daripada kemuliaan Allah yang kekal.

Allah tidak menjanjikan bahwa kesetiaan kepada-Nya akan selalu membuat hidup kita mudah. Tetapi Ia menjanjikan bahwa Dia tidak pernah meninggalkan umat-Nya.

Maka, marilah kita memilih dengan tegas: bukan kemuliaan manusia, melainkan kemuliaan Allah. Bukan penerimaan dunia, melainkan perkenanan Tuhan. Bukan kenyamanan sementara, melainkan kesetiaan kepada Kristus.

Sebab pada akhirnya, yang paling penting bukanlah bagaimana manusia menilai kita, tetapi bagaimana kita berdiri di hadapan Allah.

Kiranya Tuhan memberikan kepada kita hati yang tidak takut mengakui Kristus, keberanian untuk hidup dalam kebenaran, dan kesetiaan untuk tetap memuliakan Allah sekalipun kita harus membayar harga.

Lebih baik kehilangan pujian manusia daripada kehilangan arah dari kehendak Allah. Lebih baik tidak dihormati dunia daripada hidup tanpa perkenanan Tuhan.

Kiranya dalam setiap keputusan hidup kita, pertanyaan ini terus bergema: “Saya sedang mencari kemuliaan siapa—kemuliaan Allah atau pengakuan manusia?” Amin.

 

Doa : Tuhan Yesus, ajarlah kami untuk lebih mencintai kemuliaan-Mu daripada pujian manusia. Berikan kami keberanian mengakui iman dan hidup dalam kebenaran, meskipun menghadapi penolakan. Teguhkan hati kami agar tetap setia, rendah hati, dan selalu memuliakan nama-Mu dalam kehidupan. Amin.    

Editor : Alfianne Lumantow
RENUNGAN MALAM GPIB SABDA BINA UMAT