Pembacaan Alkitab: Yohanes 16:4b-11
Tema: Menginsafkan Dunia Akan Dosa, Kebenaran dan Penghakiman
Ayat kunci: “Ketika Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman.” Yohanes 16:8
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Sering kali kita mengukur dosa berdasarkan besar atau kecilnya pelanggaran. Kita merasa aman karena tidak pernah melakukan korupsi besar, tidak pernah membunuh, tidak pernah melakukan kejahatan yang menjadi berita. Lalu kita berkata dalam hati, “Saya bukan orang berdosa seperti mereka.”
Tetapi firman Tuhan hari ini mengajak kita melihat dosa dengan ukuran yang lebih dalam. Dosa bukan hanya tentang melakukan kejahatan besar. Pada dasarnya, dosa adalah ketika manusia hidup terpisah dari Allah, menolak kehendak-Nya, dan merasa bahwa dirinya dapat menentukan sendiri apa yang benar dan salah.
Karena itu, Yesus berkata bahwa ketika Roh Kudus datang, Ia akan “menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman.”
Saudara-saudari, Kata “menginsafkan” berarti membuka mata seseorang terhadap kenyataan yang sebelumnya tidak mau atau tidak mampu dilihatnya. Roh Kudus bekerja seperti seorang pembela yang menyatakan kebenaran, tetapi sekaligus seperti seorang jaksa yang membongkar kesalahan manusia.
Ia membawa manusia berhadapan dengan kenyataan tentang siapa dirinya, siapa Kristus, dan bagaimana ia berdiri di hadapan Allah.
Pertama, Roh Kudus menginsafkan dunia akan dosa.
Yesus menjelaskan dalam ayat 9 bahwa dosa berkaitan dengan ketidakpercayaan kepada-Nya. Ini sangat penting. Dosa yang paling mendasar bukan sekadar pelanggaran moral, tetapi penolakan terhadap Kristus.
Seseorang dapat terlihat baik secara moral, tetapi apabila ia menolak Allah dan merasa tidak membutuhkan-Nya, ia tetap berada dalam masalah dosa. Sebaliknya, ketika Roh Kudus membuka hati kita, kita menyadari bahwa hidup ini bukan milik kita sendiri. Kita diciptakan untuk mengenal, mengasihi, dan hidup dalam kehendak Allah.
Karena itu, kita tidak boleh hanya bertanya, “Apakah saya melakukan dosa besar?” Tetapi kita perlu bertanya, “Apakah hidup saya sungguh-sungguh tunduk kepada Tuhan?”
Dosa bahkan dapat dimulai dari sesuatu yang kecil di dalam hati: iri hati, kesombongan, kebencian, keinginan menguasai orang lain, atau keinginan hidup tanpa Tuhan. Karena itu, kita membutuhkan Roh Kudus untuk menerangi hati kita.
Kedua, Roh Kudus menginsafkan dunia akan kebenaran.
Dalam ayat 10, Yesus berkata bahwa Roh Kudus menginsafkan dunia akan kebenaran, “karena Aku pergi kepada Bapa dan kamu tidak melihat Aku lagi.”
Yesus telah ditolak dan disalibkan. Di mata dunia, Yesus seolah-olah adalah orang yang kalah. Ia dihukum seperti seorang penjahat. Dunia seakan-akan telah menjatuhkan vonis terhadap-Nya. Tetapi kebangkitan Yesus membalikkan seluruh keadaan.
Manusia mengatakan Yesus bersalah, tetapi Allah menyatakan Yesus benar. Manusia menyalibkan Dia, tetapi Allah membangkitkan-Nya. Manusia menganggap Dia tidak berdaya, tetapi kebangkitan membuktikan bahwa Ia berkuasa atas maut.
Kembalinya Yesus kepada Bapa menjadi tanda bahwa misi-Nya berhasil dan bahwa Ia berada dalam kemuliaan bersama Bapa.
Jadi, kebenaran tidak ditentukan oleh suara mayoritas. Kebenaran tidak berubah hanya karena dunia menolaknya. Kristus adalah kebenaran, dan Allah sendirilah yang menjadi hakim terakhir.
Ketiga, Roh Kudus menginsafkan dunia akan penghakiman.
Ayat 11 berkata bahwa penguasa dunia ini telah dihukum. Ini menunjuk pada kemenangan Kristus atas kuasa kejahatan. Salib yang tampaknya merupakan kekalahan justru menjadi jalan kemenangan.
Karena itu, penghakiman Allah adalah kenyataan yang tidak dapat dihindari. Manusia dapat menghindari pengadilan dunia, menyembunyikan kesalahan, bahkan membangun citra yang baik di hadapan orang lain. Tetapi tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi di hadapan Allah.
Namun, kabar tentang penghakiman bukan hanya berita yang menakutkan. Bagi orang yang percaya kepada Kristus, penghakiman Allah juga menjadi pengharapan. Sebab Kristus telah datang untuk menyelamatkan, mengampuni, dan membenarkan mereka yang percaya kepada-Nya.
Saudara-saudari, Kalau demikian, bagaimana kita harus hidup? Kita dipanggil menjadi saksi karya Roh Kudus di tengah dunia. Bukan dengan menghakimi orang lain seolah-olah kita lebih baik, tetapi dengan membiarkan Roh Kudus terlebih dahulu mengoreksi dan mengubahkan kehidupan kita.
Ketika kita hidup jujur, orang dapat melihat kebenaran. Ketika kita mengampuni, orang dapat melihat kasih Kristus. Ketika kita menolak kejahatan, orang dapat melihat bahwa hidup ini memiliki standar yang lebih tinggi daripada keinginan manusia. Ketika kita tetap setia di tengah penderitaan, orang dapat melihat bahwa pengharapan kita tidak bergantung pada keadaan.
Kesaksian kita bukan berarti kita sempurna. Kesaksian kita justru adalah bahwa kita sedang terus dibentuk oleh Roh Kudus.
Karena itu, jangan takut ketika kebenaran Kristus membuat kita berbeda. Jangan pula menggunakan kebenaran untuk merendahkan orang lain. Biarlah kehidupan kita menjadi cermin yang menunjukkan kasih dan kebenaran Allah.
Kiranya Roh Kudus terus menginsafkan kita akan dosa, menuntun kita kepada kebenaran Kristus, dan mengingatkan kita akan penghakiman Allah. Dan melalui kehidupan kita, kiranya dunia bukan melihat kita sebagai orang yang suka menghakimi, tetapi melihat Kristus yang mengundang manusia untuk bertobat, menerima pengampunan, dan hidup dalam keselamatan.
Mari kita tunduk kepada pekerjaan Roh Kudus, hidup dalam kebenaran Kristus, dan menjadi saksi bahwa Yesus adalah Tuhan yang menang atas dosa, maut, dan kuasa dunia. Amin.
Doa : Tuhan Yesus, kami bersyukur atas karya Roh Kudus yang menginsafkan kami akan dosa, menuntun kepada kebenaran, dan mengingatkan penghakiman. Mampukan kami hidup dalam pertobatan, ketaatan, dan kasih, sehingga kehidupan kami menjadi kesaksian tentang keselamatan-Mu bagi dunia. Amin.
Editor : Alfianne Lumantow