Pembacaan Alkitab: Amsal 6:1-3
Tema: “Mengelola Berkat Agar Tidak Merugikan Sesama”
“Buatlah begini, hai anakku, dan lepaskanlah dirimu, karena engkau telah jatuh dalam genggaman sesamamu: pergilah, berlututlah, dan desaklah sesamamu itu.” (Amsal 6:3)
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, Kita hidup dalam zaman ketika berbagai kebutuhan dapat dipenuhi dengan cepat. Teknologi memberikan banyak kemudahan. Dengan telepon genggam, kita dapat membeli barang, memesan makanan, membayar tagihan, bahkan mengajukan pinjaman. Salah satu fenomena yang semakin dikenal adalah pinjaman online atau pinjol.
Pada dasarnya, meminjam uang bukanlah sesuatu yang selalu salah. Dalam situasi tertentu, seseorang memang membutuhkan pinjaman untuk memenuhi kebutuhan yang mendesak. Yang menjadi persoalan adalah ketika pinjaman digunakan tanpa pertimbangan yang matang, terutama untuk memenuhi gaya hidup konsumtif.
Keinginan untuk memiliki sesuatu dengan segera membuat seseorang mengambil keputusan keuangan tanpa memikirkan kemampuan untuk mengembalikannya.
Akibatnya, bukan hanya si peminjam yang mengalami masalah. Ketika pembayaran terbengkalai, orang-orang yang ada dalam daftar kontak telepon dapat ikut dihubungi.
Keluarga, teman, rekan kerja, bahkan orang yang mungkin tidak mengetahui persoalan tersebut dapat merasakan ketidaknyamanan. Masalah pribadi akhirnya menjadi masalah yang berdampak kepada orang lain.
Saudara-saudara, Hal seperti ini sebenarnya bukan persoalan yang baru. Ribuan tahun yang lalu, penulis Amsal sudah memberikan peringatan tentang bahaya menjadi penjamin utang orang lain tanpa pertimbangan yang matang.
Amsal 6:1-3 menggambarkan seseorang yang telah menjadi penjamin bagi sesamanya. Ia membuat suatu kesepakatan dan akhirnya berada dalam “genggaman” orang lain. Karena itu, penulis Amsal memberikan nasihat yang sangat tegas: “lepaskanlah dirimu.”
Mengapa nasihatnya begitu keras? Karena menjadi penjamin utang berarti seseorang mengambil risiko bahwa ketika pihak yang berutang tidak mampu memenuhi kewajibannya, dirinya dapat ikut menanggung akibatnya. Tekanan itu bukan hanya menyangkut uang. Ada rasa takut, malu, hubungan yang rusak, bahkan konflik dengan keluarga dan sahabat.
Karena itu, Amsal tidak sedang mengajarkan kita untuk menjadi orang yang tidak peduli kepada kebutuhan sesama. Sebaliknya, Amsal sedang mengajarkan tentang hikmat dan tanggung jawab.
Menolong orang lain adalah perbuatan yang baik. Tetapi menolong juga membutuhkan hikmat. Jangan sampai niat kita untuk menolong justru menciptakan masalah yang lebih besar bagi diri sendiri dan orang lain.
Saudara-saudara, Firman Tuhan mengingatkan bahwa setiap berkat yang kita terima harus dikelola dengan bijaksana. Uang, pekerjaan, waktu, kemampuan, jabatan, dan kepercayaan yang Tuhan berikan kepada kita semuanya adalah berkat.
Namun, berkat dapat menjadi sumber sukacita apabila dikelola dengan benar, dan dapat menjadi sumber masalah apabila digunakan tanpa hikmat.
Karena itu, sebelum mengambil keputusan keuangan, kita perlu bertanya: Apakah saya mampu? Apakah keputusan ini benar-benar diperlukan? Apakah keputusan saya akan merugikan orang lain? Apakah saya sedang memenuhi kebutuhan atau hanya mengikuti keinginan?
Pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti ini dapat menolong kita mengambil keputusan dengan lebih bertanggung jawab.
Kita juga perlu belajar membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Tidak semua yang kita inginkan harus segera kita miliki. Tidak semua kemudahan harus kita gunakan. Tidak semua tawaran harus kita terima.
Kadang-kadang bentuk iman kepada Tuhan bukan hanya berani mengambil langkah, tetapi juga berani berkata, “Tidak.”
Tidak terhadap gaya hidup yang melampaui kemampuan. Tidak terhadap utang yang tidak sanggup dibayar. Tidak terhadap keinginan untuk terlihat berhasil di hadapan orang lain. Dan tidak terhadap keputusan yang dapat menjadi beban bagi keluarga maupun sesama.
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, Amsal juga mengajarkan pentingnya menyelesaikan persoalan dengan bertanggung jawab. Jika kita telah membuat kesalahan dalam pengelolaan keuangan, jangan melarikan diri.
Jangan menutupi masalah dengan masalah baru. Jangan mengambil utang baru hanya untuk menutup utang lama tanpa perhitungan yang matang.
Hadapilah persoalan dengan jujur. Akuilah kesalahan, susun kembali kehidupan keuangan, bicarakan dengan pihak yang terkait, dan berusahalah menyelesaikan kewajiban dengan sungguh-sungguh. Kita dipanggil bukan hanya untuk menerima berkat, tetapi juga mengelola berkat.
Tuhan memberikan berkat bukan supaya kita hidup hanya untuk diri sendiri. Berkat itu seharusnya membuat kehidupan kita menjadi berkat bagi keluarga dan sesama. Karena itu, jangan sampai apa yang kita miliki justru menjadi sumber penderitaan bagi orang lain.
Marilah kita meminta hikmat kepada Tuhan Yesus dalam setiap keputusan. Kelola uang dengan bijaksana, gunakan kemampuan dengan bertanggung jawab, dan jangan membangun kehidupan di atas gengsi serta keinginan sesaat.
Kiranya kita menjadi orang-orang yang dapat dipercaya: mampu mempertanggungjawabkan apa yang Tuhan percayakan, tidak menjadi beban bagi sesama, dan justru menghadirkan berkat bagi orang-orang di sekitar kita.
Berkat bukan hanya tentang apa yang kita terima, tetapi juga tentang bagaimana kita mengelolanya. Amin.
Doa : Tuhan Yesus yang penuh kasih, ajarlah kami mengelola setiap berkat dengan bijaksana dan bertanggung jawab. Berikan kami hikmat dalam menggunakan uang, waktu, kemampuan, dan kepercayaan. Jauhkan kami dari keputusan yang merugikan sesama, dan jadikan hidup kami berkat. Amin.
Editor : Alfianne Lumantow