Pembacaan Alkitab: Amsal 6:4-5
Tema: “Hati-Hati Terjerat Dan Berhikmatlah!”
“Lepaskanlah dirimu seperti kijang dari tangkapan, seperti burung dari tangan pemikat.” (Amsal 6:5)
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, Kita hidup di zaman yang serba cepat. Hampir segala sesuatu dapat dilakukan melalui telepon genggam. Kita dapat berbelanja, membayar kebutuhan, mentransfer uang, bahkan mengajukan pinjaman hanya dalam hitungan menit. Teknologi memang memberikan banyak kemudahan. Namun, kemudahan tidak selalu berarti keamanan.
Salah satu fenomena yang kita jumpai saat ini adalah pinjaman online atau pinjol. Bagi sebagian orang, pinjaman online menjadi jalan keluar ketika kebutuhan mendesak datang. Tetapi kemudahan mendapatkan pinjaman juga dapat menjadi perangkap apabila kita tidak berhati-hati.
Terutama pada pinjaman online ilegal, seseorang dapat tergoda oleh tawaran “proses cepat”, “tanpa jaminan”, atau “langsung cair”. Karena merasa sedang membutuhkan uang, kita mungkin tidak membaca dengan teliti seluruh persyaratan dan biaya yang ada. Akibatnya, ketika jatuh tempo tiba, ternyata jumlah yang harus dibayar jauh lebih besar daripada yang dibayangkan.
Lebih berbahaya lagi, ketika seseorang tidak mampu membayar, ia ditawari pinjaman lain untuk menutup pinjaman sebelumnya. Akhirnya, utang yang satu ditutup dengan utang yang lain. Bukannya keluar dari masalah, seseorang justru semakin dalam terjerat.
Saudara-saudara, Situasi seperti ini membuat pesan Amsal 6:4-5 terasa sangat relevan. Penulis Amsal menggunakan dua gambaran yang kuat: kijang yang tertangkap dan burung yang masuk perangkap.
Bayangkan seekor kijang yang sudah tertangkap. Ia tidak memiliki banyak waktu untuk berpikir. Jika hanya diam, perangkap itu akan semakin kuat dan nyawanya terancam. Demikian juga burung yang telah masuk ke tangan pemikat. Ia harus berusaha melepaskan diri.
Karena itu, Amsal berkata, “Lepaskanlah dirimu seperti kijang dari tangkapan, seperti burung dari tangan pemikat.”
Pesannya jelas: ketika kita menyadari bahwa kita sedang berada dalam situasi yang salah dan menjerat, jangan diam dan jangan menunda. Ambillah tindakan.
Ini bukan hanya berbicara mengenai pinjaman atau masalah keuangan. Dalam kehidupan, ada banyak bentuk jerat. Kita bisa terjerat oleh gaya hidup konsumtif, kebiasaan berutang, kecanduan belanja, gengsi, perjudian, kebiasaan buruk, bahkan keputusan-keputusan masa lalu yang tidak kita selesaikan. Awalnya mungkin terlihat kecil. Namun, jika dibiarkan, jerat itu semakin kuat.
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, Firman Tuhan mengajarkan kita untuk berhikmat sebelum mengambil keputusan. Jangan mengambil pinjaman hanya karena prosesnya mudah. Jangan membuat perjanjian hanya karena kita sedang terdesak. Jangan mengatakan, “Nanti juga ada jalan,” sementara kita belum memikirkan bagaimana kewajiban itu akan diselesaikan.
Sebelum mengambil keputusan, berhentilah sejenak dan bertanyalah: Apakah saya benar-benar membutuhkan ini? Apakah saya mampu membayarnya? Apa risikonya bagi keluarga saya? Apakah keputusan ini akan membawa kebaikan atau justru menjadi jerat di kemudian hari?
Hikmat sering kali berarti berani menunda keinginan. Kita tidak harus memiliki segala sesuatu yang sedang dimiliki orang lain. Kita tidak perlu memaksakan gaya hidup yang berada di luar kemampuan kita. Hidup sederhana bukan berarti hidup gagal. Hidup sederhana justru dapat menjadi bentuk kebijaksanaan dan rasa syukur atas apa yang Tuhan percayakan.
Namun, bagaimana jika kita sudah terjerat? Amsal tidak berkata, “Tunggu saja sampai keadaan berubah.” Sebaliknya, kita diminta untuk melepaskan diri.
Artinya, kita harus berani mengakui persoalan. Jangan menutup utang dengan utang baru tanpa perhitungan. Jangan menyembunyikan masalah dari keluarga yang seharusnya mengetahui. Carilah jalan keluar yang bertanggung jawab.
Mintalah nasihat dari orang yang dapat dipercaya. Susun kembali prioritas hidup. Dan yang paling penting, bawalah persoalan itu kepada Tuhan.
Mungkin kita telah mengambil keputusan yang salah. Mungkin kita menyesal karena tidak berpikir panjang. Namun, kesalahan masa lalu tidak harus menentukan seluruh masa depan kita.
Tuhan ingin kita hidup sebagai orang yang merdeka, bukan menjadi hamba dari utang, gengsi, kebiasaan buruk, atau kesalahan masa lalu.
Saudara-saudara, Kita perlu memiliki “mentalitas kijang dan burung”: peka melihat jerat, cepat bertindak, dan tidak menyerah untuk melepaskan diri.
Jangan tunggu masalah menjadi semakin besar. Jangan tunggu hubungan keluarga rusak. Jangan tunggu ketenangan hati hilang. Ketika kita menyadari ada sesuatu yang sedang menjerat kehidupan kita, segeralah bertindak.
Dan dalam semuanya itu, mintalah hikmat Tuhan. Yakobus 1:5 mengingatkan bahwa apabila kita kekurangan hikmat, kita dapat memintanya kepada Allah. Tuhan tidak meninggalkan kita ketika kita berada dalam kesulitan. Ia menolong kita untuk belajar dari kesalahan dan berjalan dalam kehidupan yang lebih bijaksana.
Kiranya kita menjadi orang-orang yang berhati-hati dalam mengambil keputusan, bertanggung jawab dalam setiap komitmen, hidup sederhana dan apa adanya, serta tidak mudah tergoda oleh kemudahan yang dapat menjadi jerat.
Jika hari ini kita sedang bebas, marilah kita menjaga kebebasan itu dengan hikmat. Jika hari ini kita sedang terjerat, jangan kehilangan harapan. Bertindaklah, carilah pertolongan, dan percayalah kepada Tuhan. Sebab Tuhan memanggil kita untuk hidup dalam kebebasan, bukan dalam jeratan.
Waspadalah sebelum terjerat, dan jika sudah terjerat, jangan menyerah untuk melepaskan diri. Berhikmatlah, bertindaklah, dan andalkan Tuhan. Amin.
Doa : Tuhan Yesus, berikanlah kami hikmat agar berhati-hati dalam setiap keputusan. Jauhkan kami dari berbagai jerat kehidupan dan ajarlah kami bertindak bijaksana ketika menghadapi kesulitan. Berikan keberanian untuk memperbaiki kesalahan, hidup sederhana, bertanggung jawab, serta selalu mengandalkan pertolongan-Mu. Amin.
Editor : Alfianne Lumantow