Pembacaan Alkitab: Amsal 6:9-11
Tema: “Bahaya Kemalasan”
“Hai pemalas, berapa lama lagi engkau berbaring? Bilakah engkau akan bangun dari tidurmu?” (Amsal 6:9)
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, Pernahkah kita merasa bahwa waktu berjalan begitu cepat, tetapi ketika melihat kembali kehidupan kita, ternyata tidak banyak yang sudah kita kerjakan?
Pagi berganti siang, siang berganti malam, minggu berganti minggu, bahkan tahun berganti tahun. Namun, ada banyak rencana yang tetap menjadi rencana karena selalu kita katakan, “Nanti saja.”
Kita hidup di zaman yang penuh dengan berbagai distraksi. Telepon genggam dapat membuat kita betah berlama-lama. Kita membuka media sosial dengan maksud hanya beberapa menit, tetapi tanpa terasa sudah menghabiskan waktu yang panjang. Kita mengatakan, “Saya istirahat sebentar,” tetapi akhirnya pekerjaan yang seharusnya dilakukan menjadi tertunda.
Tentu, istirahat bukanlah sesuatu yang salah. Kita membutuhkan istirahat. Tetapi ketika “istirahat” berubah menjadi kebiasaan menunda tanggung jawab, di situlah kita perlu waspada.
Dalam Amsal 6:6-8, kita telah melihat semut sebagai teladan tentang kerajinan dan kedisiplinan. Namun, pada ayat 9-11, penulis Amsal menunjukkan sisi yang berlawanan. Ia menggambarkan akibat yang serius dari kemalasan.
Penulis bertanya, “Hai pemalas, berapa lama lagi engkau berbaring? Bilakah engkau akan bangun dari tidurmu?”
Pertanyaan ini terdengar sederhana, tetapi sebenarnya sangat tajam. “Berapa lama lagi?” Seolah-olah penulis sedang membangunkan seseorang yang terlalu lama tidur dan tidak menyadari bahwa kehidupannya sedang berjalan menuju masalah.
Saudara-saudara, Masalah orang malas bukan hanya karena ia tidak bekerja. Masalah yang lebih dalam adalah ia kehilangan kepekaan terhadap waktu dan kesempatan.
Ada musim dalam kehidupan. Ada saat untuk belajar. Ada saat untuk bekerja. Ada saat untuk membangun keluarga. Ada kesempatan untuk melayani. Ada waktu ketika tubuh kuat dan kesempatan terbuka luas.
Tetapi kesempatan tidak selalu berlangsung selamanya. Jika kita terus berkata, “Nanti,” suatu saat kita akan menyadari bahwa waktu yang kita miliki sudah berlalu.
Ayat 10 menggambarkan sikap pemalas dengan ungkapan, “Tidur sebentar lagi, mengantuk sebentar lagi, melipat tangan sebentar lagi untuk tinggal berbaring.”
Perhatikan kata “sebentar lagi.”
Masalahnya bukan satu kali “sebentar”. Masalahnya adalah ketika “sebentar” menjadi kebiasaan.
Sebentar menunda pekerjaan. Sebentar membuka media sosial. Sebentar bermain.
Sebentar tidur. Sebentar menunda pelayanan. Sebentar menunda belajar. Sebentar menunda menyelesaikan tanggung jawab. Jika semua “sebentar” itu dikumpulkan, ternyata jumlahnya menjadi sangat besar.
Kemalasan sering kali tidak datang dalam bentuk yang besar dan menakutkan. Ia datang secara perlahan melalui kompromi-kompromi kecil. Karena kecil, kita menganggapnya tidak berbahaya. Tetapi jika terus dilakukan, kebiasaan kecil itu dapat membentuk karakter dan akhirnya menentukan arah kehidupan.
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, Amsal kemudian memberikan gambaran yang sangat kuat: kemiskinan akan datang seperti seorang penyerbu dan kekurangan seperti orang bersenjata.
Penyerbu datang tanpa banyak peringatan. Ketika seseorang tidak siap, ia dapat kehilangan apa yang dimilikinya. Demikian pula kemalasan. Seseorang mungkin tidak langsung merasakan akibatnya hari ini.
Tetapi sedikit demi sedikit, kesempatan hilang, kemampuan tidak berkembang, pekerjaan terbengkalai, tanggung jawab tidak diselesaikan, dan akhirnya masalah menjadi semakin besar.
Gambaran “orang bersenjata” juga menunjukkan bahwa ketika akibat kemalasan sudah datang, kita mungkin merasa tidak memiliki kekuatan untuk melawannya. Karena itu, firman Tuhan mengingatkan kita sebelum semuanya terlambat.
Pertanyaannya bukan hanya, “Apakah saya malas?” Pertanyaan yang lebih penting adalah: “Di bagian mana dalam hidup saya Tuhan sedang meminta saya untuk bangun dan bertindak?”
Mungkin kita sedang menunda sesuatu yang sudah lama Tuhan taruh dalam hati kita. Mungkin ada tanggung jawab keluarga yang selama ini kita abaikan. Mungkin ada pekerjaan yang selalu kita tunda. Mungkin ada kesempatan untuk belajar yang kita sia-siakan. Mungkin ada pelayanan yang kita hindari karena merasa tidak nyaman.
Atau mungkin kita terlalu banyak menghabiskan waktu untuk hal-hal yang tidak memberikan pertumbuhan bagi kehidupan kita.
Saudara-saudara, Waktu adalah salah satu aset terbesar yang Tuhan berikan kepada kita. Uang yang hilang mungkin masih dapat dicari kembali. Barang yang rusak mungkin dapat diganti. Tetapi waktu yang sudah berlalu tidak dapat kita beli kembali.
Karena itu, pertanyaan Amsal, “Berapa lama lagi?”, sebenarnya adalah panggilan untuk sadar.
Jangan menunggu sampai kehilangan kesempatan baru kita menyadari nilainya. Jangan menunggu sampai kesehatan menurun baru kita belajar menghargai waktu. Jangan menunggu sampai keluarga membutuhkan kita baru kita belajar hadir. Jangan menunggu sampai kesempatan pelayanan berlalu baru kita berkata, “Seandainya saya melakukannya.”
Tuhan memberikan setiap orang kesempatan untuk berkarya dan menjadi berkat. Kita tidak dipanggil untuk hidup tanpa tujuan.
Karena itu, marilah kita belajar mengalahkan kemalasan dengan tindakan sederhana: menentukan prioritas, mengatur waktu, menyelesaikan tanggung jawab, mengurangi hal-hal yang tidak perlu, dan berani memulai apa yang selama ini kita tunda.
Tidak perlu menunggu semuanya sempurna untuk mulai bekerja. Mulailah dari hal kecil.
Bangunlah ketika waktunya bangun. Kerjakan ketika waktunya bekerja. Belajarlah ketika ada kesempatan belajar. Layani Tuhan ketika kesempatan pelayanan terbuka. Dan lakukan semuanya dengan hati yang sungguh-sungguh.
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, Kemalasan adalah pencuri yang sering masuk melalui pintu kompromi kecil. Karena itu, jangan biarkan “sebentar lagi” menguasai hidup kita.
Ketika Tuhan memberi kesempatan, gunakanlah. Ketika Tuhan memberi kemampuan, kembangkanlah. Ketika Tuhan memberi waktu, manfaatkanlah.
Jangan sampai suatu hari kita melihat ke belakang dan menyadari bahwa banyak berkat dan kesempatan telah berlalu hanya karena kita terlalu lama berkata, “Nanti saja.” Hari ini Tuhan mengingatkan kita: “Berapa lama lagi engkau akan berbaring?”
Kiranya pertanyaan itu membangunkan kita. Bangun dari kemalasan, bangun dari kebiasaan menunda, dan bangun untuk melakukan apa yang Tuhan percayakan kepada kita.
Sebab hidup ini singkat, waktu terus berjalan, dan kesempatan tidak selalu datang untuk kedua kalinya.
Jangan biarkan kemalasan mencuri hari ini, karena hari ini adalah kesempatan yang Tuhan berikan untuk menanam kebaikan bagi masa depan. Amin.
Doa : Tuhan Yesus, bangunkan kami dari kemalasan dan kebiasaan menunda. Ajarlah kami menghargai waktu, menggunakan setiap kesempatan dengan bijaksana, serta bertanggung jawab dalam pekerjaan dan pelayanan. Berikan kami semangat, ketekunan, dan hikmat untuk melakukan kehendak-Mu setiap hari. Amin.
Editor : Alfianne Lumantow