Pembacaan Alkitab: Amsal 11:4-6
TEMA: KEKAYAAN SESUNGGUHNYA: HIDUP DALAM KEBENARAN
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Dalam kehidupan modern, banyak orang tanpa sadar mengukur nilai dirinya berdasarkan apa yang dimiliki. Kekayaan, rumah, kendaraan, jabatan, pendidikan, maupun status sosial sering dianggap sebagai tanda keberhasilan.
Tidak jarang kita merasa lebih aman ketika tabungan bertambah, deposito tersedia, dan aset semakin banyak. Seolah-olah semakin banyak yang kita miliki, semakin terjamin pula masa depan kita.
Pemikiran seperti ini mengingatkan kita pada gagasan Erich Fromm dalam bukunya To Have or to Be, yang membedakan kehidupan berdasarkan orientasi "memiliki" dan "menjadi". Manusia dapat terjebak dalam keinginan untuk terus memiliki lebih banyak, sampai akhirnya lupa bertanya: "Saya sedang menjadi manusia seperti apa di hadapan Tuhan?"
Kita perlu menyadari bahwa uang memang penting dalam kehidupan, tetapi uang bukanlah tujuan hidup. Uang hanyalah alat. Kita dapat mengumpulkan uang dan harta sebanyak-banyaknya, tetapi kita tidak dapat membeli kembali waktu yang sudah berlalu.
Uang dapat dicari kembali, tetapi kesempatan untuk melakukan kebaikan pada hari kemarin tidak dapat diulang. Karena itu, bagaimana kita menggunakan waktu dan kehidupan jauh lebih penting daripada sekadar berapa banyak yang berhasil kita kumpulkan.
Amsal 11:4 berkata, "Pada hari kemurkaan harta tidak berguna, tetapi kebenaran melepaskan orang dari maut."
Ayat ini memberikan sebuah peringatan yang sangat kuat. Ada saatnya harta yang kita banggakan tidak lagi memiliki kekuatan. Ketika manusia berhadapan dengan kematian dan penghakiman Tuhan, uang, jabatan, rumah, kendaraan, dan segala kepemilikan tidak dapat menjadi penolong utama.
Bayangkan seseorang yang sepanjang hidupnya berhasil mengumpulkan kekayaan. Ia memiliki banyak aset, dikenal sebagai orang sukses, dan dihormati oleh masyarakat. Namun ketika tiba waktunya menghadapi kematian, tidak satu pun dari semua itu dapat dibawanya untuk bernegosiasi dengan Tuhan.
Harta tidak dapat membeli pengampunan. Jabatan tidak dapat memberikan keselamatan. Status sosial tidak dapat mengubah keputusan Tuhan. Karena itu, Amsal mengarahkan perhatian kita kepada sesuatu yang jauh lebih bernilai: kebenaran.
Kebenaran bukan berarti kita dapat menyelamatkan diri dengan perbuatan baik kita sendiri. Sebagai orang percaya, kita memahami bahwa keselamatan adalah anugerah Tuhan di dalam Yesus Kristus. Namun anugerah keselamatan itu memanggil kita untuk hidup dalam kebenaran. Kita tidak boleh menjadikan iman hanya sebagai identitas, sementara kehidupan sehari-hari dipenuhi ketidakjujuran, keserakahan, dan ketidakadilan.
Amsal 11:5 berkata bahwa "kebenaran orang yang tulus itu meluruskan jalannya." Betapa indah gambaran ini. Orang yang hidup tulus tidak perlu menghabiskan banyak energi untuk menutupi kebohongan. Ia tidak perlu mengingat kebohongan apa yang pernah dikatakan kepada orang lain.
Ia tidak perlu membuat kebohongan baru untuk mempertahankan kebohongan lama. Sebaliknya, kebenaran membuat jalan hidup menjadi lebih lurus.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita dapat melihat betapa melelahkannya hidup dalam kebohongan. Seseorang yang tidak jujur dalam pekerjaan harus terus mencari cara untuk menyembunyikan kesalahannya.
Orang yang memanipulasi laporan harus takut apabila suatu hari semuanya terbongkar. Orang yang membangun citra palsu di media sosial harus terus mempertahankan kehidupan yang sebenarnya tidak sesuai dengan kenyataan.
Kebenaran memang tidak selalu membuat hidup menjadi mudah, tetapi kebenaran membuat hidup menjadi utuh. Kita dapat berdiri dengan hati yang tenang karena tidak perlu menyembunyikan sesuatu dari Tuhan.
Amsal 11:6 kemudian mengingatkan bahwa "orang-orang yang tulus dilepaskan oleh kebenaran mereka, tetapi pengkhianat tertangkap oleh hawa nafsu mereka."
Ini merupakan peringatan penting. Sering kali manusia berpikir bahwa yang membatasi dirinya adalah keadaan di luar dirinya. Padahal, tidak jarang manusia justru menjadi tawanan dari keinginannya sendiri: keserakahan, ambisi yang buta, keinginan untuk dipuji, cinta uang, dan keinginan untuk memiliki lebih banyak.
Pada awalnya hawa nafsu itu tampak seperti kebebasan. "Saya bebas melakukan apa saja karena ini hidup saya." Tetapi tanpa disadari, seseorang semakin terikat. Ia bekerja hanya demi uang, berbohong demi keuntungan, mengorbankan keluarga demi jabatan, bahkan mengorbankan prinsip iman demi kesuksesan.
Saudara-saudari, Firman Tuhan hari ini mengajak kita memeriksa kembali orientasi hidup kita. Apa yang sebenarnya sedang kita kejar? Apakah kita hanya berusaha memiliki, atau kita juga sedang berusaha menjadi pribadi yang berkenan kepada Tuhan?
Kekayaan bukanlah dosa. Memiliki harta bukanlah kesalahan. Yang perlu kita waspadai adalah ketika harta mengambil tempat yang seharusnya menjadi milik Tuhan. Jangan sampai kita begitu sibuk mengumpulkan kekayaan sehingga kehilangan waktu untuk keluarga, pelayanan, sesama, bahkan kehilangan kesempatan untuk bertumbuh dalam iman.
Marilah kita membangun kehidupan di atas fondasi kebenaran Kristus. Gunakan harta dengan bijaksana, gunakan waktu dengan bertanggung jawab, dan gunakan kesempatan hidup untuk melakukan kebaikan. Jangan biarkan kekayaan menjadi ukuran utama keberhasilan kita.
Sebab kekayaan yang sesungguhnya bukanlah seberapa banyak yang kita miliki, melainkan seberapa benar kita hidup di hadapan Tuhan.
Kiranya ketika suatu hari kita berdiri di hadapan Tuhan, kita tidak hanya dikenal sebagai orang yang memiliki banyak hal, tetapi sebagai pribadi yang hidup dalam iman, ketulusan, kejujuran, kasih, dan kebenaran. Amin.
Doa : Tuhan yang Mahakasih, ajarlah kami tidak menggantungkan hidup pada kekayaan dan kepemilikan, tetapi senantiasa hidup dalam kebenaran-Mu. Berikan kami hati yang tulus, bijaksana mengelola waktu dan harta, serta setia mengikuti kehendak-Mu hingga akhir hidup kami. Dalam nama Yesus. Amin.
Editor : Alfianne Lumantow