Pembacaan Alkitab: 1 Korintus 11:17-22
Tema: Makan Bersama Sebagai Tanda Syukur
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Setiap kita tentu memiliki pengalaman tentang makan bersama. Meja makan mungkin terlihat sederhana, tetapi sebenarnya memiliki arti yang sangat penting dalam kehidupan keluarga dan persekutuan.
Di meja makan, kita tidak hanya menikmati makanan, tetapi juga berbagi cerita, pengalaman, sukacita, bahkan pergumulan. Meja makan menjadi tempat di mana hubungan dibangun dan kasih dinyatakan.
Namun, kita juga menyadari bahwa makan bersama tidak selalu berarti hati kita sungguh-sungguh bersama. Ada keluarga yang duduk di meja yang sama, tetapi masing-masing sibuk dengan urusannya sendiri.
Ada yang sibuk dengan telepon genggam, ada yang memikirkan pekerjaan, ada pula yang membawa kemarahan dan masalah ke meja makan. Tubuh memang berada bersama, tetapi hati justru berjauhan.
Karena itu, makan bersama bukan hanya persoalan duduk dan menikmati makanan. Makan bersama seharusnya menjadi kesempatan untuk membangun kasih, mengungkapkan syukur, dan memperhatikan satu sama lain.
Saudara-saudari, Dalam bacaan kita, Paulus berbicara kepada jemaat di Korintus. Jemaat ini sebenarnya berkumpul untuk beribadah dan merayakan Perjamuan Tuhan. Seharusnya pertemuan itu menjadi tanda kesatuan, kasih, dan persaudaraan di dalam Kristus. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya.
Paulus berkata dalam ayat 21: “Sebab pada perjamuan itu tiap-tiap orang memakan dahulu makanannya sendiri, sehingga yang seorang lapar dan yang lain mabuk.”
Bayangkan keadaan tersebut. Mereka berkumpul dalam satu tempat, tetapi tidak benar-benar hidup sebagai satu tubuh. Ada yang makan berlebihan sampai mabuk, sementara ada saudara yang tidak mendapatkan makanan dan tetap lapar.
Ini merupakan persoalan yang serius. Mengapa? Karena mereka sedang merayakan perjamuan yang seharusnya mengingatkan mereka pada kasih dan pengorbanan Kristus, tetapi perilaku mereka justru menunjukkan egoisme dan ketidakpedulian.
Mereka mungkin duduk dalam satu ruangan, tetapi tidak memiliki hati yang sama. Mereka hadir secara fisik, tetapi tidak hadir dalam kasih.
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Situasi jemaat Korintus ini ternyata masih relevan bagi kehidupan kita sekarang. Kita dapat berkumpul dalam keluarga, gereja, masyarakat, bahkan dalam berbagai kegiatan bersama, tetapi kebersamaan itu dapat kehilangan maknanya ketika egoisme menguasai hati.
Kita bisa makan bersama, tetapi tidak berbagi. Kita bisa berkumpul, tetapi tidak peduli. Kita bisa melihat orang lain mengalami kesulitan, tetapi memilih untuk mengatakan, “Itu bukan urusan saya.”
Padahal, kehidupan Kristen tidak pernah mengajarkan kita untuk hidup hanya bagi diri sendiri.
Yesus mengajarkan kita untuk memperhatikan orang lain, terutama mereka yang lemah, lapar, menderita, dan membutuhkan pertolongan.
Karena itu, meja makan dapat menjadi tempat yang sangat sederhana untuk mempraktikkan kasih Tuhan.
Ketika kita memiliki makanan, kita belajar mengucap syukur. Ketika ada orang lain yang kekurangan, kita belajar berbagi. Ketika ada anggota keluarga yang sedang mengalami masalah, kita belajar mendengarkan. Ketika ada perbedaan pendapat, kita belajar mengampuni.
Dengan demikian, makanan bukan hanya sesuatu yang mengenyangkan perut, tetapi dapat menjadi sarana untuk menyatakan kasih Allah.
Saudara-saudari, Kita juga perlu mengingat bahwa segala sesuatu yang kita miliki adalah pemberian Tuhan. Makanan yang tersedia di meja kita merupakan anugerah.
Ada tangan-tangan yang bekerja untuk menghasilkan makanan itu. Ada orang yang menanam, memelihara, memanen, mengolah, dan menyediakannya sampai akhirnya tiba di meja kita.
Karena itu, jangan pernah menganggap makanan sebagai sesuatu yang biasa-biasa saja. Setiap makanan adalah alasan untuk bersyukur.
Tetapi rasa syukur yang sejati tidak berhenti pada ucapan, “Terima kasih Tuhan atas makanan ini.” Syukur juga harus terlihat dalam tindakan. Kalau kita bersyukur karena Tuhan memberi kita makanan yang cukup, maka kita juga dipanggil untuk memiliki hati yang peka terhadap orang yang sedang lapar.
Syukur kepada Tuhan harus menghasilkan kepedulian kepada sesama.
Inilah yang dapat kita pelajari dari teguran Paulus kepada jemaat Korintus. Perjamuan Tuhan tidak boleh menjadi tempat untuk menunjukkan siapa yang lebih kaya, lebih kuat, atau lebih penting. Perjamuan Tuhan justru mengingatkan bahwa di hadapan Kristus kita semua adalah saudara.
Roti dan anggur yang menjadi bagian dari Perjamuan Kudus mengingatkan kita kepada tubuh dan darah Kristus yang diberikan bagi keselamatan manusia. Kristus memberikan diri-Nya bukan karena manusia layak, tetapi karena kasih-Nya begitu besar.
Maka, ketika kita datang kepada meja Tuhan, kita belajar untuk meninggalkan kesombongan dan egoisme. Kita belajar bahwa hidup kita bukan hanya tentang “saya”, tetapi tentang “kita”.
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Yesus juga sering hadir di tengah manusia melalui perjamuan makan. Ia makan bersama berbagai macam orang, termasuk mereka yang dianggap tidak layak oleh masyarakat. Dalam meja makan, Yesus menghadirkan penerimaan, pengampunan, persaudaraan, dan kasih.
Karena itu, setiap meja makan yang kita miliki dapat menjadi kesempatan untuk menghadirkan kasih Kristus.
Di rumah, mari kita membangun kembali kebiasaan makan bersama. Jika memungkinkan, letakkan sejenak telepon genggam, tinggalkan kesibukan, dan berbicaralah satu dengan yang lain. Dengarkan cerita anak-anak. Dengarkan pergumulan pasangan. Perhatikan orang tua. Jangan hanya hadir dengan tubuh, tetapi hadirkan juga hati.
Di tengah masyarakat, mari kita belajar berbagi. Jangan menikmati berkat Tuhan sendirian ketika ada orang lain yang membutuhkan. Berbagi makanan mungkin terlihat sederhana, tetapi bagi seseorang yang sedang lapar, tindakan kecil itu dapat menjadi pengalaman nyata tentang kasih Tuhan.
Di gereja pun demikian. Jangan sampai persekutuan hanya menjadi tempat kita berkumpul dengan orang-orang yang kita sukai. Gereja dipanggil menjadi keluarga besar yang membuka ruang bagi semua orang.
Saudara-saudari, Tema kita malam ini adalah “Makan Bersama sebagai Tanda Syukur.” Maka marilah kita melihat meja makan dengan cara yang baru. Meja makan bukan hanya tempat mengisi perut, tetapi tempat membangun persaudaraan.
Bukan hanya tempat menerima berkat, tetapi juga tempat belajar berbagi berkat. Bukan hanya tempat menikmati makanan, tetapi tempat menyatakan kasih Tuhan.
Kiranya setiap kali kita duduk makan bersama, kita mengingat bahwa ada banyak orang yang belum menikmati kecukupan seperti yang kita alami. Biarlah syukur kita mendorong kita untuk berbagi. Biarlah makanan yang kita nikmati menjadi berkat bagi orang lain.
Akhirnya, marilah kita bertanya kepada diri kita masing-masing: Apakah kehadiran saya di tengah keluarga, gereja, dan masyarakat sudah menjadi berkat? Apakah saya hanya menikmati berkat Tuhan untuk diri sendiri, atau saya juga bersedia membagikannya kepada sesama?
Kiranya Tuhan mengajar kita untuk hidup dalam syukur, rendah hati, peduli, dan suka berbagi. Semoga setiap meja yang kita miliki menjadi tempat di mana kasih Kristus dinyatakan, persaudaraan dibangun, dan berkat Tuhan dibagikan.
Mari makan bersama dalam syukur, hidup bersama dalam kasih, dan berbagi bersama sebagai tanda bahwa kita adalah satu keluarga di dalam Kristus. Amin.
Doa : Ya Tuhan, kami bersyukur atas makanan dan berkat yang Engkau berikan. Ajarlah kami selalu hidup dalam syukur, rendah hati, peduli, dan suka berbagi. Satukanlah keluarga dan persekutuan kami dalam kasih Kristus, agar kehidupan kami menjadi berkat bagi sesama. Amin.
Editor : Alfianne Lumantow