Pembacaan Alkitab: 1 Korintus 11:27-30
Tema: “Menguji Diri Dengan Jujur”
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Setiap pagi ketika kita bangun, biasanya ada banyak hal yang langsung memenuhi pikiran. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan, pesan yang perlu dibalas, tanggung jawab keluarga yang menanti, dan berbagai rencana yang ingin kita lakukan.
Kita terbiasa memeriksa jadwal, menyusun kegiatan, menghitung kebutuhan, bahkan mengevaluasi pekerjaan. Tetapi ada satu hal yang sering kita lupa periksa: hati kita sendiri.
Kita dapat mengetahui keadaan orang lain, tetapi belum tentu mengetahui keadaan hati kita. Kita dapat melihat kesalahan orang lain dengan jelas, tetapi kadang sulit melihat kelemahan diri sendiri. Kita dapat menilai apakah pekerjaan kita berhasil, tetapi tidak selalu bertanya apakah hidup kita sudah berkenan kepada Tuhan.
Karena itu, firman Tuhan pada hari ini mengajak kita berhenti sejenak dan melakukan sesuatu yang sangat penting, yaitu menguji diri dengan jujur di hadapan Tuhan.
Paulus berkata dalam ayat 28: “Karena itu hendaklah tiap-tiap orang menguji dirinya sendiri.”
Saudara-saudari, Nasihat ini diberikan Paulus kepada jemaat di Korintus yang sedang mengalami masalah dalam kehidupan persekutuan dan Perjamuan Kudus. Mereka datang ke meja Tuhan, tetapi sikap mereka tidak menunjukkan penghormatan terhadap kekudusan perjamuan tersebut.
Mereka berkumpul, tetapi ada yang bersikap egois. Ada yang makan berlebihan, sementara yang lain kekurangan. Mereka berada dalam satu persekutuan, tetapi tidak menunjukkan kasih sebagai satu tubuh Kristus.
Karena itu Paulus tidak hanya menyalahkan mereka. Ia mengajak setiap orang untuk memeriksa dirinya sendiri. Ini penting. Ketika terjadi masalah dalam kehidupan bersama, kita sering lebih mudah bertanya, “Siapa yang salah?” daripada bertanya, “Apa yang salah dalam diri saya?”
Kita mudah menunjuk orang lain, tetapi sulit bercermin. Firman Tuhan justru mengajak kita untuk mulai dari diri sendiri. Menguji diri bukan berarti terus-menerus menyalahkan diri atau hidup dalam ketakutan. Menguji diri berarti berani datang kepada Tuhan dengan hati yang terbuka dan berkata, “Tuhan, tunjukkan kepadaku siapa diriku yang sebenarnya.”
Ada kalanya penampilan kita terlihat baik, tetapi hati kita menyimpan kepahitan. Kita mungkin terlihat ramah, tetapi di dalam hati masih ada kemarahan. Kita mungkin aktif melayani, tetapi motivasi kita sebenarnya adalah ingin dipuji.
Kita mungkin berbicara tentang kejujuran, tetapi dalam kehidupan sehari-hari masih menyimpan ketidakjujuran. Kita mungkin rajin beribadah, tetapi hubungan kita dengan sesama sedang rusak.
Karena itu, menguji diri berarti membiarkan Tuhan menerangi bagian-bagian hidup kita yang mungkin selama ini kita sembunyikan.
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Tuhan adalah Allah yang kudus. Ia tidak menganggap dosa sebagai sesuatu yang sepele. Tetapi kekudusan Tuhan tidak berarti bahwa Ia ingin menghancurkan kita. Justru ketika Tuhan menegur, itu adalah bentuk kasih-Nya.
Seorang ayah yang mengasihi anaknya tidak akan membiarkan anaknya terus berjalan menuju bahaya. Ia akan menegur, memperingatkan, dan mengarahkan.
Demikian juga Tuhan. Ketika Tuhan menunjukkan kesalahan kita, tujuan-Nya bukan untuk mempermalukan kita, melainkan untuk membawa kita kembali kepada jalan yang benar.
Karena itu, jangan takut ketika Tuhan memperlihatkan kelemahan kita. Yang harus kita takutkan justru adalah ketika hati kita menjadi keras dan tidak mau lagi ditegur.
Orang yang dewasa secara rohani bukanlah orang yang merasa dirinya sudah sempurna. Orang yang dewasa secara rohani adalah orang yang mampu berkata, “Saya masih perlu Tuhan memperbaiki hidup saya.”
Saudara-saudari, Pertanyaannya sekarang: Apa yang perlu kita uji dalam diri kita?
Pertama, uji hati kita.
Apakah hati kita masih memiliki kasih? Ataukah kita mulai dipenuhi kepahitan, iri hati, kebencian, dan keinginan membalas?
Mungkin ada seseorang yang telah menyakiti kita. Kita sudah mengatakan bahwa kita mengampuni, tetapi setiap kali mengingat peristiwa itu, hati kita masih panas. Mari kita berkata, “Tuhan, periksa hatiku.” Jika ada kepahitan, biarlah Tuhan melepaskannya.
Kedua, uji motivasi kita.
Mengapa kita melakukan sesuatu? Mengapa kita melayani? Mengapa kita bekerja keras? Apakah semuanya demi Tuhan dan kebaikan sesama, atau supaya kita mendapat pengakuan?
Tidak ada yang salah dengan menerima penghargaan, tetapi kita perlu memastikan bahwa pujian manusia bukan menjadi tujuan utama hidup kita.
Ketiga, uji perkataan dan tindakan kita.
Apakah perkataan kita membangun atau justru melukai? Apakah tindakan kita membawa damai atau memperbesar konflik?
Kadang-kadang kita berdoa meminta Tuhan memakai hidup kita, tetapi perkataan kita justru membuat orang lain terluka.
Karena itu, sebelum kita meminta Tuhan memakai kita sebagai alat-Nya, kita perlu bersedia dibentuk oleh-Nya.
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Menguji diri juga berarti berani mengakui dosa. Tidak ada pertobatan tanpa kejujuran.
Kita tidak perlu berpura-pura sempurna di hadapan Tuhan. Tuhan sudah mengetahui semuanya. Yang Tuhan kehendaki adalah hati yang mau datang dan berkata, “Tuhan, saya salah. Ampunilah saya. Ubahlah saya.”
Di situlah kasih karunia bekerja. Tuhan tidak mencari manusia yang tidak pernah jatuh. Tuhan mencari manusia yang ketika jatuh mau bangkit dan kembali kepada-Nya.
Karena itu, jangan menunggu menjadi sempurna untuk datang kepada Tuhan. Datanglah kepada Tuhan supaya Ia membentuk kita menjadi pribadi yang semakin serupa dengan kehendak-Nya.
Saudara-saudari, Menguji diri juga penting dalam kehidupan gereja. Gereja yang sehat bukanlah gereja yang merasa tidak memiliki masalah. Gereja yang sehat adalah gereja yang berani mengevaluasi diri, mengakui kelemahan, bertobat, dan terus belajar hidup dalam kasih.
Ketika setiap orang bersedia memeriksa dirinya sendiri, kita tidak akan terlalu sibuk mencari kesalahan orang lain. Kita akan lebih banyak belajar memperbaiki diri.
Dan ketika hati kita dibersihkan Tuhan, kehidupan kita dapat menjadi berkat bagi keluarga, gereja, masyarakat, bahkan seluruh ciptaan.
Karena itu, sebelum kita bekerja, melayani, berbicara, dan mengambil keputusan, marilah kita belajar berhenti sejenak dan berkata: “Tuhan, periksa aku.”
Jika ada kepahitan, lepaskanlah. Jika ada ketidakjujuran, akuilah. Jika ada kesombongan, rendahkanlah. Jika ada kasih yang mulai dingin, mintalah Tuhan menyalakannya kembali. Jika ada dosa yang selama ini disembunyikan, bawalah ke hadapan Tuhan.
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Mungkin hari ini Tuhan sedang menunjukkan sesuatu dalam hidup kita yang perlu dibereskan. Jangan keraskan hati. Terimalah teguran-Nya sebagai tanda kasih.
Sebab pribadi yang dipakai Tuhan bukanlah pribadi yang tampak sempurna, melainkan pribadi yang mau dibentuk, mau ditegur, mau bertobat, dan mau hidup dalam kebenaran.
Mari kita menjadikan setiap pagi sebagai kesempatan untuk berkata: “Tuhan, sebelum aku melihat kesalahan orang lain, periksa dahulu hatiku. Sebelum aku memperbaiki dunia di sekitarku, perbaikilah diriku. Sebelum aku menjadi berkat bagi orang lain, bersihkanlah hidupku.”
Kiranya Tuhan memberi kita keberanian untuk menguji diri dengan jujur, kerendahan hati untuk mengakui kesalahan, dan iman untuk menerima pemulihan-Nya.
Ketika hati kita rela diperiksa dan dibersihkan Tuhan, hidup kita akan menjadi terang yang membawa damai, menyembuhkan relasi, memperjuangkan kebenaran, dan menjadi berkat bagi sesama.
Menguji diri bukan tanda bahwa kita lemah. Menguji diri adalah tanda bahwa kita rindu bertumbuh di dalam Tuhan. Amin.
Doa : Ya Tuhan, kami bersyukur atas firman-Mu. Tolong kami berani menguji hati dengan jujur, mengakui kesalahan, melepaskan kepahitan, dan meninggalkan ketidakjujuran. Bentuklah kami menjadi pribadi rendah hati, mau bertobat, serta mampu menjadi terang dan berkat bagi keluarga dan sesama. Amin.
Editor : Alfianne Lumantow