Pembacaan Alkitab: 1 Korintus 12:1-7
Tema: KARUNIA UNTUK KEPENTINGAN BERSAMA
“Kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama.” (1 Korintus 12:7)
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Pagi ini, mungkin kita membuka mata dengan berbagai beban yang sudah menunggu. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan, keluarga yang perlu diperhatikan, tanggung jawab yang tidak dapat ditunda, bahkan mungkin ada pergumulan yang hanya kita simpan dalam hati.
Dalam keadaan seperti itu, terkadang kita merasa diri kita biasa saja. Kita mungkin berpikir, “Apa yang bisa saya lakukan? Apa yang saya punya untuk Tuhan dan untuk orang lain?”
Namun firman Tuhan pagi ini mengingatkan kita bahwa tidak ada seorang pun yang tidak berguna di hadapan Allah. Setiap orang yang percaya kepada Kristus telah menerima sesuatu dari Tuhan.
Ada karunia, kemampuan, kesempatan, pengalaman, perhatian, hikmat, tenaga, dan berbagai bentuk pemberian Tuhan yang dapat dipakai untuk menjadi berkat bagi sesama.
Paulus dalam 1 Korintus 12 berbicara kepada jemaat di Korintus mengenai karunia-karunia Roh. Jemaat Korintus adalah jemaat yang memiliki banyak karunia rohani. Tetapi persoalannya, mereka mulai membandingkan diri, menonjolkan karunia tertentu, dan kurang memahami tujuan sebenarnya dari karunia tersebut.
Karena itu Paulus mengingatkan mereka bahwa karunia bukanlah alasan untuk menyombongkan diri. Karunia bukan diberikan supaya seseorang merasa lebih tinggi daripada orang lain.
Sebaliknya, karunia diberikan untuk kepentingan bersama. Ayat 7 berkata: “Kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama.”
Perhatikan kata “tiap-tiap orang.” Artinya, setiap orang memiliki tempat dan peran dalam karya Tuhan. Tidak hanya pendeta. Tidak hanya majelis. Tidak hanya mereka yang aktif dalam pelayanan gereja. Setiap orang memiliki sesuatu yang dapat dipersembahkan kepada Tuhan.
Ada orang yang dikaruniai kemampuan berbicara. Ada yang pandai mengajar. Ada yang mampu mengorganisir. Ada yang memiliki kepekaan untuk mendengar dan menguatkan orang lain. Ada yang tidak banyak bicara, tetapi tangannya selalu siap menolong.
Ada yang memiliki kemampuan menggunakan teknologi, mengelola keuangan, bekerja dengan anak-anak, memperhatikan orang sakit, mengunjungi yang kesepian, atau mendampingi mereka yang sedang mengalami kesulitan.
Mungkin bagi kita hal-hal itu terlihat sederhana. Tetapi di tangan Tuhan, sesuatu yang sederhana dapat menjadi alat untuk menyatakan kasih-Nya.
Saudara-saudari, Kita perlu memahami bahwa karunia adalah pemberian, bukan prestasi. Karena karunia adalah pemberian Tuhan, maka tidak ada alasan untuk menyombongkan diri. Kita juga tidak perlu merasa minder karena karunia kita berbeda dari orang lain.
Jangan membandingkan karunia kita dengan karunia orang lain. Kadang-kadang kita berkata, “Saya tidak bisa berkhotbah seperti dia.” “Saya tidak bisa bernyanyi seperti dia.” “Saya tidak sepandai orang itu.” Akhirnya kita merasa tidak memiliki sesuatu yang berarti.
Padahal Tuhan tidak meminta kita menjadi orang lain. Tuhan meminta kita setia menggunakan apa yang telah dipercayakan-Nya kepada kita. Mata tidak perlu menjadi tangan. Tangan tidak perlu menjadi kaki. Setiap bagian memiliki fungsi yang berbeda, tetapi semuanya diperlukan bagi kehidupan tubuh.
Demikian juga dalam kehidupan gereja. Kita berbeda dalam kemampuan, pengalaman, usia, pekerjaan, dan karakter. Tetapi perbedaan itu bukan alasan untuk saling merendahkan. Justru perbedaan itu menjadi kekayaan ketika semuanya diarahkan untuk satu tujuan: melayani Tuhan dan membangun kehidupan bersama.
Inilah yang juga penting dalam kehidupan kita sehari-hari. Karunia Tuhan tidak hanya digunakan di dalam gedung gereja. Karunia itu juga dipakai di rumah, di tempat kerja, di tengah masyarakat, dan di mana pun Tuhan menempatkan kita.
Seorang ibu yang dengan sabar mendidik anak-anaknya sedang menggunakan karunia untuk kepentingan bersama. Seorang ayah yang bekerja dengan jujur untuk memenuhi kebutuhan keluarganya sedang menjalankan tanggung jawab yang Tuhan percayakan.
Seorang anak muda yang mau mendampingi temannya yang sedang mengalami kesulitan sedang menjadi saluran kasih Tuhan. Seorang tetangga yang memperhatikan orang lain yang sedang sakit sedang menghadirkan kepedulian Kristus.
Karunia tidak selalu berbentuk sesuatu yang besar dan terlihat oleh banyak orang. Sering kali karunia Tuhan bekerja melalui tindakan-tindakan kecil yang dilakukan dengan kasih.
Senyuman dapat menguatkan. Perhatian dapat menyembuhkan luka. Nasihat yang bijaksana dapat menolong seseorang mengambil keputusan. Doa dapat memberikan kekuatan. Kesediaan untuk mendengar dapat membuat seseorang merasa tidak sendirian. Karena itu, jangan meremehkan apa yang Tuhan sudah berikan kepada kita.
Lebih jauh lagi, Paulus menunjukkan bahwa semua karunia berasal dari Allah. Ada berbagai karunia, tetapi satu Roh; ada berbagai pelayanan, tetapi satu Tuhan; dan ada berbagai pekerjaan, tetapi satu Allah yang mengerjakan semuanya. Artinya, keberagaman tidak seharusnya menghasilkan persaingan, melainkan kesatuan dalam pelayanan.
Gereja bukan tempat orang berlomba menunjukkan siapa yang paling hebat. Gereja adalah tubuh Kristus, tempat setiap orang belajar memberi diri, saling melengkapi, saling menguatkan, dan bersama-sama menghadirkan kasih Allah.
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Mari kita bertanya kepada diri sendiri: “Karunia apa yang Tuhan sudah berikan kepada saya, dan untuk siapa karunia itu dapat menjadi berkat?” Jangan hanya bertanya, “Apa yang bisa saya dapat dari gereja?” Tetapi mari belajar bertanya, “Apa yang dapat saya berikan bagi gereja dan bagi sesama?”
Mungkin kita tidak memiliki banyak hal. Tetapi kita memiliki sesuatu yang dapat diberikan.
Mari kita menyambut hari ini dengan keberanian baru. Jangan berkata, “Saya tidak punya apa-apa.” Jangan pula berkata, “Karunia saya terlalu kecil.” Ingatlah firman Tuhan: “Kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama.”
Apa yang Tuhan berikan kepada kita bukan hanya untuk dinikmati sendiri, tetapi untuk dibagikan. Ketika karunia digunakan dengan kasih, ketika kemampuan dipersembahkan dengan kerendahan hati, ketika hidup kita menjadi berkat bagi orang lain, di situlah gereja sungguh-sungguh menjadi tanda kasih Kristus di tengah dunia.
Kiranya Tuhan menolong kita untuk mengenali karunia yang telah diberikan-Nya, menggunakannya dengan setia, dan selalu mengarahkannya untuk kepentingan bersama, demi kemuliaan nama Tuhan. Amin.
Doa : Ya Tuhan, terima kasih atas setiap karunia yang Engkau percayakan kepada kami. Tolong kami menggunakannya dengan rendah hati, kasih, dan kesetiaan, bukan untuk kepentingan diri sendiri, melainkan untuk melayani sesama, membangun persekutuan, dan memuliakan nama-Mu. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.
Editor : Alfianne Lumantow