Pembacaan Alkitab : Ibrani 2:5-13
TEMA : BERDIRI DI GARIS DEPAN KEADILAN
"..... Perintis yang memimpin mereka kepada keselamatan melalui penderitaan". (ay.10)
Menutup mata terhadap penindasan demi mengamankan posisi pribadi adalah dosa pengecut yang sering kali dibungkus rapi dengan nama "kesabaran".
Kita terjebak dalam kemunafikan saat melihat ketidakadilan terjadi di depan mata, namun memilih bungkam agar zona nyaman tetap terjaga.
Padahal, pengikut Kristus tidak pernah dipanggil untuk lari ketakutan dari peperangan melawan sistem yang menindas.
Keselamatan sejati tidak pernah lahir melalui jalan pintas yang serba aman.
Surat Ibrani pasal dua menegaskan realitas keras bahwa Yesus harus melewati penderitaan maut untuk membawa banyak orang menuju kemuliaan.
Ia menjadi Perintis yang sempurna justru karena la berani berhadapan langsung dengan sistem kejahatan yang merampas martabat manusia.
Bagi Kristus, kasih tanpa keberanian adalah semu. Kasih tidak bisa berhenti hanya dalam percakapan, tetapi dalam perbuatan baik yang menolong dan melindungi sesama dari kejahatan yang mengancam hidup mereka.
Allah kita adalah Pembela kebenaran yang rela menyerahkan segalanya demi membebaskan kaum tertindas.
Penderitaan saat melawan arus ketidakadilan bukanlah tanda kekalahan, melainkan proses penyempurnaan ilahi.
Di tengah medan pertempuran itulah, kuasa Penebus bekerja paling kuat. Kristus hadir memeluk kelemahan kita, sekaligus menyalurkan kekuatan bagi gereja untuk berdiri teguh di garis depan pembebasan.
Berhentilah menjadi penonton yang mencari aman di tengah kejahatan struktural. Suarakan keberatan dengan lantang saat keputusan organisasi mulai merugikan pihak yang lemah.
Lindungi secara fisik maupun verbal mereka yang sedang disingkirkan dari komunitas. Tolak dengan keras segala bentuk manipulasi yang menguntungkan kepentingan kelompok.
Bergeraklah memotong rantai penindasan hari ini juga. Jangan beri ruang bagi kompromi, sebab membela kebenaran adalah bentuk ibadah yang paling nyata di mata Tuhan. Amin.
Doa: Bapa, hilangkan ketakutanku saat membela kebenaran. Beri aku keberanian menghancurkan sistem ketidakadilan hari ini juga. Amin.
Editor : Alfianne Lumantow