Pembacaan Alkitab : Amos 4:12-13
TEMA : PEKA TERHADAP TEGURAN TUHAN
"...bersiaplah untuk bertemu dengan Allahmu, hai Israel" (ay.12 c)
Seorang filsuf bernama Friedrich Nietzsche berkata "Terkadang orang tidak ingin mendengar kebenaran, sebab mereka tidak ingin ilusinya hancur."
Ilusi terjadi ketika cara pandang atau persepsi kita menyimpang dari kenyataan. Hal ini menyebabkan kita tidak dapat melihat kebenaran yang sesungguhnya dan tetap menganggap diri kita paling benar dalam segala hal.
Kebenaran hanya ada dalam cara pandang dan pikirannya sendiri, tanpa peduli terhadap pandangan orang lain dan kenyataan yang ada.
Kehidupan umat Israel pada masa Amos juga demikian. Kemapanan dan kenyamanan hidup dalam kekayaan membuat mereka tidak merasa bersalah atas berbagai kejahatan dan penindasan yang dilakukannya.
Peringatan dan hukuman Tuhan melalui lima tulah (kelaparan, kekeringan, hama penyakit, sampar dan kehancuran) tidak membuat mereka bertobat dan kembali kepada Tuhan.
Akhirnya, mereka harus mempertanggungjawabkan perbuatan mereka di hadapan Tuhan.
Israel harus berhadapan langsung dengan Tuhan, Sang Pemberi hidup dan Penguasa alam semesta, yang membentuk gunung, menciptakan angin, serta berkuasa atas gelap dan terang.
Mereka tidak bisa melarikan diri dan harus mempertanggungjawabkan seluruh perbuatan mereka di hadapan Tuhan.
Inilah saatnya ketika Israel menghadapi hukuman terberat dan kebinasaan apabila tidak bertobat.
Kekayaan dan kemapanan hidup terkadang juga membuat kita jatuh dalam kesombongan dan kekerasan hati.
Kita menjadi tidak peka terhadap perjalanan hidup yang kita jalani, bahkan gagal menemukan makna terdalam di balik berbagai peristiwa yang kita alami.
Jangan menunggu sampai Tuhan menegur dan memberikan hukuman terberat dalam hidup kita.
Segeralah bertobat dan kembali kepada Tuhan. Hidup kita akan dipenuhi sukacita dan kerendahan hati untuk melayani Tuhan dan sesama. Amin.
Doa : Ya Tuhan mampukan kami memiliki kesadaran untuk hidup benar dan kesiapan mempertanggungjawabkan setiap perbuatan di hadapan Tuhan dengan hati yang bertobat. Amin.
Editor : Alfianne Lumantow