Pembacaan Alkitab : Amos 5:7-10
TEMA : TUHANLAH SUMBER KEADILAN
"Hai kamu yang mengubah keadilan menjadi racun pahit..." (ay. 1)
“Tumpul ke atas, tajam ke bawah" merupakan sebuah sindiran yang menggambarkan timpangnya penegakan hukum di Indonesia.
Kaum miskin sering menerima hukuman yang berat, sementara orang kaya dan para pejabat kerap mendapatkan hukuman ringan, bahkan tidak jarang lolos.
Jika kondisi ini benar terjadi, tentu hal tersebut sangat menyedihkan dan memprihatinkan.
Namun demikian, kita tetap percaya bahwa Tuhan terus berkarya, dan masih ada para praktisi hukum yang setia menjalankan serta memperjuangkan keadilan bagi bangsa ini.
Dalam kehidupan umat Israel, keadilan seolah-olah hanya menjadi milik orang kaya dan para pejabat, sedangkan orang miskin selalu berada pada posisi yang dirugikan.
Keadilan diputarbalikkan menjadi ipuh atau racun, dan dihempaskan ke tanah. Pintu kota, yang menjadi tempat penegakan keadilan, justru dikuasai oleh para hakim yang terlibat dalam praktik korupsi.
Di tengah situasi yang gelap ini, Amos mengingatkan bahwa masih ada Tuhan yang akan menegakkan keadilan.
Dialah yang berkuasa atas alam semesta, yang mengatur bintang Kartika dan bintang Belantik, yang menguasai siang dan malam, juga memanggil hujan turun sebagai tanda berkat-Nya.
Tuhan juga sanggup menghancurkan kubu dan benteng militer yang paling kuat sekalipun, dan menghukum mereka yang membenci keadilan serta menolak kebenaran.
Hanya Tuhanlah sumber keadilan dalam perjalanan hidup ini. Ketika manusia merasa diperlakukan tidak adil, Tuhan tetap hadir dan mendampingi.
Percayalah bahwa jawaban Tuhan selalu yang terbaik. Di dalam Tuhan Yesus, keadilan itu dinyatakan melalui kehadiran-Nya di dunia untuk mengalahkan kuasa dosa dan kematian, sehingga manusia memperoleh anugerah pengampunan dan keselamatan.
Oleh karena itu, tugas kita adalah mewujudkan kasih sebagai perwujudan keadilan Tuhan dalam kehidupan sehari- hari. Amin.
Doa: Ya Tuhan biarlah kami berani untuk hidup dalam kebenaran dan menjadi pembawa keadilan Tuhan di tengah ketidakadilan dunia. Amin.
Editor : Alfianne Lumantow